Posted in Books, Thoughts

Sistem Pendidikan, Skor PISA dan Status Pandemi : 75 Tahun (belum) Merdeka

Sudah ngga perlu intro lagi betapa berat tahun ini untuk semua. Tidak ada gunanya membandingkan tingkat kesusahan antara satu dan yang lain karena kita masing-masing pasti punya sesuatu yang mungkin tidak ditampilkan di luar.

Selain berat, tahun ini pun harusnya banyak memberi kesempatan untuk memperbaiki banyak hal. Buat saya salah satunya adalah tentang sekolah. Dalam beberapa bulan, tanpa benar-benar direncanakan dan diinginkan, revolusi pendidikan telah terjadi.

Mulai dari sistem sampai implementasi. Dari organisasi sekolah itu sendiri, semua guru, murid dan orangtuanya dipaksa untuk berubah dan beradaptasi. Situasi ini harusnya jadi pembuka mata untuk semua. Membuka mata tentang apa yang penting untuk dipersiapkan dan diajarkan.

Melihat semua yang terjadi di luar sana, memilih subjek yang perlu diajarkan di dalam (rumah) menjadi sangat penting. Sebelumnya saya pernah tulis pendapat pribadi di sini. Saya sebagai orang tua (dan guru), di atas keinginan anak bisa menguasai pelajaran sekolah, jadi anak yang cerdas, memiliki skill yang baik, atau hal-hal yang bisa terlihat dari luar, lebih dari kapan pun sebelum tahun ini, hal yang paling saya inginkan adalah anak saya belajar menjadi manusia yang baik.

Terlalu sulit karena abstrak. Perlu didefinisikan dengan jelas manusia yang baik seperti apa. Tentu saya punya konsep pribadi. Tapi, yang lebih penting adalah konsep universal yang berlaku untuk semua.

Sayangnya, berpuluh tahun negara ini merdeka dari penjajah literal, tapi belum juga merdeka dari banyak hal. Sepenting tujuan pendidikan dan pengasuhan yang jelas dan bisa menjadi kompas buat semua orang pun tidak tersedia.

Kenapa bisa ada buku parenting seperti dari Prancis, German, Belanda, Swedia, Finland, Cina, Denmark, Jepang? Karena mereka punya tujuan yang jelas MANUSIA dengan karakter seperti apa yang mereka inginkan.

Hal ini dijelaskan dengan gamblang oleh negara dan diaplikasikan oleh seluruh warganya. Semua bekerja sama untuk tujuan besar yang sama.

Buku ini menjelaskan tentang negara-negara dengan sistem pendidikan yang baik. Jepang dan Finlandia salah duanya.

Dijelaskan bahwa sejak kecil, anak-anak Jepang dididik dalam kelompok kecil dan selalu dibiasakan untuk mengutamakan kepentingan kelompok di atas kepentingan pribadi. Keberhasilan kelompok merupakan yang utama. Semua bekerja untuk mencapai keberhasilan bersama. Menjalankan sesuatu sesuai aturan dan tidak banyak komplain, disiplin yang tinggi, merawat kelas yang mereka tempati seperti rumah. Makanya sering kita lihat di drama atau film Jepang, anak-anaknya menyapu dan mengepel kelas, menyiram tanaman, membuang sampah, merapikan kelas dan semua hal yang mereka lakukan seperti di rumah sendiri.

Seorang kepala sekolah Jepang mengatakan :”Ruang kelas di Jepang bukan sekedar tempat belajar, tapi adalah tempat di mana mereka tinggal. Guru-guru di jepang tidak hanya mengajarkan tentang akademik tapi juga tentang moral dan hal – hal penting lainnya. Hal ini tercantum dalam undang-undang bahwa tujuan pendidikan adalah untuk membangung kepribadian murid-muridnya dan saya setuju dengan hal tersebut”.

Di paragraf terakhir :

“Pada rapat guru di awal tahun ajaran, mereka menghabiskan waktu selama dua jam untuk mendiskusikan satu hal : murid-murid dengan KARAKTER SEPERTI APA yang mereka inginkan”.

Bukan tentang hal akademis.

Hasil dari pendidikan dengan tujuan yang jelas ini bisa kita rasakan di setiap sudut jika berkunjung di negara ini. Tiap sudut kota yang bersih, transportasi umum yang tepat waktu hingga ke satuan menit. Warga yang ramah. Tidak heran semua orang yang pernah ke Jepang sepakat kalo orang Jepang itu baiknya luar biasa.

Mereka menaruh kepentingan orang lain di atas diri mereka sendiri. Mereka menghormati orang lain seperti subwaynya yang penuh namun sunyi, mereka membantu turis yang kebingungan tanpa ragu-ragu, bukan sekedar menunjukan jalan, tapi seringnya mengantar sampai ke tempat tujuan. Meninggalkan barang di atas meja ketika di restoran buat sekedar ke kamar mandi atau memesan minuman lain bukan masalah besar. Semua sadar untuk tidak menyentuh apapun yang bukan miliknya. Setiap masuk atau keluar toko, restoran, semua mengucapkan salam dan membungkuk sebagai penghargaan kepada sesama manusia, siapapun dia.

Hal-hal tersebut tidak dibangun dalam satu malam, satu bulan, atau satu tahun. Karakter orang Jepang yang kita kenal adalah hasil dari pendidikan usia dini hingga tingkat tinggi yang hasilnya baru terlihat saat mereka menjadi bagian dari masyarakat.

Hal-hal yang kita kagumi itu merupakan hasil proses belajar bertahun-tahun yang dijalankan oleh semua orang.

Waktu ke Jepang tahun 2018, pak dokter bertemu dengan temannya yang sedang mengambil Phd dan sudah hidup beberapa tahun di Tokyo. Dia bilang sejak umur 3 tahun sampai kelas 4 SD, porsi utama yang diajarkan di sekolah-sekolah Jepang adalah pembentukan karakter. Bukan hal-hal akademis.

Sejak dini, fokus pendidikannya adalah untuk menjadi manusia yang baik. Ngga heran hasilnya seperti itu.

Selain Jepang, salah satu contoh lain adalah Finlandia. Di Finlandia, salah satu way of life yang diterapkan bernama Sisu. Sisu adalah kemampuan untuk menghadapi kesulitan dan mengubahnya menjadi kesempatan.

Di dalamnya terdapat kekuatan mental, resiliensi, dan keberanian untuk menghadapi apapun yang terjadi. Sisu ini mencakup semua hal. Akarnya ada di kesehatan badan yang baik. Karena tanpa kesehatan fisik yang baik, akan sulit untuk seseorang memiliki kesehatan mental yang baik.

Sisu ini ditanamkan sejak kanak-kanak dan usia pra-sekolah. Jadi bukan tiba-tiba ketika dewasa dituntut untuk memiliki Sisu.

Pembangunan karakter ini dilakukan serentak baik di rumah dan di sekolah. Semua elemen bekerja sama dengan satu tujuan besar di kepala. Penerapannya pun dijabarkan dengan jelas konkritnya seperti apa.Salah satu untuk melatih kekuatan mental adalah berenang pada musim dingin. Berdasarkan penelitian, winter swimming mempengaruhi manusia dalam berbagai hal seperti meredakan stres, meningkatkan toleransi terhadap dingin yang mana sekaligus meningkatkan imunitas. Ketika dijalankan rutin, dapat menurunkan tekanan darah, sebagai pain relief untuk arthritis dan meningkatkan fungsi pernapasan untuk penderita asma.

Hidup sehat dan sederhana ala negara Nordic juga dijalankan sejak dini. Dibanding mobil, jalan kaki atau bersepeda lebih banyak dilakukan. Sarapan yang mengandung serat dibanding karbohidrat. Tidak peduli cuaca seperti apapun, tidak ada alasan untuk anak-anaknya untuk tidak bermain di luar. Tidak ada cuaca buruk, cuma ada salah kostum.

Sejak pendidikan dasar, anak-anak diajarkan untuk memiliki sikap untuk tidak menyerah ketika menghadapi kesulitan.Tujuan pendidikan mereka jelas, seperti yang dijelaskan di bawah ini :

“Pre school di Finlandia tidak berfokus untuk menyiapkan anak-anak untuk hal akademis. Melainkan, tujuan utamanya adalah memastikan semua anak bahagia dan menjadi individu yang bertanggung jawab”.

Mencapainya lewat apa? Seperti berhadapan dengan pekerjaan sehari-hari, menghadapi masalah dengan teman, membereskan peralatan makan dan memakai baju sendiri dan hal lainnya.Tujuan yang abstrak yang gamblang dengan implementasi yang konkrit.Lagi-lagi, sejak awal tujuan utama di atas kertas dan implementasi di lapangan adalah membentuk manusia yang baik.

Itu hanya sebagian kecil contoh yang dijabarkan dalam buku ini.Dari contoh dua negara di atas, ada perasaan iri ngga sih? Saya sih iya banget🙁.

Belum selesai.

Bakal makin iri ketika liat hasil dalam jangka panjang. Efek dari memiliki tujuan pendidikan yang jelas dan impelementasi yang baik oleh seluruh elemen sejak usia dini, dalam jangka panjang semua hal tersebut berimbas langsung ke hasil pencapaian akademik.

Hasil PISA atau The Programme for International Student Assessment yang dilakukan oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) dengan mengevaluasi sistem pendidikan di berbagai negara dunia, mengukur performa murid-murid 15 tahun dalam tiga bidang : matematika, sains, dan pemahaman membaca, menunjukan korelasi yang positif antara tujuan pendidikan yang jelas, pembangunan karakter yang dilakukan sejak dini dengan hasil akademis jangka panjang.

Dari tahun ke tahun, negara-negara seperti Jepang dan Finlandia ini selalu berada di peringkat atas dengan skor di atas rata-rata di semua bagian.

(Baca daftar ini).

Kesimpulannya : Karakter kuat didapat. Hasil akademik terbaik.

Sedangkan Indonesia? Bisa dilihat di bawah ini dari tahun ke tahun seperti apa hasilnya.

Sudahlah jauh di bawah rata-rata. Ada di jajaran peringkat terbawah. Tiap tahun mengalami penurunan lagi.

Lihat hasil seperti ini, sedih ngga sih?Saya sih iya banget☹.

Sedih saja memang ngga akan membawa perubahan apa-apa. Salah satu yang bisa dilakukan adalah memulai dari rumah. Tapi itu ngga cukup. Perlu sekali kerangka besar yang ditetapkan oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan dan pembuat kebijakan kemudian menjadi panduan untuk dijalankan semua pihak hingga dapat membuat perubahan.

Pendidikan usia dini sangat penting. Namun bukan tentang akademis. Di 5 negara dengan sistem pendidikan terbaik tersebut, anak-anak sekolah usia dini tidak perlu menunjukan hasil akademis seperti baca atau matematika, begitupun gurunya yang tidak perlu memaksakan mereka ke arah tersebut. Ketika tiba saatnya, kebanyakan mereka akan memiliki cukup pengetahuan dan attitude yang baik untuk menguasai skill tersebut.

Sementara yang terjadi di sini, pendidikan usia dini di Indonesia kebanyakan berfokus ke persiapan akademik untuk memenuhi tuntutan tes masuk SD. Semua dipaksa harus bisa baca. Bahkan sampai ada bimbel baca! Padahal yang perlu ditanamkan adalah minat baca. Kalo baca aja ngga suka dan dibacakan buku aja jarang, lalu dipaksa suruh bisa baca, apa ngga sakit kepala?

Hasilnya pun bisa kita lihat dalam kehidupan sehari hal-hal paling sederhana di sekitar kita. Membuang sampah pada tempatnya pun kita belum bisa. Penyediaan trotoar buat pejalan kaki, di seluruh jalan, dan angkutan umum yang memadai tidak tersedia. Bahkan di ibukota. Sikap pengendara kendaraan bermotor lebih mengutamakan pejalan kaki pun sangat langka.

Kadang ngga habis pikir, kok bisa ya 75 tahun merdeka, hal-hal sesimpel di atas pun kita ngga punya?

Di pandemi ini makin terlihat jelas sekali ‘kegagalan’ pendidikan kita selama berpuluh tahun dari atas hingga ke bawah. Korupsi dianggap biasa. Sudah berbulan-bulan pandemi, pemimpin di atas ngga ada sedikit pun strategi konkrit untuk mengatasi masalah dan malah fokus ke hal-hal lain selain menyelamatkan nyawa. Sementara di bawah, rakyatnya malah masih sibuk mempertanyakan apakah virus ini benar-benar ada dan sulit sekali mengikuti aturan.

Semakin ke sini juga semakin terlihat betapa rendah empati di masyarakat. Sejak dulu saya melihat bahwa sesimpel kata maaf dan terima kasih itu kelu sekali diucapkan oleh masyarakat kita. Seperti beberapa kali mobil ditabrak, yang saya tunggu hanya permintaaan maaf, ngga perlu ganti rugi apapun, tapi yang SELALU keluar pertama kali adalah apa?Excuses.

“Duh kena ya? Perasaan tadi jauh”.

“Duh ngantuk banget lagi buru-buru jadi ngga sengaja”. dan masih banyak lagi.Frustasi ngga sih? Semakin kesini, saya sih iya😭.

Ada salah satu konsep pendidikan Indonesia yang pernah ditulis dan dijabarkan oleh Romo Mangun di tulisan ini.

Konsepnya sudah jelas dan terukur. Sayang, hanya tersimpan di laci.Hampir semua tujuan pendidikan di Indonesia yang memiliki berbagai jenis sekolah, bermuara untuk mendapatkan hasil ujian di atas kertas selama tiga hari.Target akademik masih jadi satu-satunya tujuan akhir belajar dan tolak ukur keberhasilan sekolah. Belajar menjadi manusia selalu ada di dalam visi misi tapi masih sangat sangat terbatas dalam implementasi.

Mungkin, karena bagian ini membutuhkan banyak energi tanpa pemberian yang wajar di bagian kompensasi. Hasilnya pun masih harus menunggu waktu yang lama dan tidak pasti. Hasil dari pendidikan bertujuan sukses ujian yang kita tanam jelas terlihat beberapa bulan ini.

Semua strategi fokus menyelamatkan ekonomi, bukan menyelamatkan sebanyak-banyaknya nyawa ketika pandemi. Nyawa satu orang dianggap tidak berarti. Bertanya-tanya, manusia-manusia seperti apa yang menjalankan negara ini?

Di pendidikan hanya fokus mengejar akademik, bukan hal-hal dasar seperti karakter yang baik. Apa hasilnya?Ekonomi (menuju) resesi. Jumlah kasus dan kematian sangat tinggi. Hasil akademik rendah, pembentukan karakter yang baik pun setengah-setengah.

Di semua hal kita kalah dan payah.

Sebuah grafik dari bloomberg menjabarkan 5 negara yang memiliki resiliensi terbaik dalam pandemi ini :

1. New Zealand

2. Jepang

3. Taiwan

4. Korea Selatan

5. Finlandia

Bisa ditengok kembali ke tabel peringkat PISA.

Jelas ditunjukan bahwa negara-negara yang hasil skor PISAnya di peringkat atas adalah negara yang (rakyatnya) paling resilien dalam menghapi pandemi. Negara yang mengutamakan kesehatan rakyatnya dalam pandemi ini yang juga berhasil menyelamatkan ekonominya.

Kesimpulannya : Betapa besar dampak pembentukan karakter sejak dini ke pencapaian hasil akademik jangka panjang, hasil kehidupan sehari-hari dan dalam situasi krisis seperti pada pandemi ini.

Setelah 75 tahun, masih banyak sekali PR (yang belum dikerjakan) negeri ini. Tapi, harapan dan doa masih (harus terus) dijaga. Sambil terus bertanya-tanya : bisa bantu apa?

Mungkin bisa dimulai dari menetapkan dan membangun tiga karakter besar yang ingin dibentuk? Menetapkan target skor minimum yang ingin dicapai di tiga skill yang diukur oleh PISA?

Tiga hal yang buat saya pribadi penting seperti di tulisan ini. Hal ini ngga akan mudah karena dibutuhkan kerja sama dari semua. Anak usia dini masih punya banyak kesempatan untuk dibentuk, tapi bagaimana dengan orang tua dan para gurunya yang sudah terbentuk oleh sistem yang sudah ada berpuluh-puluh tahun? Mengubah sistem perlu dimulai dari perubahan mindset.

Mindset bahwa kita memiliki sistem pendidikan dan pengasuhan yang menghasilkan anak-anak yang berkarakter baik, jujur, disiplin, dan berempati sehingga masyarakat bisa menghargai hal-hal tersebut di atas hasil ujian di atas kertas.

Tolak ukur kesuksesan bukan lagi oleh yang terlihat di depan mata seperti hanya sekedar berapa banyak uang yang dihasilkan, jenis pekerjaan apa yang dilakukan, dan berapa banyak harta yang dipunya.

Sukses seorang manusia diukur dari banyak hal yang tidak terlihat seperti bagaimana dia memperlakukan orang lain dan sebahagia apa seseorang menurut definisi pribadinya.

Pandemi ini seharusnya bisa jadi titik awal dari perubahan besar pendidikan di Indonesia karena tanpa kualitas yang baik dari manusianya, (saya rasa) Indonesia tidak akan pernah benar-benar merdeka.

Author:

Pas special, J'ai seulement besoin de beaucoup de privee

3 thoughts on “Sistem Pendidikan, Skor PISA dan Status Pandemi : 75 Tahun (belum) Merdeka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s