Posted in Review

Langit Senja di Live on Board Labuan Bajo bersama Indahnesia

Saya ngga terlalu inget apa yang ada di kepala waktu mutusin beli tiket ini pas GOTF taun lalu karena jelas bukan tipe trip saya, meskipun ini tipenya Pak Dokter banget. Ngga yakin juga Langit bakal suka. Tapi mungkin pikir gantian dulu kali ya. Lagian, masa Langit ke creme de la cremenya eropa aja udah masa ke salah satu bagian terbaik Indonesia ngga dicoba. Waktu itu juga mikirnya pengen coba naik garuda lagi abis terakhir di tahun 2000. Mumpung promo. Katanya kan udah banyak berubah. Eh, ternyata ya ngga banyak juga sih. Meskipun makanannya cukup enak, reschedule jadwal sendiri itu ngga oke. Tapi, ya sudah, wajar satu trip ngga semuanya lancar. Masih bisa diterima.

Bagian lainnya alhamdulillah semua lancar bahkan di atas ekspektasi. Semua keriuhan dan ‘berisik’nya bulan Januari dibayar lunas dengan semua ketenangan di trip ini. Memang pilih privat trip dari awal karena selain pergi hari kerja, basa basi sama orang ngga dikenal adalah hal terakhir yang saya pengen. Tapi ternyata beneran dikasih privat trip sampe ke detil terkecil.

Kami hampir ngga pernah pergi dengan travel, tapi karena ini trip medannya kita ngga ngerti dan memang harus ada yang mendampingi dan INDAHNESIA adalah travel partner yang sangat menyenangkan. Meskipun kita booking hotel pulang pergi sendiri, dari bandara sampe ke bandara lagi kita dianter jemput semua. Servis yang sangat memuaskan.

Tour operator ini sangat direkomendasikan kalo seandainya tertarik buat ke Labuan Bajo sama keluarga atau anak. Meskipun trip privat memang sedikit lebih mahal dibandingkan open trip, tapi lebih nyaman juga. Kalo sekeluarga yang lebih banyak bisa lebih murah juga saya rasa. Kapal saya yang kemarin bisa untuk 8 orang. Jadi kalo misalkan 2 keluarga ikut dengan 1 atau 2 anak cukup oke. Bawa anak paling aman mungkin seusia Langit ya. Kalo yang lebih kecil takut agak susah awasinnya. Tapi ya kalo ada cukup orang buat jaga dan orangtuanya cukup pede, coba aja, hehehe.

Di kapal cuma ada kita bertiga dan enam orang kru kapal. Bebas mau nongkrong dimana sesuka hati ngga perlu basa-basi. Treking dan main di Pulau Kelor ngga ada orang, ke Taman Nasional Komodo cuma berlima sama rangernya, main di Pink Beach cuma berempat sama guidenya, treking di Pulau Padar pas masih sepi, sampe terakhir ke Kanawa pun semua serasa pantai pribadi. Ini karena memang lagi off season buat mengunjungi Labuan Bajo. Yang kaya gini tipe trip saya banget.

Rejeki waktu traveling itu buat saya ada tiga : sehat, ketemu orang yang tepat dan makanan yang enak. Alhamdulillah, di trip ini kami dapet semuanya. Meskipun saya dan Langit masih agak batuk dan pilek, tapi ngga sampe menghalangi buat melakukan semua kegiatan trip ini. Dari dasar laut ke puncak gunung, ngga ada yang kita skip. Ngeluh cape, panas dan ngeri sih pasti. Saya ya, bukan Langit.

Entah ini karena kami pergi dengan privat trip atau ngga, tapi enam kru yang pergi dengan kami semuanya oke. Semuanya benar-benar melayani dengan sepenuh hati. Tapi kita juga bukan tipe yang banyak mau dan rewel juga sih, hehehe. Tour guide yang selalu stand by, jaga Langit banget. Treking di Kelor sama Pulau Padar itu Langit naik ke puncak sambil di gendong belakang sama mereka, jadi mama papanya bisa konsentrasi jalan dengan lambat sambil tiap 5 menit istirahat ambil nafas. Apalagi dengan kondisi trek yang cukup mengerikan buat saya. Ngga kebayang kalo harus ngawasin Langit juga.

Lalu makanan. Dari awal Pak dokter udah wanti-wanti kalo jangan berharap banyak, apalagi ini cuma di dapur kapal. Tapi ternyata, bukan dapurnya yang penting tapi siapa yang ada di dapur. Berlayar dengan kita, satu chef yang ternyata mantan chef hotel. Bukan sekedar chef hotel tapi juga chef yang menurut kita passionate sekali. Semua masakannya itu enak dan bahkan diplating dengan rapi. Padahal ya cuma masakin buat dua orang gini. Langit ngga usah dihitung, hehe. Menunya itu ngga pernah sama selama kita makan di kapal dan selalu bervariasi. Langit yang suka makanan berkuah selalu disediakan satu menu berkuah yang bening.

Dua kali sarapan yang pertama bubur ayam yang saya makan 1,5 piring dan hari kedua bubur jagung jamur dengan roti yang creamynya pas banget. Makan siang dan makan malam pasti tersedia ikan, ayam dan daging. Sup ikannya enak, ayam goreng enak, ikan gorengnya enak, sup iga, rendang, capcay, bener-bener serasa di rumah. Belum snack sorenya. Hari pertama pisang goreng coklat keju yang enak banget dan hari kedua snack kita bahkan dianter langsung dari kapal ke pantai pake perahu kecil. Jus mangga dan roti nougat coklat keju. Saya terkesan sekali.

Kami menginap di kapal selama 3 hari 2 malam dan menurut saya itu pas sekali buat kami yang pergi dengan anak-anak. Komposisi main di pantai, treking ke gunung dan istirahat di kapal pas banget. Santai tapi semua dapet. Kapal kami ukuran sedang ada dua kamar. Kamar untuk kami ada kamar mandi di dalam dengan tempat tidur bunk bed kapasitas 4 orang. Ada ACnya juga. Hal yang paling penting : kamarnya mandi kecil tapi bersih dan semua berfungsi dengan baik. Itu lebih dari cukup buat saya.

Kalo ke Bajo dan akan live on board itu biasanya dimulai tiap jam 9 pagi. Jadi kalo kita dateng setelahnya berarti dimulai besok harinya. Karena kami baru sampai Bajo jam 4 sore, maka harus nginap dulu semalam di kota sebelum naik kapal. Saya booking hotel di Sunset Hill. Awalnya hanya semalam namun karena perubahan kurang menyenangkan dari Garuda, jadi kami menginap satu malam lagi sebelum pulang. Sebenarnya blessing in disguise juga dengan perubahan ini. Itinerary hari ketiga jadi bisa dijalani semua tanpa buru-buru karena ngga perlu ngejar apapun.

Sunset hill hotel cukup oke dengan harga sekitar 600 ribu per malam termasuk sarapan. Sarapannya bukan kaya buffet ya, pilihannya hanya nasi goreng dan roti telur dengan selesai plus teh atau kopi tapi buat kami cukup dan rasanya enak. Kamarnya cukup luas dan bersih, plus ada balkon yang menghadap ke laut. Viewnya oke. Sesuai sama yang ada di web pemesanan. Stafnya ramah dan cukup membantu semua yang kita perlu seperti sarapan yang lebih awal karena kita harus ke bandara pagi-pagi. Secara lokasi, Sunset Hill bukan di kota tapi dekat sekali dari bandara. Ngga sampe lima menit naik mobil. Saya sengaja pilih ini karena awalnya ngga tau kalo akan diantar jemput. Jadi kalopun sendiri, naik taksi bisa ngga terlalu mahal.

Secara keseluruhan, trip yang bukan saya banget ini berkesan sekali. Bagian timur Indonesia itu memang selalu lebih dari bagian lain manapun di negara ini untuk tiga hal : alam, makanan dan orang-orangnya. Semua menyenangkan.

Alhamdulillah.

Author:

Pas special, J'ai seulement besoin de beaucoup de privee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s