Posted in Langit Senja, Thoughts, Travel

Sekolah Anak di London

Sebagai orang yang punya cukup pengetahuan (dan ketertarikan) masalah sekolah dan pendidikan, satu tahun lebih di London ini membuka mata lebih lebar lagi tentang kedua hal tersebut.

Sebelumnya saya cukup yakin tentang apa yang saya mau untuk anak saya, (merasa) tau sekolah mana yang pas buat anak saya, dan sudah mempersiapkan hal-hal yang mendukung ke arah sana.

Tapi, beberapa tahun belakangan, dengan banyak hal yang terjadi, dengan kejutan-kejutan yang dikasih oleh yang punya hidup, baik dan buruk, saya seperti dipaksa untuk belajar lagi semua dari awal.

Setahun ini saya belajar banyak dari hal-hal yang saya alami di sini. Salah satunya dari sekolah anak saya.

Saya sudah pernah cerita betapa saya suka sekali dengan sekolah anak saya. September ini di tahun ajaran baru, anak saya mulai masuk ke year 1. Year 1 di sini masih lebih mirip TK B. Masih seperti perpanjangan dari Reception tahun lalu.

Sekolah negeri di sini, secara gamblang terlihat gratis. Padahal sebenarnya ngga. Semua dibayar oleh pajak. Seperti kebanyakan negara Eropa, pajaknya itu tinggi sekali, tapi semua dikembalikan untuk kepentingan umum. Makanya bisa ngga perlu khawatir bayar sekolah, biaya pengobatan kalo sakit, bisa nikmatin transportasi umum yang baik, taman-taman kota dengan playground yang bagus dimana-mana, dan masih banyak lagi.

Kami datang ke sini dengan visa kerja, jadi berlaku juga sebagai pembayar pajak. Kalo inget bedanya besar gaji (pak dokter) sebelum dan sesudah pajak, bisa sakit kepala dan nyeri dada. Maka itu jarang inget, jadinya alhamdulillah seneng-seneng aja. Justru yang lebih terasa enaknya. Seperti bisa periksa apapun gratis, kacamata dan periksa ke dokter gigi anak pun gratis.

Balik lagi ke masalah sekolah. Di sekolah Langit, setiap level hanya ada dua kelas, masing-masing kelas sekitar 25 anak. Dari Reception sampai Year 1, temen sekelasnya sama. Baru akan dicampur di Year 2. Dalam prakteknya dua kelas ini main sama-sama. Jadi, antara kelas A dan B kenal semua teman-temannya.

Kelas di sekolahnya ini menggunakan nama-nama dari alam seperti warna pelangi dan batu-batuan. Di Reception, Langit masuk ke kelas Magenta, di Year 1 kelas Indigo.

Selain ngga pusing masalah pembayaran sekolah (kecuali beli jumper dan jaket sekolah), di sekolah juga disediakan makan siang gratis. Selama di Reception, Langit bawa makanan sendiri, tapi setelah lockdown, ikut makan di sekolah. Makanannya pilih yang menu vegetarian atau paling ngga fish and chips plus sayur dan buah.

Sekolah ‘ngga bayar’, makan siang gratis, berikutnya : sekolahnya dekat. Di sini kita bisa tinggal di mana yang cocok baru cari sekolah. Karena sekolah negeri cukup banyak dengan kualitas yang sama. Jadi ngga perlu pusing dengan jarak antar rumah dan sekolah. Anak-anak ke sekolah naik scooter dan sepeda. Kami kadang-kadang naik bis, sekitar 15 menit.

Selain jarak, salah satu hal paling ideal buat saya adalah jam masuknya, jam 8.45. Buat anak-anak menurut saya pas. Salah satu alasan saya pilih TK yang sebelumnya di Jakarta adalah karena mereka masuk jam 8.30. Waktu masuk ini kasih ruang yang cukup buat anak dan orang tuanya supaya bisa melewati setiap pagi dengan waras.

Untuk ukuran sekolah Indonesia itu siang banget, tapi buat saya ideal karena dengan jam masuk seperti itu, sebelum sekolah, Langit di umur menuju enam tahun ini, bisa melakukan rutinitas paginya tanpa terburu-buru.

Setahun di sini, saya seperti memformat ulang semua kebiasaan dan bersyukur sekali untuk itu. Rutinitas pagi dalam setahun belakangan adalah :

1. Bangun pagi sekitar jam 5 lalu sarapan kecil (roti,buah, susu).

2. Solat subuh sama-sama dan hafalan qur’an surat pendek.

3. Waktu bebas 20 menit buat main. Biasanya main lego, main apa aja sesuka dia.

4. Latihan piano. Piano ini sekitar 30-40 menit.

5. Sarapan besar (nasi dan lauk) lalu siap-siap ke sekolah.

Semua rutinitas pagi ini dijalankan tiap hari, tujuh hari seminggu tanpa kecuali.

Jam belajar sekolah di sini cukup panjang, sampai jam 15.30. Dulu saya ngeri sekali dengan jam belajar sepanjang ini lima hari seminggu. Apalagi sebelumnya di Jakarta belajar cuma 3 jam 3 hari seminggu. Tapi ternyata, setelah dijalanin, biasa aja dan anaknya pun keliatan seneng aja tiap pulang sekolah.

Hal ini mungkin dikarenakan faktor senang selanjutnya : sekolahnya santai. Ngga ada itu PR-PR. PRnya cuma satu : baca buku. Baca bukunya pun bukan berarti anaknya harus sudah bisa baca, tapi dibiasakan suka membaca dengan didampingi orangtua.

Bukunya pun disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak. Bukan soal cepat-tidaknya bisa baca. Jadi, ngga ada yang peduli juga buat bandingin satu anak dan yang lain. Masing-masing anak diberikan dua buku untuk dibaca selama seminggu. Nanti di satu hari akan ada sesi baca satu lawan satu dengan gurunya atau diminta menceritakan kembali tentang isi buku tersebut. Semua aktivitas baca ini ditulis di satu buku : reading record.

Fokus utama di tahun-tahun awal ini hanya tiga pelajaran : reading, writing, dan basic math. Ada pelajaran lain seperti science, art, tapi bukan yang utama. Di sini ngga ada ulangan, ngga ada UTS, UAS, kecuali di akhir year 1 (atau 2 ya?) nanti ada tes spelling.

Di jam belajar sepanjang itu mereka juga punya waktu free flow di mana anak bebas nentuin mau ngapain. Main di luar, baca buku, atau apa aja yang tersedia.

Selain sistem yang berjalan, hal lain yang saya agak berat sekali ninggalin adalah lingkungan sekolah ini. Gurunya, teman-temannya, orangtua muridnya, semua bagian sekolah ini baik. Auranya positif.

Guru-gurunya encouraging sekali. Saya yang banyak khawatirnya tentang banyak hal, setelah parent teacher meeting, kaya menguap semua kekhawatirannya. Tau kalo anak saya yang semi berkebutuhan khusus baik-baik saja, ngga ada yang lebih disyukuri dari itu. Di sini, punya kebutuhan khusus, bukan masalah besar. Semua diperlakukan sama dan punya support sesuai kebutuhan.

Grup WA orang tua murid ada, tapi jauh dari annoying. Ngga ada yang spamming pesen atau forward WA ngga jelas, aktif kalo emang ada yang penting banget, ngga ada pressure apa-apa. Pas banget buat saya yang males basa basi. Perbedaannya jauh sekali sama grup wa sekolah di Jakarta dulu yang tiap hari ‘berisik’ sekali. Ada info yang bermanfaat, tapi lebih banyak yang ngga.

Kalo ditanya masalah teknis, sekolah ini udah punya semua yang saya perlu buat sekolah anak yang ideal.

Kecuali satu hal yang mana buat saya paling krusial.

Masalah solat.

Tantangan hidup di negara empat musim adalah waktu solat yang berubah sepanjang tahun dan ketika winter ini adalah yang paling sulit.

“Ah, anaknya kan masih kecil, belum wajib juga”.

Itu makanya saya selalu percaya timingnya Allah itu ngga pernah meleset. Dikasih ke London pas sekali umur Langit segini. Dalam segala hal. Termasuk solatnya. Kalo kesini lebih besar lagi, saya akan gelisah gimana dia akan solat kalo pas winter solat zuhur, asar, maghrib semua dihabiskan ketika masih di sekolah.

Tahun lalu dia hanya baru solat maghrib dan subuh. Tiga bulan lockdown, bisa lengkap solat lima waktu, dan saya ngga pengen mundur lagi ketika waktu untuk wajib solat mendekat.

Mungkin ini satu-satunya hal yang bikin hati bisa lebih ringan buat pulang.

Solat ini hanya satu bagian tapi buat saya yang menentukan semuanya karena solat bukan ‘cuma’.

Perjalanan mencari sekolah ke depan ngga akan mudah. Saya dan ayahnya banyak sekali diskusi dan revisi tentang pemilihan sekolah ini. Kami tau yang kami mau, tapi tentu banyak konsekuensi yang mengikuti dan ngga ada jalan lain selain kompromi.

Sekolah di London cukup banyak sekali membuka mata dan pandangan tentang apa yang kami mau dan perlu dari sebuah sekolah. Mau jadi apapun anak saya nanti, pada akhirnya seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, saya cuma mau anak saya jadi manusia yang baik.

Author:

Pas special, J'ai seulement besoin de beaucoup de privee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s