Posted in Review

Terapi Wicara dan Sensori Integrasi di Brawijaya Klinik Kemang

Sebelumnya saya pernah menulis tentang Konsul Tumbuh Kembang di Brawijaya Clinic Kemang dan latar belakangnya.

Kata terapi ini mungkin terdengar kurang menyenangkan ya. Saya pun awalnya sempat ngerasa ngga nyaman. Tapi, semakin banyak baca dan melihat keadaan, akhirnya saya melihat ini sebagai salah satu kekurangan yang dimiliki setiap manusia di antara kelebihan-kelebihan lainnya, dan perlu diperbaiki untuk kualitas hidup yang lebih baik. Terlebih jika memang mampu.

Kami mulai konsul ke Dr. Bernie Andriyani ketika Langit umur 22 bulan karena melihat perkembangan bahasanya yang agak lambat. Konsul pertama disarankan untuk tunggu sebentar lagi menuju 2 tahun. Setelah konsul itu memang kosa kata meningkat pesat sekali, tapi belum dalam kalimat percakapan yang lazim. Setelah itu kami belum konsul lagi dan memutuskan menunggu. Kami menunggu karena anak ini agak di tengah-tengah, bisa berkomunikasi, mengerti instruksi, tapi kalimat kasual sepert halnya orang bicara belum keluar. Misal kalo ingin minum, kalimat seperti “Mah, mau minum” belum terdengar.

Akhirnya setelah lewat tiga tahun dan kami merasa progressnya terlalu sedikit, kami memutuskan konsul lagi. Ternyata Brawijaya Klinik yang di FX Plaza sudah tutup. Praktek dr Bernie jadi ke Brawijaya Klinik Kemang.

Hasil dari konsul Langit disarankan untuk ikut terapi sensori integrasi. Menurut dua dokter yang observasi, kontak mata masih terlalu sebentar dan fokus perlu ditingkatkan. Soal bahasa mereka bilang ini secara kosa kata banyak sekali dan pemahaman bagus, tapi konteks belum bisa. Jadi mungkin lewat sensori integrasi bisa sambil ditingkatkan.

Kami konsul hari Kamis dan langsung mulai hari Jumat. Terapinya dilakukan seminggu dua kali Selasa Jumat dengan dua terapis yang berbeda. Jadwal bisa dipilih yang sesuai dengan jam yang cocok dan kosong.

Kami ambil paket sepuluh kali jadi langsung bayar sekalian di depan. Bisa bayar per datang tapi kena biaya administrasi tiap kedatangan. Sayang juga buat saya. Lagipula, dengan bayar di awal bisa buat lebih berkomitmen untuk selalu datang juga karena ya udah bayar.

Untuk terapinya dikasih slot 1 jam tapi efektifnya sekitar 45-50 menit. Setelah sesi selesai, terapisnya akan menulis di buku terapi dan biasanya ngobrol sedikit dengan orang tua. Untuk terapisnya, ini penilaian dari pengalaman saya, terapis yang hari Selasa lebih menyenangkan dibanding yang Jumat. Orangnya positif sekali, sabar, energik, dan terlihat sangat passionate dalam mengajar. Suka sekali.

Terapis yang Jumat bukan berarti jelek ya, tapi buat menghadapi anak-anak kecil kaya gini, saya lebih nyaman denger terapis hari Selasa. Semua sesi terapi Langit saya anter dan tungguin. Setelah 10 kali kami konsul lagi perkembangannya, belum terlalu signifikan ya karena baru sebentar. Tapi di konsul kedua ini disarankan satu sesi terapi SI diganti denga terapi wicara.

Alhamdulillah karena bisa eliminir satu sesi terapi SI, saya langsung minta disimpan jadwal yang selasa dan jumatnya saya lepas. Alhamdulillah pas banget ada jadwal TW yang kosong hari Selasa juga jadi pas ngga usah dua kali datang. Bensinnya bolak balik juga lumayan 30 km pulang pergi. Memang ada jeda satu jam tapi ngga masalah.

Ruangan terapi SI lebih mirip playground makanya Langit selalu semangat kalo udah SI. Sedangkan ruang TW lebih kaya ruangan kecil dengan 1 lemari berisi mainan, meja dan bangku kecil.

Pada sesi sensori integrasi kegiatannya berupa bermain terstruktur dan punya tujuan tertentu, seperti melatih fokus, koordinasi anggota tubuh, melatih motorik kasar dan halus. Di dalam ruangannya terdapat alat bantu seperti ayunan, tangga panjat, kolam bola, dan berbagai mainan kecil yang membantu kegiatan terapi.

Saya ngga akan menjabarkan detil kegiatan terapi tapi akan cerita tentang progres yang terjadi setelah beberapa sesi terapi. Pertama, fokus yang meningkat. Langit ngga pernah betah duduk diam melakukan sesuatu dalam waktu yang lama. Hal ini juga mungkin yang jadi penyebab kurang suksesnya kelas bayi bermain yang dia ikuti waktu 18 bulan.

Fokus yang meningkat ini saya rasakan waktu anter trial ke beberapa sekolah. Ada satu TK lama dekat rumah yang gaya belajarnya masih duduk diam guru menjelaskan papan tulis dan dia bertahan selama kurang lebih 40 menit di dalam. Tanpa keluar, tanpa lari-lari di dalam kelas dan mencari sesuatu yang lebih menarik.

Dia duduk diem, mendengarkan, waktu dikasih kertas mencoret-coret seadanya, sambil sekali-kali nengok ke belakang ngecek apa saya masih ada. Ketika dia liat saya ada cuma senyum sambil dadah tanpa keluar dari kursinya. Buat saya itu kemajuan besar sekali.

Terapi wicara dilakukan seperti orang ngobrol tapi dengan melatih bagian-bagian fisik mulut dan lidah juga. Biasanya disarankan untuk bawa satu set training brush merek Pigeon untuk menggosok bagian rahang.

Satu hal yang agak menarik, dari awal terapis Langit menjelaskan, masalah Langit bukan di bahasa tapi lebih di artikulasi dan konteks. Langit punya kosa kata yang luas dan pengetahuan yang cukup dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Ini disampaikan oleh terapisnya yang bilang sebelum dia bilang menunjuk sesuatu, Langit sudah mengucapkan terlebih dahulu.

Salah satu yang dilatih di sini adalah artikulasi terutama dalam pengucapan kosa kata bahasa Indonesia yang jelas lebih susah dari bahasa Inggris. Dari yang saya dengar di balik pintu, penekanan huruf sepert ‘L’, ‘B’, ‘M’, ‘N’ dilatih cukup sering. Langit juga dilatih untuk membuka mulut lebih lebar sehinga pengucapannya lebih jelas. Ini juga menjadi salah satu manfaat dari training brush di atas.

Kami sempat istirahat sebulan selama puasa dan mulai lagi tiga minggu lalu. Selama jeda sebulan ini, antara percaya dan ngga, Langit berubah dari pendiem menjadi ngga berenti bicara. Kebanyakan dalam bahasa Inggris. Dia mulai membentuk kalimat, lebih ekspresif dan buat kami heran dan lega sekali.

Satu yang ngga terlalu saya ngerti adalah kenapa bahasa Inggrisnya yang maju, secara pengucapan bagus, konteks tepat, sedangkan bahasa Indonesianya lebih susah. Kami bicara dalam bahasa Indonesia dan memang dia suka sekali sama Peppa Pig. Segitu sukanya sampai beberapa episode favoritnya dia hafal kalimat per kalimat. Satu yang bisa dibilang kelebihannya yaitu listening skillnya cukup bagus. Hamil 9 bulan ngajar musik dan bahasa Inggris ngga yakin saya seberpengaruh itu,hehe.

Rencananya kami masih akan meneruskan dua terapi ini untuk beberapa waktu meskipun kemajuannya sudah terlihat sekali. Ditambah dengan sekolah dan daycare semimggu sekali semoga makin memperkuat kekurangan Langit.

Brawijaya Klinik Kemang ini memang fokusnya di tumbuh kembang ya. Terapsinya pun cukup banyak dan saya lihat jadwalnya setiap hari cukup penuh. Saya nyaman sekali di sini dan ngga ngerasa terbebani tiap anter Langit. Ngga ada perasaan terhakimi karena semua di sana memang sedang berjuang untuk sesuatu.

Satu hal yang menguntungkan buat saya, kebanyakan atau setidaknya tiga jam di sana hampir semua anak yamg datang dianter oleh nannynya. Jadi, hampir ngga ada small talk ngga penting yang harus dihadapi. Penting itu buat saya.

Saya ngga punya komparasi biaya terapi di sini dan tempat lain. Saya pun sempet dateng ke beberapa tempat yang jaraknya lebih deket dari rumah, tapi entah kenapa kurang sreg aja. Tempat yang gelap, terapis yang ngga on-time, buat saya jadi mundur.

Di sini buat saya, harga yang dibayar, jarak yang ditempuh sesuai sama kenyamanan dan progres yang terlihat selama enam bulan ini.

Saya yang awalnya juga terasa berat nyetir Kalimalang-Kemang, apalagi abis Pak Dokter tugas di Kalimantan, akhirnya bisa lebih santai dan menikmati. Kurangnya Langit pasti ada salah saya juga dan memperbaikinya juga tanggung jawab saya. Bisa dapet tempat yang baik dengan orang-orang yang baik lebih dari cukup buat saya.

Keadaan Langit ini justru buat saya belajar lebih banyak. Baca lebih sering, cari tau dan akhirnya punya ilmu baru. Buat ibu yang males kaya saya mungkin perlu dipaksa dengan keadaan seperti ini. Males literal atau pun seperti yang saya bahas.

Saya pikir jadi orang tua ini ngga akan lebih mudah seiring umur anak bertambah. Selesai dengan satu hal, hal lain akan datang lagi. Saya percaya selalu ada jalan keluar, cuma percaya juga kalo hadapinnya ngga pernah mudah.

Semoga semua orang tua selalu diberi kekuatan untuk menghadapi semua yang harus dihadapi dan emoga bermanfaat kalo sedang ada yang mencari tempat konsultasi dan terapi tumbuh kembang ya!

Author:

Pas special, J'ai seulement besoin de beaucoup de privee

11 thoughts on “Terapi Wicara dan Sensori Integrasi di Brawijaya Klinik Kemang

  1. Hello there, thank you for the review on Brawijaya clinic. I was thinking to bring my son there too. If you don’t mind what was the diagnosis from Dr Bernie and what’s the relation between speech and sensory integration therapy?

  2. Salam kenal, saya andre, dari ambon. Saya punya anak cowok, skrg berumur 2 tahun 3bulan, tp masih belum bisa bicara dengan jelas. Saya ingin meminta berbagi pengalaman dengan arlanadya, boleh kah?

    Terima kasih

  3. Selamat malam mba. Nama saya arlina, anak saya 23 bulan dan belum lancar berbicara (lebih banyak ngoceh). Saat ini saya sedang mencari dokter tumbuh kembang anak yang memang sesuai dgn masalah anak saya. Kalo boleh saya bisa sharing dgn mba? Saya mau tanya2 soal terapinya mba. Terimankasih mba. Ini email saya mba oktavianialin@gmail.com
    Terima kasi banyak mba

  4. Selamat malam mba. Nama saya arlina, anak saya 23 bulan dan belum lancar berbicara (lebih banyak ngoceh). Saat ini saya sedang mencari dokter tumbuh kembang anak yang memang sesuai dgn masalah anak saya. Kalo boleh saya bisa sharing dgn mba? Saya mau tanya2 soal terapinya mba. Terimankasih mba. Ini email saya mba oktavianialin@gmail.com
    Terima kasi banyak mba

  5. Hai mba, thanks for sharing. Mau tanya, dl terapi SI dan Wicaranya dengan siapa ya? Bisa contact via email kah? Tks banyak sblmnya

    1. Halo. Boleh mbak Sekar drop emailnya di sini nanti saya balas untuk pertanyaannya ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s