Posted in Favorite things, Thoughts, Travel

Tentang Mimpi dan Haji (Bagian 1)

Beberapa tahun belakangan, traveling seakan jadi hal baru yang bisa dianggap seperti sebuah pencapaian, selain hal-hal seperti barang-barang bermerek, entah baju, sepatu, mobil, atau apapun itu. Satu kemudahan seperti harga tiket yang kadang level murahnya kebangetan bisa buat traveling jadi hal yang memungkinkan bagi banyak orang. 

Salah satu hal terbaik yang saya dapat dari orangtua saya adalah frekuensi dan kualitas bepergian yang mereka berikan buat anak-anaknya. Frekuensi yang dimaksud bukan artinya tiap liburan bepergian. Tapi, hampir semua trip keluarga yang mereka berikan, saya ingat semua dengan baik sampai puluhan taun kedepan. 

Mulai dari trip pertama ke Manchester dan beberapa kota di Inggris, road trip keliling pulau Jawa, umroh pertama dan kedua,beberapa trip kecil lain seperti waktu saya S2 pun tetap sama berkesannya. Tapi, di atas semua itu, Haji adalah yang paling berkesan.

Musim haji tahun ini sudah dimulai. Calon Haji kloter awal sudah ada yang sampai di Madinah. Biarpun ngga pergi, setelah Haji di tahun 2012, tiap musim haji saya selalu senang. Liat persiapan orang yang berangkat, liat pengalaman mereka disana lewat instagram. Ikut senang karena melihat orang-orang yang akan menjalani salah satu perjalanan terbaik di hidup mereka.

Saya ngga akan cerita panjang lebar tentang pengalaman Haji seperti disini, tapi mungkin lebih ingin berbagi pertimbangan mengapa Haji akan lebih menyenangkan dan mungkin menguntungkan jika dimasukan sebagai salah satu bucket list traveling selagi muda. 

Setelah umroh pertama waktu usia 19 tahun, saya punya tiga bucket list yang mau saya coret sebelum menikah. S2 di luar negeri, Haji, dan yang ketiga belum bisa disebut karena sedang dan hampir dicoret, jika memungkinkan.

Diantara tiga, dua teratas Alhamdulillah bisa tereksekusi di tahun yang sama. Lulus S2, Haji, dan menikah Allah kasih ketiga hal tersebut dalam waktu enam bulan. Juli, Oktober, Desember.

Persiapannya jelas ngga enam bulan. Haji dimulai ketika selang enam bulan dari umroh pertama, saya dapat kerjaan tetap. Umroh pertama itu ketika Ramadhan 2003, ketika saya semeater 1 kuliah, dan saya jatuh cinta sehabis-habisnya dengan dua kota itu. Sepulang dari sana,  saya memutuskan untuk berhijab dan punya tujuan menabung yang sangat jelas. Setelah empat tahun, selesai kuliah, saya akan pergi haji dulu insya Allah.

Ada alasan kenapa hal sekecil niat itu jadi sangat penting dalam mengerjakan apapun. Saya hanya mengucapkan hal diatas dengan lisan, trus bilang juga ke ibu saya. Tapi, ngga bener-bener tau gimana caranya bisa merealisasikan itu dalam empat tahun, selain nabung dari uang bulanan yang mungkin ngga seberapa. Kalo dengan matematikanya manusia, ngga bakal bisa juga nyampe ke jumlah yang diperlukan untuk naik Haji empat tahun lagi.

Tapi, kaya umur dan jodoh, rejeki itu emang ghaib. Enam bulan setelah umroh, saya dapat kerjaan tetap dengan gaji tiap bulan. Pendapatan saya jadi meningkat drastis. Masih kuliah tingkat 1, kebutuhan ngga banyak, ngga suka belanja juga, saya putusin untuk buka satu rekening khusus (bukan rekening haji) untuk biaya naik haji. Rekening yang cuma boleh masuk tanpa bisa keluar kecuali udah kepepet.

Empat tahun kemudian, tahun 2007, jumlahnya jelas masih jauh dari yang dibutuhkan. Buat dapet nomer porsi juga belum sampe. Tapi, jumlahnya sangat lumayan dan saya putuskan untuk pindahin itu ke rekening khusus haji di salah satu bank. Toh, untuk daftar nanti pun memang harus ada rekening haji di bank. 

Ada jeda kurang lebih 9 bulan dari saya lulus sampai saya dapet pekerjaan kedua yang saya suka dan full time. Jadi, saya punya dua pekerjaan yang dua2nya saya suka, baik pekerjaannya maupun uangnya. Enam bulan setelah melakukan dua pekerjaan senin-sabtu, saya dateng lagi ke bank, masukin sisa untuk genap 20 juta dan dapet nomer porsi.

Mendapatkan nomer porsi bukan semudah dateng ke bank ya. Setelah urusan surat-surat di bank selesai, kita harus urus sendiri ke kanwil depag di domisili kita. Saya ngurus sendiri waktu itu. 

Depag bukan terkenal dengan pelayanannya yang cepat, ramah, apalagi efisien. Saya sempat menghabiskan beberapa hari bolak balik sampai akhirnya semua dokumen beres dan saya dapat prediksi  berangkat di tahun 2012. 
Mengeksekusi mimpi itu perasaan yang benar-benar luar biasa.

Jeda antara 2008-2012 saya gunakan untuk nabung sekaligus ngerjain mimpi yang pertama. Tahun 2009, saya dikasih pekerjaan ringan dengan uang lumayan. Jadi, saya kerja senin-minggu. Cape? Jelas. Seneng? Lebih jelas. 

Bukan sekedar nabung, tapi saya secara rutin beli dolar. Tiap sampe punya uang 10juta saya langsung dateng ke ayumas, beli 1000. Bahkan sempet punya rekening dolar karena kalo disimpen sendiri lumayan (kebanyakan maksudnya? Yaa gitu deh..).

Perkiraan biaya haji di tahun 2012 adalah sekitar 37 juta. Kemungkinan turun naik bisa bervariasi. Ternyata, yang bervariasi bukan hanya biaya, tapi juga waktu berangkat. Tahun 2011, waktu saya masih sekolah, petugas depag menelpon ke rumah kalo nomer porsi saya dan ibu saya masuk ke dalam calon haji tahun itu. 

Perasaan saya benar-benar campur aduk. Segini di depan matanya tapi kok ya pas banget ada hal yang ngga bisa saya tinggalin. Kebetulan ibu saya pas juga lagi di Prancis. Ibu saya sudah naik Haji sebelumnya. Beliau memutuskan ikut lagi dengan niat memperbaiki Hajinya yang pertama. Dan mungkin karena mau nemenin saya.

Akhirnya dengan berat hati saya ajukan bahwa saya ngga bisa berangkat tahun itu dan otomatis nomer kami akan masuk tahun depan. Toh memang awalnya prediksi berangkat adalah 2012.

Saya pergi Haji dengan ONH biasa yang durasinya 40 hari, dengan ikut grup KBIH dari masjid istiqlal. Ada biaya tambahan jika kita ikut KBIH tertentu. Waktu itu biayanya sekitar 4 jutaan. 40 hari mungkin terdengar lama, tapi tidak ketika kita udah sampai sana.

40 hari itu terbagi kurang lebih 27- hari di Mekkah dan 9-10 hari di Madinah dipotong waktu perjalanan. Calon haji yang berangkat pada kloter awal akan ke Madinah dulu baru ke Mekkah. Sedangkan kloter akhir Mekkah dulu baru Madinah.

Secara kenyamanan, kloter awal lebih nyaman. Kita datang waktu masih agak sepi, baik di Mekkah maupun Madinah. Masih bisa menikmati ibadah tanpa desak-desakan. Saya pergi dapat kloter akhir. Dari 50 kloter DKI Jakarta, saya dapat kloter 49. Akhir dari yang paling akhir.

Sejak dulu saya tau, hampir ngga ada hal yang bisa saya dapat dan jalankan dengan mudah di hidup saya. Haji inipun termasuk salah satunya.

Haji diletakan sebagai rukun Islam terakhir dengan syarat bagi yang mampu dengan alasan yang sangat kuat. Butuh seluruh kesiapan baik uang, waktu, fisik, mental, dan kepasrahan yang total.

Pergi haji dengan kloter akhir artinya kita akan sampai di Mekkah dalam keadaan yang sudah sangat padat karena hanya tinggal beberapa hari menjelang wukuf. 

Perjalanan saya dimulai dari Jumat pagi masuk asrama Haji, kemudian bersiap meninggalkan asrama sabtu dini hari, menuju bandara, proses imigrasi, dan berangkat pada sabtu pagi jam enam. Perjalanan Jakarta-Jeddah sekitar 9 jam. 

Dikarenakan tujuan utama adalah Mekkah bukan Madinah, maka niat umroh dan miqotnya sudah dilaksanakan di atas pesawat. Kita tidak boleh masuk Mekkah tanpa salah satu niat melakukan umroh  atau haji. Ada batasan jarak tertentu dimana kita harus sudah berihram dan diberlakukan larangan-larangan ihram. Untuk jamaah haji Indonesia yang datang dari Jakarta, miqot ada dua piliha  yaitu ketika pesawat melewati bukit Yalam-lam atau di bandara Jeddah, sedangkan yang dari Madinah adalah di Bir Ali.

Sangat disarankan bagi perempuan untuk naik Haji dengan laki-laki yang jadi mahram, bisa suami, ayah, atau adik laki-laki. Adik ipar bukan mahram ya. Di antara semua anggota KBIH, hanya saya yang dinterogasi petugas imigrasi cukup lama. 

Kenapa?

Umur saya sih ngga muda (muda banget), tapi dengan badan kecil dan muka yang keliatan kurang meyakinkan ini (ngga sesuai umur maksudnya), petugas imigrasinya jadi meragukan apa saya cukup umur. 

Semua anggota rombongan perempuan yang tanpa didampingi laki-laki mahramnya lewat-lewat aja. Cuma saya yang setengah dibentak-bentak ditanya: where’s your husband? Saya geleng. Father? Geleng juga. Alhamduliah saya masih diberi kemampuan berpikir cepet, ketika ditanya brother, saya langsung panggil ketua rombongan saya yang emang masih muda dan belum kawin.

Waktu itu Alhamdulillah juga belum dalam ihram. Karena kalo saya terpaksa bohong, sangat ngga nyaman. Saya bilang ke petugasnya, kalo saya pergi dengan orang ini. Saya ngga bilang itu kakak saya juga. Tapi, memang benar kan saya pergi dengan ketua rombongan saya. 

Lewat imigrasi, terbitlah antri kamar mandi yang cukup melelahkan. Tapi ngga ada pilihan karena sudah harus niat Ihram dan berihram. Di bandara jeddah hanya untuk transit untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Mekkah melalui jalur darat dengan bis selama kurang lebih 3-4 jam.

Ketika kita memilih naik ONH biasa, ekspektasi kita pun harus terukur. Perjalanan dari Jeddah ke Mekkah bukan seperti perjalanan karya wisata dengan bis besar yang harum dan dingin. Rejeki saya waktu itu adalah bis kecil seperti kopaja ato metro mini. Tanpa AC, kursi sempit, dan supir yang jago ngebut.

Selain merapal kalimat talbiyah, zikir yang paling saya sering ucapkan selama disana adalah Laa Haula wala quwwata illa billah. Tiada daya saya dan kekuatan saya tanpa pertolongan Allah.

Sampai di Mekkah, jangan dibayangkan bisa langsung masuk kamar dan rebahan setelah perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan. Masih ada pembagian kamar dan pengurusan kunci dan hal-hal lain yang minimal baru bisa selesai dalam sejam. 

Satu hal yang paling disyukuri adalah mendapatkan teman sekamar yang baik dan sesuai dengan cara-cara hidup kita. Bayangkan akan tinggal bersama dalam satu kamar selama sebulan dengan orang yang ngga buat kita nyaman. 

Kisah nyata di rombongan saya, dua orang ibu-ibu paruh baya yang hampir tiap hari bermasalah sampai ketua rombongan pun harus turun tangan. Sesimpel masalah yang satu tidak bisa tidur dengan AC, yang lain harus dengan AC, lampu nyala dan mati, dsb. Salah satu dari mereka, alih-alih menghabiskan waktu ke mesjid untuk ibadah-ibadah, terpaksa menghabiskan waktu di kamar karena flu parah karena AC. Sedih bukan?

Urusan kamar beres sudah malam. Tapi, tugas belum tunai. Masih berada dalam keadaan ihram yang artinya masih harus menyelesaikan umroh. Diputuskan untuk menyelesaikan umroh malam itu juga supaya besok bisa istirahat.

Ritual umroh yang harus dilakukan adalah Thawaf, Sa’i dan Tahalul. Perjalanan dari maktab (tempat tinggal) ke Masjidil Haram cukup jauh. Karena waktu itu baru sampai dan belum bisa cari tau tentang apapun, kami serombongan jalan kaki dengan.menggunakan sisa energi yang ada. Jaraknya mungkin sekitar 3-4km ya. Cukup lumayan.

Sensasi melihat Ka’bah dengan mata kepala sendiri itu salah satu hal yang paling tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Biarpun sudah tiga kali ke tempat itu, ngga mengurangi rasa yang ada di dada. Seperti semua lelah yang sudah dijalani dua hari ke belakang tanpa istirahat yang memadai, terbayar lunas ketika tau kita sudah sampai di tujuan kita. Di pusat terkuat hati semua manusia.  

Sepenuh apapun lantai paling bawah, saya tetap memilih Thawaf di sana dibandingkan naik ke lantai-lantai di atas. Selain jarak yang juga lebih jauh, saya mau lihat Ka’bah dengan jelas tiap Thawaf. 

Saya cukup tau diri dengan ukuran badan mini ini, akan sulit bersaing dengan jamaah-jamaah haji negara lain. Jadi saya ngga pernah memaksa untuk ke tengah. Karena semakin dekat Ka’bah, arusnya semakin padat dengan tingkat berdesakan yang tinggi. Saya bisa kehilangan nafas kalo nekat. Ketika Thawaf seiring dengan perputaran kita akan terbawa arus ke tengah. Saya akan membiarkan sampai saya rasa ngga mampu lagi dan mulai keluar. 

Sa’i secara tempat lebih nyaman karena garis lurus dan berAC. Tapi secara jarak, bolak balik Shafa Marwa cukup menguras tenaga. Saya pasti akan ambil jeda untuk duduk dan minum air zam-zam di putaran ke empat.

Saya, ibu saya dan beberapa anggota rombongan menyelesaikan umroh kami pada minggu dini hari dan sampai kembali ke maktab (tetap jalan kaki) jam 3.30 pagi. Waktu itu sudah tumpul rasanya otak. Tidur pun udah ngga bisa.

Karena sudah tinggal 2-3 hari menjelang wukuf dan keadaan Masjidil Haram sudah sangat padat, kami dianjurkan untuk tinggal di maktab sampai tiba waktu wukuf. Karena jelas wukuf dan beberapa hari ke depan adalah inti dari ibadah Haji. Bahkan, pemerintah Saudi mengirimkan SMS khusus untuk menghimbau agar jamaah haji memgurangi frekuensi mengunjungi Masjidil Haram karena kepadatanya dan menganjurkan untuk fokus ke wukuf dalam berapa hari.

Sisa dua hari sebelum wukuf saya mempersiapkan semua keperluan seperti minuman, makanan ringan, baju ganti, handuk, tiker lipet. Selain Wukuf di Arafah, akan ada Mabit di Muzdalifah, lalu dilanjutkan dengan bermalam di Mina selama tiga hari dan kembali ke Mekkah untuk Thawaf, Sai, dan Tahalul. Rangkaian ini dilakukan nonstop selama kurang lebih 4-5 hari. Jadi, ini seperti trip kecil dalam 40 hari tersebut, yang merupakan inti dari semua ibadah yang dilakukan selama 40 hari. Haji yang sebenarnya akan dimulai dalam beberapa hari.

Sepertinya terlalu panjang kalo dijadiin dalam satu tulisan. Saya akan lanjut di post berikutnya di sini

Author:

Pas special, J'ai seulement besoin de beaucoup de privee

One thought on “Tentang Mimpi dan Haji (Bagian 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s