Posted in Favorite things, Thoughts, Travel

Tentang Mimpi dan Haji (Bagian 2)

Lanjutan dari post ini

Sore hari sehari sebelum 9 Dzulhijjah, semua calon jamaah haji bergerak ke Arafah. Kami sudah disuruh siap-siap dari setelah zuhur dan ternyata baru benar-benar berangkat jam 5.30. Sabar adalah salah satu hal yang paling wajib dibawa dalam menjalankan rangkaian ibadah Haji ini. Sabar nunggu, sabar antri, sabar semuanya.

Sampai Arafah, kita akan ditempatkan di tenda-tenda sesuai dengan kelompok negara dan Kloter. Di dalam tenda hanya ada karpet yang bisa digunakan untuk rebahan, tentu berbagi dengan jamaah lain. Kamar mandi di Arafah cukup banyak dan masih bisa saya tolerir.

Wukuf dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai matahari terbenam. Ini seperti berdiam diri, memperbanyak doa dan zikir, tapi juga diselingi sedikit ceramah. Tiap kloter bisa berbeda-beda. Dianjurkan doa sebanyak-banyaknya ketika wukuf karena iu adalah salah satu waktu yang mustajab.

Menjelang maghrib, perjalanan dilanjutkan ke Muzdalifah. Jarak antara Arafah dan Muzdalifah cukup dekat tapi jamaah Indonesia kebanyakan naik bis yang disediakan. Banyak jamaah dari negara lain yang berjalan kaki dari Arafah ke Muzdalifah. Memang yang dicontohkan Rasulullah berjalan kaki, tapi tetap bisa disesuaikan.

Di Muzdalifah hanya bermalam, yang maksudnya adalah kita harus sampai disana sebelum tengah malam, dan lewat tengah malam, kita akan melanjutkan perjalanan ke Mina. Di Muzdalifah ini juga kita harus mengumpulkan batu yang akan digunakan untuk melempar Jumroh di Mina. 

Muzdalifah seperti lapangan besar yang berisi manusia. Buat saya, mungkin ini gambaran paling  nyata ketika nanti kita dikumpulkan di padang Mahsyar. Di bawah langit Muzdalifah, pemandangan lautan manusia ini benar-benar buat saya merinding.

Lewat tengah malam, bis-bis yang akan membawa jamaah ke Mina sudah menunggu. Di sini, seluruh jamaah berbaris menunggu gilirannya naik ke bis. Momen ini buat saya terasa seperti saat kita akan menunggu dihisab. Mungkin agak.sulit dimengerti, tapi coba bayangkan ratusan ribu (ato jutaan?) manusia dari berbagai belahan bumi, berkumpul di satu tempat, mengantri  untuk diangkut ke tujuan berikutnya, tanpa bisa kita bedakan asalnya. Di situ saya merasa kalo ini yang dimaksud semua manusia sama di hadapan Allah. Dengan pakaian ihram yang nyaris ngga berbeda, semua manusia ini benar-benar terlihat sama.

Mina merupakan hal terberat yang saya lewati selama proses ibadah haji. Ini yang akan saya jadikan alasan utama kenapa haji akan lebih baik dilakukan ketika muda.

Di Mina kita akan tinggal beberapa hari untuk melontar jumroh. Kalo wukuf dan mabit di Muzdalifah memang harus dilaksanakan sendiri, melontar jumroh adalah ibadah yang bisa diwakilkan, meskipun tetap di bermalam di Mina. Saya mewakilkan ibu saya karena kondisinya tidak memungkinkan untuk berjalan jauh.

Tempat dari tenda ke  tempat melontar jumroh cukup lumayan jauh. Mungkin sekitar enam kilo bolak balik dan itu dilakukan selama tiga kali dalam tiga hari. Waktu yang paling dianjurkan adalah setelah matahari terbit agak tinggi, sekitar jam 7-8. KBIH saya memilih untuk lebih awal karena mempertimbangkan kondisi jamaahnya yang kebanyakan orang tua yang akan sulit berdesakan dan menahan panas matahari. Kami biasanya melontar sebelum subuh.

Jika menilai hanya dari ritualnya, ngga ada sama sekali yang berat dari Haji. Wukuf hanya berdiam diri duduk dan berdoa. Mabit di Muzdalifah hanya duduk, boleh kalo mau tiduran kaya saya, pake tiker lipet di atas bebatuan, dan jangan lupa mencari batu, Mina hanya bermalam dan melontarkan batu-batu yang kita kumpulkan ke tiga tiang Jumroh. Thawaf hanya berputar mengelilingi Ka’bah, Sa’i hanya berlari kecil dan sebenernya bisa jalan juga sesuai kemampuan, Tahalul hanya menggunting rambut, yang jumlahnya ngga seberapa.

Semua ‘hanya’. Yang membuat hal-hal tersebut cukup berat adalah proses yang harus dilewati untuk melakukannya. Buat saya, pengalaman di Mina cukup menguji kesabaran.

Sejauh-jauhnya perjalanan dari tenda ke tempat Jumroh bolak balik, ngga seberapa dibanding kan apa yang harus dilewati seharian di tenda. Tenda di Mina (yang saya dapat) cukup sesak untuk dibagi dengan jumlah anggota rombongan saya. Masing-masing hanya bisa cukup rebahan dalam posisi terlentang tanpa bisa hadap kanan kiri. Tendanya ada pendingin tapi ngga berpengaruh banyak karena orangnya pun cukup banyak. Cuaca di Mina pun sangat panas. Siang bisa mencapai 45-47 derajat celcius. 

Saya selalu meletakan handuk basah di kepala saya ketika akan ambil wudhu di bawah. Selesai ambil wudhu dan balik ke tenda, handuk sudah kering. Wudhu lima menit bisa bikin handuk basah jadi kering? Tentu tidak.

Jangan bayangkan seperti wudhu di mesjid yang cuma lima menit selesai. Kalo waktu zuhur itu jam 12.00, maka di Mina sebaiknya antri wudhu itu dilakukan dari jam 11.15. Iya, 45 menit. Apalagi kalo ditambah mau buang air kecil dulu. Antri kamar mandi di Mina adalah hal yang paling menyeramkan selama ibadah haji.

Bukan sekedar antrinya, kamar mandinya pun sama menyeramkannya. Kotor, bau, buat yang jijikan dan paling cerewet sama kamar mandi kaya saya, ngga ada yang menyiksa dari ini. Lebih parah lagi, banyak juga jamaah dari negara kita yang yah… sulit juga. Antri segitu panjang, bisa-bisanya nyuci baju di dalem selama 20 menit!

Ini ngebuat yang antri pun ngga sabar, dan melakukan hal yang sama menyeramkannya. Buang air kecil di tempat wudhu. Saya rasanya tiap waktu solat pengen nangis sekali. Sampai tempat wudhunya pun bau pesing. Dan kami harus bertahan di Mina selama tiga hari. Salah satu tiga hari terpanjang di hidup saya.

Kembali ke Mekkah, saya dan rombongan memilih berisirahat dulu dan baru menyelesaikan Thawaf Ifadah dan Sa’i keesokan harinya. Setelah lima hari perjalanan, berdesak-desakan di Masjidil Haram bukan pilihan yang bagus. Kami menyelesaikan Thawaf dan Sa’i keesokan harinya setelah sholat subuh. Saya dan ibu saya memisahkan diri supaya bisa lebih santai. Kami mulai thawaf sekitar jam enam dan baru selesai  sa’i menjelang zuhur. Selama itu karena kondisi yang cukup penuh dan kondisi ibu saya yang mengharuskan kami berjalan lebih lambat dan banyak beristirahat.

Hari-hari selanjutnya adalah liburan full yang hanya diisi dengan makan, tidur, ke mesjid, belanja, jajan, ibadah lain, tidur lagi, dan seterusnya. Paling sama nyuci baju ya . 

Untuk jamaah haji DKI, Pemdanya cukup berbaik hati karena makan siang dan makan malam jamaah hajinya ditanggung. Ini tidak semua. Jamaah haji daerah lain rata-rata entah masak sendiri atau cari makan di luar. Bahkan Bekasi pun tidak dapat makan. 

Selain makan, jamaah haji DKI juga mendapat fasilitas bis khusus yang membawa kita ke Masjidil Haram dari maktab. Tinggal tunjukan kartu pengenal haji, bisa naik. Bis Indonesia juga ada tapi lebih penuh. Bis DKI ini kosong, bersih, dan nyaman. Beberapa kali petugasnya pun mau mengangkut jamaah haji darerah lain karena bisnya masih kosong. Pemberhentian bis DKI ini pun lebih strategis, yaitu di pintu utama Masjidil Haram. Sedangkan bis Indonesia lewat pintu Sa’i di bagian belakang.

Kalo urusan belanja, orang Indonesia emang ngga ada lawan. Seakan-akan uangnya ngga habis-habis,hehe. Karena sudah tiga kali kesana, saya ngga banyak belanja printilan-printilan. Saya dan ibu saya sudah tau mau beli apa dimana. Oleh-oleh parfum dan sajadah ada toko khusus langganan kami di Hilton. Harga sedikit di atas, tapi kualitas dan model jauh dari pasaran. Teman sekamar saya senang sekali waktu dibawa ke Museum. Belanjanya kalap. Bahkan balik lagi sendiri sesudahnya.
———————–

Satu hal yang agak memprihatinkan, meskipun setiap tahun jamaah Indonesia itu yang terbesar, tapi ngga sebanding sama fasilitas yang didapat. Seperti tenda waktu di Mina. Punya jamaah Indonesia itu jauh, panas, dan yah seperti yang saya ceritakan di atas. Waktu saya lewat tendanya Malaysia, duhh, enakk bangett. Deket dari tempat jumroh, dingin, luas, makannya prasmanan, dan saya yakin kamar mandinya ngga separah punya kita. Di Mekkah pun sama, Maktab jamaah Indonesia rata-rata cukup jauh. Saya untuk sampai ke Masjidil Haram kalo naik bis Indonesia harus ganti dua kali. Sedangkan maktab jamaah Malaysia, Brunei, Singapore itu semua bisa ditempuh dengan jalan kaki lima menit. Benar-benar di belakang Masjidil Haram. 

Buat saya ini penting ya. Pengennya pasti selama kurang lebih sebulan di Mekkah bisa memaksimalkan ibadah di Masjidil Haram. Kalo bisa lima waktu semua di Masjid. Bisa thawaf di antara waktu solat. Jarang yang dekat sangat membantu. Jarak maktab saya dan mesjid membuat saya ngga memungkinkan untuk solat lima waktu tiap hari.

Jadwal yang bisa saya efektifkan adalah jadi berangkat sebelum subub untuk Tahajud sekalian nunggu subuh. Setelah subuh saya thawaf sampe waktu dhuha. Setelah dhuha saya pulang untuk beres-beres, nyuci, dan istirahat. Zuhur saya lewatkan. Sebelum Ashar saya brangkat lagi untuk ashar sampai maghrib. Sambil nunggu sambil ngaji atau ngeliatin Ka’bah aja. Setelah maghrib saya pulang. Isya di rumah. Lho, ngga tanggung?

Iya emang tanggung. Tapi, saya udah dari ashar dan cukup cape kalo sampe isya. Setelah isya juga bisnya penuh sekali. Ibu saya pun udah nunggu di Maktab. Ibu saya karena sakit, lebih banyak di Maktab. Dia pasti nunggu saya makan malem. Jadi, itu semaksimal yang bisa saya usahakan dengan jarak maktab yang saya dapat.

Saya sehari-hari ke Masjid kalo ngga sama teman sekamar saya terpaksa sendiri. Supaya ngga kliatan sendiri, saya suka nguntit aja di belakang jamaah yang gerombol. Karena emang ngga nyaman terlihat sendiri disana. Tapi, kalo ngga gitu saya bisa ngga ke mesjid terus. Ketika udah sampai mesjid, udah ngga gitu masalah karena ngga terlihat. Justru sendiri lebih gampang nyelip ke depan cari tempat. Target saya itu tiap solat adalah saya mau lihat Ka’bah. Sebisa mungkin saya akan maju ke depan dimana Ka’bah terlihat dengan jelas. Rugi jauh-jauh cuma liat tembok atau orang.

Waktu shalat Jum’at adalah yang terpadat selama di Mekkah. Saya hanya ikut dua kali. Setelah yang kedua sangat trauma karena hampir kehabisan nafas berdesakan waktu keluar Jumatan. Betul-betul padat dan mengerikan. Saya hampir pingsan kalo ngga ditarik oleb seorang bapak-bapak keluar kerumunan. Berdesakan dengan jamaah Afrika yang tinggi dan besarnya berapa kali lipat saya bukan pengalaman yang menyenangkan.

Oya, memakai alas kaki yang nyaman itu wajib hukumnya kalo naik ONH biasa. Supaya kaki ngga lecet karena harus banyak jalan. Jangan sekali-kali pake sendal jepit kaya mau sholat ke mesjid dekat rumah. Pake yang sol tebel dan nyaman. Crocs dan sejenisnya ngga disarankan. Mahal dikit ngga apa. Buat ibadah juga. Kalo kaki lecet malah ngga bisa ibadah karena ngga bisa jalan. Lebih banyak ruginya.

Sampai tahun 2008-2009, waktu tunggu haji masih sekitar 3-4 tahun dari dapat nomer porsi sampai waktu berangkat, dengan ONH biasa. Kalo pake yang plus bisa tahun itu juga. Mulai 2012, waktu tunggu DKI sudah jadi … 10 tahun. Sekarang terakhir saya dengar sampai 15-16 tahun. Bahkan ONH plus pun pake waktu tunggu sekarang. Mungkin sekitar 5-7 tahun, jelas dengan biaya yang lebih mahal.

Hal ini juga jadi alasan Haji, atau daftar Haji sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Dengan waktu tunggu yang segitu lamanya, sedih bukan kalau kita punya kemudahan dari segi umur dan rejeki tapi ngga pernah sampai kesana untuk Haji. Cuti Haji di Indonesia ngga usah dipusingin, hampir pasti dikasih Haji itu sangat fleksibel dan bisa dinego.

Ketika kita udah punya 25 juta cash, bisa langsung daftar ke bank untuk buka rekening Haji dan langsung urus ke kanwil depag di domisili kita untuk dapat nomer porsi. Berangkat naik ONH plus atau biasa tetap harus dapat nomor porsi dulu. Ngga masalah ketika di antara waktu tunggu kita punya rejeki lebih mau pergi dengan ONH plus supaya berangkat lebih cepat. Juga lebih nyaman harusnya.

Dua puluh lima juta ngga sebanyak dan sesulit itu kalo memang sudah niat. Kaya harga tiket ke Eropa ngga promo naik maskapai yang bagus. Disegerakan ketika kaki masih tegak berdiri dan langkah masih kuat berlari. Urusan jadi berangkat kapan serahkan sama Yang Mengundang. Yang penting kita sudah usahakan apa yang jadi bagian kita.

Semoga hati, rejeki, umur, dan langkah kita dimudahkan untuk menggenapkan rukun Islam yang terakhir ini. 

Selamat berhaji untuk semua jamaah haji yang berangkat tahun ini. Semoga Allah mudahkan selamat sampai kembali ke tanah air dan mendapatkan haji mabrur. Amin.

Author:

Pas special, J'ai seulement besoin de beaucoup de privee

One thought on “Tentang Mimpi dan Haji (Bagian 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s