Posted in Maternité, Thoughts

Sekolah (Makin) Banyak PR

Dulu pernah nulis tentang Sekolah Banyak PR tahun lalu dan post dua hari lalu tentang (School) Life in the Time of Corona V.

Di situasi saat ini, dua post tersebut jadi terasa makin relevan karena hampir semua orang tua makin sadar betapa banyak PR sebagai orang tua yang harus dikerjakan selama masa kerja dan sekolah dari rumah ini.

PR literal sebenernya ngga terlalu susah menurut saya. Dari pengalaman ngajar anak orang belasan tahun dan ngajar anak sendiri enam tahun ini, pengajaran masalah kognitif itu relatif gampang. Apalagi kalo anak itu emang dasarnya punya kemampuan yang kognitif yang baik. Ngga akan susah ngajarinnya. Belum lagi kalo didukung fasilitas-fasilitas lain seperti gizi yang baik, hal-hal yang menunjang kenyamanan belajar, tugas mereka cuma belajar tok.

Hal yang lebih sulit adalah bangun mental yang diperlukan buat belajar dan hal lain yang lebih penting dari sekedar hasil di kertas. Hal yang semua penelitian mengaminkan merupakan hal yang lebih menentukan keberhasilan seseorang dalam hal apapun. Hal-hal kasat mata seperti ketekunan, percaya diri, determinasi, penguasaan diri, dan masih banyak lagi yang semuanya dirangkum dalam satu istilah besar : kecerdasan emosi.

Salah satu buku legendaris dari Daniel Goleman di Emotional Intelligent menjabarkan ada lima komponen kecerdasan emosi :

  1. Kesadaran diri. Ini termasuk mengetahui dan sadar pada perasaan diri sendiri.
  2. Pengaturan diri.
  3. Motivasi.
  4. Empati.
  5. Kemampuan sosial/sosialiasi.

Saya cukup beruntung dibesarkan oleh ibu yang punya kelima kecerdasan itu. Kalo soal ibu saya, susah buat ngga terdengar berlebihan, karena ya memang seperti itu. Salah satu hadiah terbesar yang hidup kasih ke saya itu jadi anak dari ibu saya.

Ibu saya pribadi punya kelima kecerdasan itu. Ketika itu diturunkan hampir ngga mungkin 100% diturunkan dan masing-masing anak pun ngga mungkin bisa 100% dapat porsi yang sama. Mungkin kalo bisa edit pernyataan terakhir di paragraf sebelumnya : salah satu hadiah terbesar yang hidup kasih ke saya itu jadi ANAK PERTAMA dari ibu saya.

Dari lima komponen tersebut, saya bisa bilang menguasai tiga komponen teratas (intrapersonal intelligence is my number one strength), saya masih terus belajar buat melatih dan meningkatkan empati sampai hari ini, sementara nomer lima, terus terang itu hal yang hampir saya ngga pernah serius kerjakan. Sampai setua ini. Banyak dalih dan sedikit energi. Satu yang bikin saya bergerak maju biarpun sedikit karena punya anak. Itupun masih bisa dibilang ngga memuaskan. People (always) make me nervous. Ibu saya punya natur extrovert sejati sedangkan natur saya introvert sampai ke tulang terdalam.

Ini jelas PR terbesar saya. Saya sering ngelamun dan mikir, saya ngga akan bisa cover semua. Energi dan kemampuan terbatas. Alhamdulillah sudah terbantu karena saya punya tiga hal penting teratas berkat ibu saya sehingga memudahkan buat transfer ilmunya ke Langit. Hal nomer empat karena masih belajar jadi proses transfernya agak abu-abu. Sedangkan yang kelima, makin sulit lagi karena (alhamdulillahnya) anaknya punya natur introvert kaya dua orangtuanya.

Kecerdasan emosi ini dari pengalaman dan bacaan saya bisa terbentuk dari hal-hal extrakulikuler selain pelajaran-pelajaran di sekolah. Satu hal yang penting adalah ada orang dewasa yang mengawasi kegiatan ini, dilakukan rutin dan punya target yang terukur. Musik dan olahraga adalah salah dua hal yang terbukti bisa mengembangkan hal-hal di atas.

Kalo di atas saya bilang punya kemampuan yang baik untuk tiga hal teratas, sebagian besar adalah berkat tiga belas tahun yang saya habiskan di Sekolah Musik Yayasan Pendidikan Musik (SM YPM) belajar Piano.

Di artikel ini dijelaskan bahwa selain mempertajam kemampuan otak, membaca juga merupakan salah satu sarana untuk mengembangkan kecerdasan emosi. Belajar berempati dengan tokoh di buku. Membaca membantu kita untuk melihat perspektif dari berbagai karakter yang berbeda yang mungkin tidak kita temui dalam interaksi sehari-hari, dan memberikan pengalaman psikologis tentang bagaimana karakter tersebut menghadapi situasi dan berinteraksi dengan orang lain.

Kalo orang bilang tahun-tahun awal jadi orangtua itu berat, itu benar. Berat emosi dan fisik. Tapi, apa setelahnya jadi lebih ringan? Secara fisik iya. Secara emosi dan mental? Tidak.

Semakin bertambah umur, PRnya akan makin banyak, kesulitannya meningkat, dan ngga akan berhenti, energi kita pun akan makin terbatas. Saya akui umur ideal menikah yang suka digadang-gadang menimbulkan pressure itu sebenarnya ada tujuannya. Semakin tua, beban akan semakin berat. Jelas beda membesarkan anak dengan energi 25 tahun dan 35 tahun.

Kabar baiknya, semakin awal PR-PR ini dikerjakan, akan sedikit meringankan beban di tahun-tahun berikutnya. Saya inget salah satu wawancara TV oleh Desi Anwar ke salah satu gubernur di Indonesia saat ini bilang, beliau bilang, “kita yang sekarang ini adalah hasil dari kerja keras orang tua kita,”.

Itu membekas sekali dan buat saya juga berpikir tentang anti-tesisnya. Anak kita nanti adalah hasil dari kerja keras atau kerja malas orangtuanya.

Asumsi ini adalah anak dengan orangtua yang lengkap, yang punya kemampuan untuk memberikan yang terbaik dalam banyak hal.

Salah satu buku favorit saya yang hampir semua halamannya saya ngga bisa berenti ngangguk adalah How To Measure Your Life dari Clayton Christensen, seorang professor Harvard yang bukunya ini menjelaskan teori-teori bisnis yang penerapannya relevan sekali dengan parenting.

Salah satu chapternya bicara tentang School of experiences. Dia menjelaskan pentingnya orangtua untuk kasih school of experiences yang tepat buat anak-anaknya. Seperti yang dijelaskan di bawah ini.

Inti dari tulisan panjang ini bisa dirangkum dengan baik dalam dua paragraf. Beda emang level Professor Harvard.

Bab lainnya yang menurut saya juga bagus adalah tentang outsource the jobs. Dari Theory of Capabilities di bisnis bisa juga diaplikasikan di parenting. Dia menekankan bahwa anak perlu belajar lebih dari sekedar skill. Mereka perlu membangun value yang mana value ini hanya bisa ditransfer dari orang yang mendampingi mereka. Kita mau anak kita jadi anak yang seperti apa tapi menyerahkan mereka ke orang lain, kita sebenarnya kehilangan kesempatan berharga untuk membangun hal penting di diri seorang anak.

Di antara semua hal-hal ngga menyenangkan yang harus dihadapi saat ini, situasi ini banyak sekali kasih kesempatan buat hal-hal yang ngga bisa dilakukan dalam keadaaan ‘normal’. Salah satunya adalah mengerjakan PR-PR yang mungkin sebelumnya belum tergarap dengan baik.

Sedikit nasihat terakhir dari Prof. Chritensen :

Semoga kita diberikan waktu yang cukup dan memanfaatkan waktu tersebut sebaik-baiknya buat mengerjakan semua PR penting ini.

Amin.

Author:

Pas special, J'ai seulement besoin de beaucoup de privee

One thought on “Sekolah (Makin) Banyak PR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s