Posted in Places, Review, Travel

Memilih dan Pengalaman Menggunakan AirBnb di Luar Negeri

Beberapa waktu lalu sempat baca ada seseorang yang tanya pengalaman pake AirBnb karena sama sekali belum pernah dan bingung bagaimana cara memilihnya. Saya baru sadar kalau AirBnb masih kurang meyakinkan buat sebagian besar orang sebagai tempat menginap kalo bepergian. Memang hotel jelas lebih aman dan terpercaya, apalagi ke tempat yang kita pun ngga familiar. Lebih praktis dan ngga ribet juga. Kalo hotel yang udah punya nama, selama cocok harganya, beres.

Empat kali memakai jasa AirBnb di luar negeri dan belum pernah sekalipun di dalam negeri. Untuk liburan domestik, saya masih team hotel karena ya bisa disesuaikan sama budget dan ngga perlu banyak beres-beres, buat saya.

Sedangkan kalo ke luar negeri dengan budget ketat, hotel jelas di luar pilihan. Buat saya, AirBnb ini salah satu ide jenius. Liburan jauh dari rumah tapi seperti punya rumah untuk pulang setelah seharian jalan. Penting buat orang rumahan (kaya saya).

Pengalaman menggunakan AirBnb di Paris, London, Manchester, dan Tokyo, alhamdulillah semuanya aman, menyenangkan, dan sesuai budget. Ketika pencarian Airbnb dimulai, beberapa filter yang pasti saya tetapkan :

1. Seluruh apartemen (Entire place)

Karena selalu pergi sekeluarga, berbagi dengan hostnya ngga akan jadi pilihan. Pergi sendiri juga ngga bakal milih sharing sih😀.

Semua AirBnb yang pernah dipesan di Paris, London, Tokyo, dan Manchester adalah seluruh apartemen.

2. Harga per malam.

Kedua, jelas harga. Titik bulat yang menunjukkan range harga jelas langsung digeser sekiri mungkin buat traveler budget pas-pasan kaya saya sampai batas ketersediaan tempat. Kalo ngga dapat, terpaksa geser ke kanan. Sedikit.

Kita bisa set berapa harga per malam sesuai budget yang ditetapkan. Tentu dengan konsekuensi ya. Semakin murah, pilihan semakin terbatas dan jelas ada harga ada rupa. Biasanya kompensasi lain untuk harga adalah lokasi. Semakin dekat ke pusat kota biasanya semakin mahal. Begitu pun sebaliknya.

  • Pengalaman

Di Paris tinggal di daerah Boulevard Saint Germaine di 5th arrondisement, dekat dari Sorbonne dan bisa jalan kaki ke Pantheon, Notre Dame, lima belas menit dari Jardin des Luxembourg, studio mini 2 tempat tidur di lantai 6 disewa seharga Rp 850.000.

Di London tinggal agak jauh dari pusat kota karena nyerah nyari yang harganya di bawah sejuta/malam ngga dapet-dapet. Apartemen ini 2 kamar, bisa early check in, late check out, foto oke, host responsif.

Akhirnya dapet di harga Rp 1.600.000 per malem di daerah Angel Islington. Ada bis langsung ke King’s Cross dan London Bridge. Apartemennya nyaman sekali, lengkap dapurnya, bersih. View dari lantai 7 bisa liat The Shards dan kalo malam bagus banget.

Di Manchester seperti di London juga sewa flat 2 kamar yang letaknya di lantai dasar dan 15 menit dari Manchester Picadilly. Harganya Rp 1.000.000/malam.

Inggris emang mahal ya. Cuma kalo dibandingin hotel buat saya jadi ngga mahal. Karena ya itu, kenyamanan AirBnb yang punya dapur lengkap dan bisa masak sendiri hotel ngga punya.

Di Tokyo sewa studio kecil di daerah Bunkyo-ku tepat di depan Tokyo Dome. Bukan yang populer turis juga tapi buat kita oke karena deket ke subway, ke playground, supermarket, Tokyo Dome yang asik buat nongkrong, dan jalan utama. Harga sewa Rp 550.000/malam.

Oya, di AirBnb harga per malam juga dipengaruhi oleh banyaknya tamu yang nginep ya. Masukin 1 orang atau lebih harga per malamnya berbeda.

3. Peraturan Check in/Check Out

Salah satu hal yang mungkin buat orang lain ngga penting tapi buat saya sangat penting adalah fleksibikitas cek-in dan cek-out,bahkan lebih penting dari lokasi. Buat saya ini yang buat AirBnb punya keunggulan dibanding hotel yang hampir pasti strict dengan waktu masuk dan keluar.

Kalo bepergian ke luar negeri saya sebisa mungkin cari jam penerbangan bukan sesuai jam tidur Langit tapi justru yang waktu tiba di kota tersebut sesuai dengan jam cek in Airbnb yang dipesan. Tapi, karena seringnya agak sulit dan pasti berurusan juga sama harga tiket, saya lebih milih kirim pesan ke host untuk tanya apa mereka mengizinkan early check in atau late check out.

Setelah belasan jam di pesawat, hal yang paling kita butuh ya tempat istirahat yang bener. Badan lengket, mata ngantuk, laper, ga ada lagi tenaga buat luntang-lantung geret-geret kopet kesana kemari sambil nunggu jam cek in. Dan buat traveler rempong kaya saya yang selalu bawa makanan juga dari rumah, pengennya sesegera mungkin ketemu kulkas. Di hotel luar, ngga semuanya ada kulkas, tapi AirBnb pasti punya dan biasanya kulkas yang oke. Nah kan, jadi kemana-kemana.

Kembali lagi masalah cek-in dan cek-out. Selain early cek-in, atau sebaliknya, penerbangan pulang masih malam, tapi kita sudah harus keluar dari pagi. Bawa koper kesana kemari, atau nunggu di bandara berjam-jam itu salah satu yang paling saya hindari. Pergi sama anak kecil akan beda tantangannya. Orang dewasa aja bete kalo lelah apalagi anak-anak.

Makanya, filter waktu check in check out selalu saya set ketika pilih airbnb. Kalo hostnya bilang ngga bisa ya udah, cari lagi sampe dapet. Dan alhamdulillah, selalu dapet. Ngga perlu buru-buru. Tunggu.

  • Pengalaman

Di Paris kami rekues early check-in dan late check out karena sudah sampai Paris jam 10.00 dan pesawat pulang baru jam 18.30. Alhamdulillah dapet host yang baik tanpa biaya tambahan apapun. Di London rekues untuk early check in aja. Sedangkan di Tokyo dan Manchester kita ngga ada masalah.

Jangan salah ya, nemu yang bisa early cek-in dan cek out ini ngga gampang. Jadi harus ketemu paling ngga yang sehari sebelum kita dateng dan ditanggal kita cek out juga kosong. Jadi dapet yang bisa seperti ini pun setelah cari-cari sampe pusing dan setelah beberapa kali penolakan. Tapi ya itu, ngga apa-apa. Selama sabar dan usaha cari terus, percaya pasti ada. Kaya jodoh.

Di Paris dan London, check in dan check out dilakukan dengan host atau orang yang ditugaskan mengurus apartemen. Jadi beneran ketemu dengan orang langsung. Sedangkan di Manchester dan Tokyo dilakukan self-check in. Jadi setelah konfirm dan dua minggu sebelum kedatangan, kita dikirimkan buku panduan via email dan cara check innya. Host Tokyo detil sekali menjelaskan berbagai hal di buku panduan. Sampai cara memisahkan sampah pun ada!

4. Lokasi

Ini erat hubungannya sama poin ke dua. Semakin populer tempatnya biasanya semakin mahal. Kalopun ada yang murah biasanya ya apartemennya juga menyesuaikan.

Lokasi juga penting kalau ada atraksi atau yang memang ingin dikunjungi dan kemudahan akses transportasi. Misalnya dekat dengan halte bis atau stasiun subway/metro. Tapi buat saya lokasi itu bisa diatur. Yg penting sesuai sama budget dan bisa cek in fleksibel.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas :

  • Paris di Boulevard Saint Germaine (left bank, 5th arrondissement)
  • London di daerah Islington, di North kalo liat dari kodeposnya.
  • Manchester di Aquarius Street, 15 menit dari Picadilly, bisa jalan kaki ke University of Manchester.
  • Tokyo di daerah Bunkyo-ku dekat Tokyo Dome. Subway terdekat Korakuen Station.

5. Foto dan petunjuk praktis

Nah, ini juga penting. Saya hampir selalu pilih airbnb yang nyantumin foto lebih dari 10. Makin banyak dan detil yang dicantumkan semakin meyakinkan. Apalagi kalo foto apartemennya bagus, trus dikasih juga gambaran gimana cara sampe ke apartemen dari bandara berikut alat transportasi umum yang bisa digunakan selain taksi tentunya.

Foto memang terkadang beda dari aslinya. Tapi ngga mungkin beda 100% juga. Jadi, semakin banyak dan bagus fotonya menurut saya semakin aman karena berarti hostnya niat.

  • Paris mencantunkan 15 foto tapi sudah lebih dari cukup karena memang kecil
  • London mencantumkan 35 foto kalo saya ngga salah ingat.
  • Manchester hanya 12 tapi cukup jelas.
  • Tokyo mencantumkan 49 foto.

6. Review

Setelah harga cocok, lokasi oke, foto meyakinkan, sebelum akhirnya ke langkah ke tujuh, baca review rumah tersebut wajib dilakukan. Kalo hotel, hampir ngga pernah baca review, tapi kalo AirBnb wajib.

Oya, AirBnb punya badge Superhost buat rumah yang memang sudah banyak digunakan dan mendapat review bagus dari customernya. Empat kali saya pergi, ngga pernah pilih yang superhost karena biasanya ngga fleksibel cek-in. Mereka biasanya full booked, jadi ngga memungkinkan untuk kita cek in atau cek out lebih awal atau akhir.

Iya, sepenting itu fleksibel cek-in buat saya.

Empat kali di empat tempat yang berbeda reviewnya pun bukan yang sampe puluhan dan ratusan, hanya sekitar delapan, sebelas, paling banyak dua puluh. Satu hal yang jelas, semua reviewnya baik, dan sangat sedikit review yang ada “the host canceled this booking”. Host bisa membatalkan booking dengan atau tanpa persetujuan kita.

7. Mengirim pesan kepada host

Nah, kalo enam hal itu udah jelas, atau misalnya semuanya udah sreg, tapi fleksibel cek-in masih belum jelas, biasanya hal terakhir sebelum saya tekan ‘book’ adalah mengirim pesan kepada hostnya.

Meskipun bisa saja langsung pesan, tapi saya lebih suka dan pas kalo sebelumnya memperkenalkan diri dulu sekaligus ‘melihat’ respon hostnya. Biasanya di dalam pesan yang dikirimkan saya kenalkan nama, asal kota dan bilang kalo saya tertarik untuk memakai tempat mereka di tanggal yang ditentukan.

Saya juga menjelaskan dengan siapa saja saya akan datang. Oya, ngga semua rumah itu mengizinkan anak-anak ya, jadi kalau bawa anak terutama di bawah 12 tahun, sebaiknya dijelaskan.

Lalu kalo seandainya saya punya pertanyaan saya tanyakan dibawahnya sepertu ketersediaan alat dapur dan ya itu apakah memungkinkan untuk fleksibel cek-in. Bagusnya di AirBnb ini, mereka kasih respon rate buat setiap host. Jadi kita bisa kira-kira kecepatan pesan kita dibalas. Ada yang bahkan ngga balas sama sekali. Ada yang ketika tau bawa anak menolak. Dan ngga perlu sedih, cuma perlu cari lebih banyak. Setelah empat kali pakai, saya yakin, kita akan nemu sesuai dengan yang kita mau, jadi ngga perlu buru-buru.

8. Self-room service

Ngga bisa nemu kata yang pas buat artiin ini. Cuma di AirBnb karena kita menyewa rumah orang jadi memang sebaiknya kita bantu jaga kebersihan dan kerapihannya. Buat sebagian orang emang mungkin ngga pas karena liburan jauh-jauh musti beres-beres (alesan yang sama yang saya pake kalo liburan domestik pilih hotel).

Saya hampir selalu pilih yang studio supaya semakin kecil semakin sedikit area beres-beresnya dan saya ngga akan milih rumah yang banyak printilan kecil-kecil mengingat pergi sama anak. Pokoknya cukup yang basic ada. Selama ini kita selalu bagi tugas siapa ngerjain apa. Jadi soal beres-beres, cuci piring, dsb ngga ada masalah. Ngga banyak juga.

Buat tipe orang yang kebanyakan mikir dan pertimbangan kaya saya, pencarian AirBnb ini seperti kesenangan sekaligus penyiksaan terhadap diri sendiri. Cari dengan berbagai tempat, naikin filter budget dikit-dikit, karena berdasarkan pengalaman, dengan kata kunci tempat yang sama, rumah yang keluar di daftar bisa berbeda. Makanya memang ngga perlu buru-buru. Rumah yang menjadi kandidat pilihan bisa kita tandai dengan simbol ❤ dan otomatis akan masuk ke wish list. Harganya juga bisa berubah lho. Memang ngga sebanyak itu, tapi kalo bisa dapet beberapa dolar lebih murah kenapa ngga, hehe.

Semoga bisa bantu sebagai pertimbangan memakai AirBnb ya!

Tertanda,

Customer yang sangat puas menggunakan AirBnb.

Author:

Pas special, J'ai seulement besoin de beaucoup de privee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s