Posted in Langit Senja, Maternité

Cerita Ramadan Pertama

Di ilmu manajemen ada yang namanya POAC. Planning, organizing, actuating, controlling.

Planning buat Ramadan pertama Langit sudah dijalankan berbulan-bulan sebelumnya waktu belajar rukun Islam. Repetisi teori tiap malam sampai berminggu-minggu.

Semakin dekat, Organizing rundown di kepala. Ramadan pertama di luar jadwal biasa buat orangtuanya pun ngga mudah, apalagi buat anaknya. Satu hari sebelum hari H, akibat terus berpikir musti apa, ide datang tiba-tiba.

Target-target kecil dibuat dengan reward yang sesuai. Membayangkan 30 hari puasa berat, tapi dengan mencacah jadi tiga bagian, lebih terlihat ringan. Bukan terasa. Baru terlihat. Di awal, target 10 hari pertama 5-6 jam, 10 hari kedua, 7-8 jam, dan 10 hari ketiga 9-10 jam.

Saatnya Actuating dan implementasi.
Dengan pertimbangan jam puasa yang panjang, sahur dan buka di Ramadan ini dilakukan 2x. Sahur pertama jam 2, yang kedua jam 4.30. Buka pertama Zuhur jam 1 lalu bertahap asar jam 5 lewat.

Di 10 hari pertama, ternyata semuanya berjalan di luar rencana. Hari ke 5, puasa 5-6 jam sudah ngga terasa. Jam buka bukan jadi hal yang terlalu ditunggu. Maka setelah 10 hari pertama, durasi dinaikan. Daripada jam buka yang lebih lama, lebih pas memajukan jam sahur. Selain karena subuh aktual juga semakin pagi setiap hari, sekalian latihan sahur yang sebenarnya.

Kalau orang dewasanya sahur dulu baru subuh, anaknya subuh dan tadarus dulu baru sahur. Solatnya lebih penting dan lebih cepat dibanding kunyah makanan. Batas imsak adalah alarm yang sudah diset waktu tertentu. 10 hr kedua, maju 2 jam dibanding sebelumnya. Waktu buka masih sama.

Setengah bulan, durasi puasa yang baru mulai terasa biasa. Pertanyaan “can we ifthar first” makin ngga terdengar, waktunya menaikan batas lagi. Notifikasi adzan zuhur sudah dimatikan. Diganti dengan alarm yang tiap beberapa hari dinaikan waktunya akhirnya buka ketika adzan asar.

Di 10 hari terakhir, alarm sahur dinaikan pelan-pelan dan sampai batas yang di rasa cukup buat belajar puasa pertama. 12 jam penuh. Mirip dengan durasi puasa penuh di Indonesia.

Kebanyakan ide itu dateng di detik terakhir. Hadiah besar sudah dikeluarkan di hari ke 28 masih dibungkus. Penawaran baru diajukan di menit terakhir hari terakhir menjelang asar : boleh buka puasa sekarang dengan 1 hadiah besar seperti kesepakatan di awal atau mungkin mau nunggu sampai maghrib dan bisa dapat 2 hadiah besar.

(Hadiah udah dibeli beberapa karena nemu bundle super miring di ebay. Sisanya disimpan buat nanti kalo diperlukan. Jadi, hadiah kedua juga sudah ada).

Di sini Percobaan Marshmellow Walter Mischel, salah satu riset paling terkenal di psikologi pendidikan, yang digunakan. Dimana anak-anak bisa belajar tentang delay gratification. Kurang lebih mirip seperti penawaran yang diajukan. Sekarang dapet satu, tunggu sebentar dapat dua.

Dengan setengah hati, (dan dorongan pasif-agresif orang tuanya), anaknya milih buat nunggu. Tambahan beberapa jam trakhir mungkin salah satu yg terberat karena pertanyaan-pertanyaaan khas jadi sering terdengar lagi.

Tapi kata kaya Mbak Nana, “kita sudah sejauh ini. Kalah bukan pilihan”. Dengan segala macem distraksi Alhamdulillah sampai ke akhir yang diinginkan.

Langit menyelasaikan Ramadan pertamanya 30 hari penuh dengan baik.

Setelah tiga tahap sebelumnya, akhirnya bagian Controlling jadi penting buat mencapai tujuan. Tanpa kontrol, semua rencana dan implementasi bubar. Ngga ada konsekuensi, ngga ada reward, ngga ada kejelasan dan batas waktu.

Selain kontrol diri dari anaknya, orangtua sebagai yang lebih berkuasa perlu punya kontrol dan membuat batasan plus kebijakan yang jelas.

Kalo orangtuanya buat planning mentah, organisasi dan implementasi setengah-setengah, kontrol diri anak lemah, ditambah kontrol yang payah dari orangtua, apa sejak awal memang pilih untuk kalah?

Orangtua dan anak bisa diganti subjeknya untuk skala yang lebih besar. Seperti pemerintah dan rakyat, mungkin?

Ramadan yang berat memang bukan lapar hausnya. Yang berat itu bangun(in) setiap pagi dimana yang bangunin juga pengennya tidur lagi, yang berat itu (liat anaknya) solat dan ngaji sambil nahan kantuk. Yang berat itu nunggu Isya sampe jam 10. Yang berat itu nahan sabar dan godaan dimana pilihan buat berenti selalu ada. Toh ngga ada hukuman yang keras ketika itu dipilih. Bolong sehari ngga papa, kan baru belajar, kata setan di kepala. Paling anaknya cuma ngga dapet hadiah. Atau kan dia udah dapet beberapa hari, kasih ajalah udah dibeli ini.

Kembali ke nasehat terkenal kepala sekolah dari dunia sihir, ” Saat-saat yang sulit membuat kita harus memilih mana yang mudah dan mana yang benar”.

Ramadan pertama Langit menunjukkan buat melakukan yang benar itu ngga pernah mudah. Ramadan benar-benar salah satu cara yang paling konkrit untuk melatih kontrol diri sejak dini. Sesederhana menahan diri dari makan dan minum itu efeknya panjang sekali di masa depan.

Ternyata ngga sia-sia dengerin kuliah di GKA lima belas tahun lalu. Pun kuliah psikologi pendidikan sembilan taun lalu. Semoga jadi amal jariyah buat semua yang ngajar.

Semoga semua amal Ramadan diterima, semua doa dikabulkan dan bisa bertemu lagi tahun depan. Amiin.

Hadiah kecil 10 hari
Hadiah sedang 20 hari
Satu hadiah besar 30 hari
Berubah jadi dua karena menunggu lebih lama

Author:

Pas special, J'ai seulement besoin de beaucoup de privee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s