Posted in Places, Travel

Pelajaran dan Perjalanan Akhir Musim Dingin ke Edinburgh-Scottish Highlands (Bagian II)

Lanjut dari bagian 1

Besoknya Senin pagi, kita keluar airbnb jam 9.20 dan udah pesen uber buat ke rental mobilnya. Perut saya udah mendingan meskipun masih ngga nyaman. Kita sempat nunggu agak lama sampai mobilnya siap.

Mobil yang kita dapet adalah Nissan Juke yang ternyata oke dan nyaman. Dalam bayangan saya mobil rentalnya akan seperti mobil tua yang sudah agak lusuh. Tapi begitu liat bersih, nyaman, dan kaya mobil baru, seneng banget.

#3 : ketika jalan-jalan, ekspektasi penting buat kenyamanan hati.

Kita berangkat dari Edinburgh jam 10 lewat sedikit. Keluar sedikit dari kotanya, lanskap pemandangannya sudah langsung berubah. Setelah jalan sekitar 40 menit kita stop di pemberhentian pertama. Sebuah toko es krim home made dan produk peternakan di pinggir jalan.










Es krim habis kita lanjut lagi dan berhenti di Luss Loch Lomond. Loch Lomond memang ngga seterkenal Loch Ness, tapi ngga rugi berhenti. Di ujung jalan menuju danau, ada satu toko souvenir kecil yang barangnya lebih unik dengan harga yang sesuai. Di sini akhirnya kita beli sedikit oleh-oleh.

Loch Lomondnya sendiri waktu kita dateng hujan lumayan deras,tapi karena cuaca di Skotland ini moody sekali, dalam beberapa menit tiba-tiba cerah lagi.





Dari Loch Lomond kita masih berhenti di banyak tempat lagi buat pipis dan foto. Pemandangan di luar jendela terlalu bagus buat dilewatkan.  Lanskap pemandangan menuju Glen Coe ini bergunung-gunung yang sebagian besar puncaknya masih tetutup es. Apa yang dilihat dari balik jendela ngga bisa sepenuhnya ditangkap kamera hp sederhana.



Kita sempat berhenti di rest area buat ke kamar mandi dan beli instan couscous dan tuna pedas di dalam cup. Buat makanan instan rasanya cukup lumayan. Setelah itu, langsung menuju penginapan karena sudah mulai gelap.

Kita sampai sekitar jam setengah enam. Strassynt guest house ini penginapan yang dijalankan oleh keluarga kecil. Kita dibukakan pintu langsung oleh Neil yang punya rumah. Meskipun kecil tapi kamarnya bersih, nyaman, kamar mandi juga cukup luas. Kita sempet numpang makan malem di ruang keluarganya. Selain bawa makanan, juga sempet beli makanan di Co-Op, minimarket  yang ada di belakang guest house.

Sebelum kita naik, Neil minta kita buat pilih breakfast yang kita mau untuk besok pagi. Pilihannya ngga banyak dan standar. Tapi lebih baik daripada ngga ada sama sekali.



Salah satu hal yang mungkin beda sama orang lain adalah pergi kemanapun kita hampir ngga pernah keluar lagi abis maghrib, dan kita selalu bangun dan sarapan kecil sebelum subuh. Setidaknya beberapa kali trip keluar, kita selalu jalan paling lambat jam 8 dan maghrib udah di rumah. Jam 9 udah tidur. Lama-lama udah jadi kebiasaan.

Di sini pun sama dengan banyak alesan yang valid. Ini desa kecil, gelap, dingin, dan ngga ada apapun juga yang bisa diliat. Jadi setelah check in, ngga kemana-mana lagi selain makan malam di ruang keluarga sambil ngobrol sebentar dengan hostnya.Besok pagi sebelum jam 7, kita udah keluar dan jalan-jalan di sekitar penginapan. Udara dingin dan berangin ditahan-tahanin karena pemandangan di semua sisi susah buat dilewatkan. Setelah sejam, kita kembali ke penginapan buat sarapan.



Sarapan yang disediakan adalah menu yang sudah dipilih malamnya. Standar aja, tapi enak. Saya pesen omlet, pancake buat Langit, dan smoked salmon bagel buat Pak Dokter. Buah, yoghurt, dan sereal juga tersedia. Selesai sarapan, kita langsung mandi dan beres-beres untuk cek out dan lanjut jalan. Setelah cek out dan taro koper di mobil, kita lanjut jalan-jalan lagi di sekitar penginapan. Tujuan utama  danau di sebrang jalan. Cuaca waktu itu hujan, angin lumayan, tangan beku. Semangat aja yang tetep 45 dengan dalih kapan lagi.

Setelah puas hujan-hujanan, kita kembali ke mobil dan itinerary hari kedua dimulai. Tujuan akhir hari kedua adalah Fort Augustus. Di Fort Augustus ada danau Loch Ness yang terkenal. Loch sendiri artinya lake. Sebelum Fort Augustus, kita sempat berhenti buat tracking sederhana di salah satu forest trail. Tracknya antara ringan-sedang. Lumayan juga buat olahraga dan suasananya juga tenang dan sepi.
Selesai tracking, kita terus ngga berhenti lagi sampai Fort Augustus. Sampai sana sekitar jam 2. Waktu sampai, ada cruise Loch Ness yang siap berangkat. Tadinya mau naik, tapi udah telat dan ternyata itu kapal terakhir. Ya sudah, jadi kita makan siang dulu dan  jalan-jalan sambil nunggu waktunya check in jam 4 sore. Pemandangan sekitar Loch Ness waktu itu pas banget dengan cerita-cerita monster yang didenger. Kabut, mendung, hujan, bahkan pas makan siang sempet hujan dan salju sebentar.

Cukup salut sih sama negara ini yang bisa menjual pariwisatanya berdasarkan sesuatu yang fiktif dan absurd dan dibeli secara masif. Karena winter mungkin ngga terlalu rame, tapi pemandangan dari danau Loch Ness dan suasananya itu tenang dan relaxing sekali.





Ngga ada yang lebih moody dari cuaca Skotland selama road trip ini. Setelah jam 4 cek in, tiba-tiba cuaca jadi cerah lagi. Tapi saya udah terlalu lelah buat bungkus diri dengan semua jaket tebel, jadi waktu Pak Dokter mutusin jalan lagi, saya lebih pilih tinggal di penginapan.

Besok paginya, kita cek out jam 9 dan sempetin buat nengok Loch Ness sekali lagi. Cuaca pagi yang cerah bikin moodnya juga beda sekali. Seperti perbandingan pas monsternya laper dan sober.


Tujuan hari ketiga sekaligus hari terakhir adalah Urquhart Castle lalu akan balik ke Edinburgh. Sewa mobil kita sampai keesokan hari jam 10 pagi. Jadi kita lebih milih sudah di Edinburgh dari malam.

Dari Fort Augustus ke Urquhart Castle hanya sekitar 30 menit. Loch Ness dan Urquhart Castle itu biasanya satu paket kalo misalkan ikut one day tour. Urquhart Castle ini salah satu castle yang paling banyak dikunjungi di UK. Kastil di danau ini pemandangannya juga luar biasa cantiknya.






Dari Urquhart Castle rencananya kita akan lewat rute yang sama dengan pergi, tapi GPS di mobil menyarankan untuk ambil rute lain yang mana terus lanjut sampai ke Inverness, kota kecil yang merupakan akhir dari rute A82.
Karena yang nyupir sangat percaya dengan GPS, diikutilah saran mesin pintar tersebut.



Rencananya di Inverness mau makan siang. Tapi repotnya adalah cari parkir yang gratis yang aman. Karena ngga ketemu kita jalan lagi terus. Keluar dari aura kotanya dan jalan kecil di Inverness, kita kembali ke jalan besar seperti high way dan cari-cari tanda rest area yang ada restoran.



Cari rest area dan tempat makan ternyata ngga semudah itu. Kita jadi sempet muter-muter dan salah jalan yang ternyata adalah sebuah blessing in disguise. Setelah berbulan-bulan ngerasain winter yang hangat di London, akhirnya bisa lihat dan ngerasain aura dan warna winter yang sebenarnya. One of the most breath taking experiences in this trip was a chance to see and feel the “winter is white”.



Sepanjang jalan cuma bisa terkesima liat pemandangan di kanan kiri. Setelah berbulan-bulan Langit nanyain hal yang sama tentang winter, akhirnya pertanyaannya dijawab. Kita akhirnya bisa berhenti dan parkir di Aviemore buat makan siang dan berhenti di salah satu taman kecil buat main salju. Aviemore ini kayanya juga pegunungan dan resort tempat main ski karena banyak orang dengan snow suit dan sepanjang jalan banyak toko peralatan ski.









Main salju di Aviemore



# 4 : selalu percaya, ada sesuatu yang lebih besar dari perhitungan akal manusia untuk segala hal yang terjadi di hidup kita. Sekecil apapun, semua yang jadi rejeki, akan sampai dari manapun dan bagaimanapun caranya. Sekecil ganti rute jalan, ternyata highlight tripnya ada di sana.






Setelah makan siang dan main salju sebentar, kita ngga berhenti lagi dan langsung gas ke Edinburgh karena kejar sebelum gelap. Sengeri-ngerinya nyetir di highway, lebih ribet nyetir di kota yang jalanya kecil dan lebih padet.


Hal yang paling menakjubkan dari Scottish Highland ini adalah gimana alamnya bisa berubah drastis dalam jeda waktu dan jaraknya yang sangat pendek. Dalam 1 jam bisa ngerasain hujan salju lalu berubah jadi panas terik meskipun tetap dingin. Dalam jeda beberapa menit pemandangan di luar jendela bisa menampilkan musim yang berbeda.



Keluar dari Aviemore masih winter



Sepuluh menit kemudian sudah jadi autumn


Kita sampai di Edinburgh sekitar jam 18.30 dan langsung cek-in. Kali ini pilih di apartemen hotel yang juga punya parkiran biarpun bayar. Pengalaman sewa mobil ini jadi belajar banyak hal. Seperti susahnya cari parkir gratis, atau masuk ke gedung parkir dengan kode, slot parkir juga ngga bisa liat asal kosong. Meskipun nyaman, saya mendingan naik bis kemana-mana.

Setelah Komodo tahun lalu, ini mungkin salah satu trip alam yang paling berkesan. Salah satu skill paling jago yang saya punya adalah bisa tidur dimana aja dalam waktu cepet. Apalagi di mobil. Bisa baru naik langsung tidur. Di road trip ini, hampir 90% mata saya kebuka. Dua pertiga karena ngga selesai-selesai ngerekam semua pemandangan depan mata, sisanya berdoa semoga selamat di jalan sampai kembali ke tujuan. Ngga baik buat jantung duduk di kursi penumpang selama road trip ini.

#5 : makin jauh pergi, makin sepi dan sunyi tempat yang dikunjungi, makin banyak lihat berbagai macam hal, makin jelas dan sadar kalo kita kecil sekali di dunia seluas ini.



Keesokan paginya kita cek out jam 9 dan langsung ke tempat rental mobil. Perjalanan yang harusnya hanya 12 menit berakhit jadi 40 menit karena selain GPSnya ngasih jalan yang ngga bisa dilaluin mobil, navigator di samping supir pun sama sekali ngga pinter buat baca peta. Combo lah.

Lega sekali rasanya waktu mobil sudah dikembalikan tanpa kurang satu apapun. Kereta kembali ke London masih jam 1an, kita nunggu dulu di Waverley Mall buat makan siang di Chopstix, fast food halal terenak di UK yang menyediakan makanan cina sederhana kaya mie dan nasi dengan ayam berbagai bumbu.



Sejauh-jauhnya pergi, setelah lima hari bertualang, ngga ada yang lebih nikmat dari kembali ke tempat paling nyaman di seluruh UK.


Alhamdulillah.











Author:

Pas special, J'ai seulement besoin de beaucoup de privee