Posted in Places, Review, Travel

Airport Transfer Ramah Koper (Paris, London, Tokyo)

Ada satu hal yang terlihat sepele tapi dalam prakteknya penting ketika traveling ke luar negeri bersama anak dan keluarga, setidaknya buat saya. Kenapa saya cetak tebal yang bersama anak dan keluarga? Ya karena kalo sendiri ngga ada masalah dan karena belum yang review tentang ini, mungkin bisa bantu yang punya rencana ke tiga kota ini sama keluarga.

Kalau milih Airbnb sudah lebih terstruktur karena ada aplikasi khususnya beserta review dari pengguna langsungnya. Tapi kalo airport transfer ini harus dicari satu-satu.

Asumsi tulisan ini adalah keluarga yang bepergian minimal tiga orang dengan anak kecil, pergi dengan minimal dua koper bagasi dan stroller masih ditambah dengan hand carry cabin. Yang terpenting : mau tetap nyaman walaupun budget pas-pasan😁.

Bepergian dengan Langit membuat saya jadi semakin control freak. Selain tingkat kesabaran yang tipis yang berbanding terbalik dengan tingkat kegelisahan yang tinggi, selalu buat saya nyiapin sampe ke printilan yang kadang ngga penting. Prinsipnya mendingan repot tapi secure.

Salah satu yang jadi perhatian saya adalah kenyamanan pulang pergi ke airport. Pertama dateng ke kota yang kita ngga kenal, ngga ada bayangan dimana letak Airbnbnya, dengan kondisi yang harus geret-geret koper dan barang lain, airport transfer yang nyaman itu membantu sekali. Yang akan saya bahas bukan moda transportasi online ya. Karena kalo dari bandara hampir ngga bisa pesen semacam grab atau uber karena hampir semua punya servis resmi angkutan bandara, seperti di sini aja.

Ini jadi penting karena buat turis rempong tapi duit pas-pasan kaya saya, nyaman penting, uangnya bisa menyesuaikan selama masih logis. Jadi, ini bukan ngebahas dari bandara naik metro/tube/subway/japan rail dan sejenisnya. Itu jelas ngga nyaman, sekali lagi, JIKA kita pergi dengan anak kecil plus stroller dan koper.

Saya akan bahas masing-masing sesuai pengalaman saya ke tiga kota ini.

PARIS

Airport transfer Paris adalah taksi yang berwarna hitam resmi bandara yang sudah menunggu ketika keluar bandara. Tempatnya dimana silahkan ikuti petunjuk atau tanya. Di antara tiga kota ini, buat saya Paris paling juara. Objektif ya, bukan karena saya team Paris garis keras, hehe.

Kenapa saya bilang paling juara? Tarif ke dan dari airport pake taksi apapun di Paris, tarifnya TETAP. Jadi, ngga ada tawar-menawar dan deg-degan melototin argo taksi. Informasi ini sudah saya dapatkan sebelum berangkat dari internet, jadi budgetnya sudah disiapkan dengan pasti.

Paris terbagi dan terbelah dua oleh Sungai Seine dan dikelompokan jadi 20 arrondisement. Inilah yang menentukan tarifnya. Kalo Airbnb yang dipesan ada di right bank atau bagian atas yaitu arrondisement 1,2,3,4,8,9,10,11,12,17,18,19,20 maka tarif ke dan dari bandara adalah 50€. Sedangkan jika kita tinggal di left bank atau bagian bawah antara arrondisement 5,6,7,13,14,15, maka tarifnya adalah 55€.

Saya pergi ke Paris tahun 2016 dan pada saat itu kursnya sekitar Rp 14.500. Jadi kalo dihitung dalam rupiah adalah sekitar 700 ribu lebih.

Mahal?

Ngga sama sekali kalo pergi dengan kondisi yang saya sebutkan di atas.

Saya bandingkan waktu itu dengan naik bus yang tersedia dan berhenti di beberapa titik pusat kota. Tarifnya adalah 17€ per orang. Dikali dua sudah 34€ dan kita masih harus nyambung lagi sampe ke airbnb yang dipesan, entah dengan taksi atau metro atau bus sambil gendong bayi dan koper. Harganya udah berapa tuh keringet dan repotnya, bagus kalo ngga nyasar. Biarpun saya bicara bahasanya, tetap bingung juga kalo ngga ngerti yang dijelaskan.

Tapi, cukup dengan bayar 50€ atau 55€, keluar bandara udah ditunggu, koper masuk bagasi, duduk tenang dan lega sambil senyum-senyum liat pemandangan kota dari balik jendela dan dianter sampe depan pintu Airbnb. Kalo naik kereta bawah tanah mana bisa.

Jadi, kalo pergi sekeluarga atau pun bareng temen yang minimal tiga orang dan tinggal di satu tempat, ngga usah mikir pilih taksi bandaranya Charles de Gaulle. Pulangnya pun dengan taksi biasa tarifnya sama. Ngga usah pusing.

Hidup Paris!

London

Buat London, sepert visanya yang bikin pusing, airport transfernya pun ternyata juga bikin pusing, buat saya. Kenapa? Ya karena budgetnya pas-pasan dan waktu UK trip saya pergi bukan hanya dengan anak kecil tapi juga orang tua. Jadi makin rempong. Apalagi ayah saya tipe yang selalu pergi dengan full service travel. Dari airport ke airbnb naik bis atau tube jelas dicoret.

Taksi hitam London ngga bisa dimasukin ke list karena mahal dan pake argo yang bikin jantungan. Ngga jelas bayarnya brapa sampai di tujuan. Saya suka yang pasti-pasti. Akhirnya hampir berminggu-minggu saya browsing tentang airport transfer dari dan ke Heathrow. Pilihan banyak, tapi lagi-lagi yang sesuai budget saya dikit, hehehe.

Setelah sekian lama akhirnya ketemu satu servis yang masuk ke budget saya dan bisa bayar pake kartu kredit untuk booking. Saya lebih suka pake CC jadi tidak nghabisin cash yang dibawa. Bawa cashnya pas-pasan juga😁.

Waktu itu saya memesan dari Unicorn Airport Transfer. Bisa pesan dari websitenya http://unicorntransfers.co.uk/mobile/. Semua form diisi online dan mudah banget. Kenapa akhirnya milih ini? Karena dapet PP dari dan ke airport kurang dari £100. Kurs waktu itu sekitar 16.500 rupiah. Saya bayar untuk PP £95.

Bayar sekitar Rp 1.500.000 pulang pergi, untuk 4 orang, 6 koper, buat saya murah. Inget ya, ini di eropa yang ngga bisa disamain dengan disini. Harganya kurang lebih sama kan kaya Paris.

Oya, waktu pemesanan kita harus nulis dengan lengkap untuk berapa penumpang dan mereka punya batesan koper yang bisa diangkut. Karena kita ngga bisa milih mobil paling murah kalo kita isi penumpangnya semakin mahal. Jadi mereka sudah menentukan mobil yang sesuai ketika kita mengisi jumlah penumpang. Buat kenyamanan juga ya.

Servisnya oke buat saya. Ketika jemput sudah ditunggu dan ketika mau pulang setengah jam sebelum waktu yamg ditentukan sudah nunggu. Hati-hati dengan waktu yang kita tetapkan. Sekali lagi, ini bukan Indonesia dimana nungguin penumpang beberapa menit adalah hal yang biasa. Buat mereka, ketika kita tulis jam 12.00, bukan jam 12.00 baru sampe, tapi jam 12.00 kurang sudah jalan. Iya, jam 12 kurang. Terserah kurang berapa.

Oya, masalah tipping : Paris dan London saya kasih tip ke supirnya. Paris karena bayar cash jadi saya lebihin, London karena dengan kartu kredit jadi hanya tipnya dengan cash. Semua diterima dengan senyuman.

Tokyo

Pengalaman dua kali ke Paris dan London bikin saya mikir Tokyo pasti gampang. Tapi, emang ya semua itu pasti ada kurang lebih. Jepang yang visanya super simpel ngga kaya UK dan Schengen yang ribet, ternyata airport transfernya jauh lebih ngga nyaman, untuk kondisi yang saya sebutin di atas.

Berminggu-minggu saya ubek-ubek ngga ketemu satu pun airport transfer yang sesuai dengan kantong dan akal saya. Paling murah yang saya temukan adalah 22.000¥. Kurs 1 yen : 130 rupiah, kalo ditotal jadi sekitar dua juta lebih. Hanya SEKALI JALAN.

Ngga sehat kan? Masa ngabisin 4 juta buat taksi. Yang bener aja.

Saya tau Jepang terkenal dengan Japan Railnya. Ada Narita Express juga. Tapi ya itu, ngga bisa berenti depan Airbnb kaya Paris dan London, jelas harus nyambung lagi pake taksi. Iya kalo udah deket, kalo jauh yah, mahal bener dan buang waktu.

Akhirnya karena ngga ada pilihan airport transfer pribadi, mau ga mau ya naik yang bareng. Airport Limousine Bus adalah pilihan yang paling baik buat saya yang nginep di daerah Tokyo Dome. Airport Limousine ini punya rute yang lengkap seluruh Tokyo. Tinggal cari yang paling deket sama penginapan. Bus ini bahkan berhenti di beberapa hotel besar seperti Le Meriden, Tokyo Dome Hotel, Grand Palace, dsb.

Bus ini punya berbagai jurusan, yang satu jurusan itu ada beberapa pemberhentian. Sebagai contoh, saya saya pilih yang ke Ikebukuro. Rute ini berhenti di 7 tempat diantaranya Tokyo Station, Le Meriden, Grand Palace Hotel, sisanya ngga hafal. Bisa refer ke websitenya Airport Limousine Bus. Ini menurut saya paling nyaman karena kalo naik bis koper disimpen di bawah dan ada petugas khusus yang nyusun berdasarkan tujuan tempat kita turun. Ngga perlu ada gotong-gotong koper naik turun tangga subway atau lewat lift.

Tarifnya flat : ¥3100 buat dewasa. Anak di bawah 5 taun gratis tapi dipangku. Kita pilih pangku Langit biar bisa duduk bareng karena formasinya 2-2. (Alesan dari supaya ngga kluar uang lebih). Kalo dikurs harga tiket bis buat 2 orang PP ngga jauh dari kita nyewa mobil di Paris dan London PP. Buat kantong saya, Tokyo ‘mahal’, hehe.

Karena Airbnb yang dipesan dekat dari Tokyo Dome, dan pemberhentian terdekat adalah Tokyo Dome Hotel, jadilah kita dari Tokyo Dome geret-geret koper sambil dorong stroller sampe ke Airbnb. Naik taksi bisa tapi kita ragu-ragu karena kalo naik taksi deket banget. Tinggal nyebrang. Kalo jalan kaki yaa lumayan juga. Tapi, ya sudah dijalanin juga.

Pulangnya kita naik Aiport Limousine Bus lagi dari Tokyo Dome Hotel, tapi dari Airbnbnya kita peseb uber. Untuk jarak sedeket itu kita bayar ¥800.

Di Tokyo, kita ngga kasih tip. Ragu sama baiknya orang Jepang, takut tersinggung dan ngga yakin brapa yang pantes. Selain itu, dari yang saya baca tipping emang ngga lazim di sana.

————————————

Mungkin itu yang bisa dijabarkan. Ngga perlu antipati naik taksi dari dan ke airport kalo bepergian dengan keluarga. Semoga bermanfaat!

Author:

Pas special, J'ai seulement besoin de beaucoup de privee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s