Posted in Langit Senja, Maternité, Thoughts

Di Toko Kue

Beberapa hari lalu ada kejadian yang cuma terjadi beberapa menit tapi efek yang ditimbulkan ke saya pribadi jauh lebih lama dari kejadian itu sendiri.

Kami sedang beli kue di toko kue jajanan pasar favorit. Waktu lagi bayar di kasir, saya sibuk cari sesuatu di dalem dompet atau tas, tiba-tiba ada suara dari samping. Ketika saya menoleh, gadis kecil ini sedang memegang plastik kue yang bukan punya kami. Di sebelahnya ada ibu separuh baya.

Berbekal sepotong kejadian yang terlihat di mata saya, reaksi pertama saya adalah menegur,

“Be, itu bukan punya kita”.

Tapi, tiba-tiba ibu di sebelahnya menyahut,

“Oh ngga, ini dia bantuin saya tadi plastiknya hampir jatuh”.

Mbak yang dikasir menimpali,

“Adeknya baik sekali, langsung nolongin ya,”.

Saya ibunya serasa ditampar keras dan mau nangis.

Nangis karena malunya luar biasa.

Saya ibunya, lebih dari orang lain, milih buat ‘menegur’ dengan nada yang kurang enak dibanding menanyakan dulu alasan dia pegang plastik punya orang lain.

Kepala penuh dengan berbagai skenario ‘if only’ dan ‘I should have’.

Sampai beberapa lama, baik si ibu dan mbaknya masih terus mengapresiasi hal kecil yang dilakukan gadis kecil ini dengan terus mengulang kata ‘baik dan pinter’.

Saya ibunya, ngga mau kecolongan lagi. Turun dan lihat ke matanya sambil bilang,

“You have really done a good job and I am so proud of you. Thank you for being so kind by helping the lady,”.

Selain mau nangis karena malu, mau nangis karena bangga juga.

Siapa bilang ibu selalu tau segalanya?

Ibu dan orangtua juga manusia yang ngga selalu tau dan selalu perlu belajar hal baru, bahkan tentang anaknya sendiri. Bahkan ketika hampir seluruh waktu dihabiskan dengan mereka. Belajar yang bukan dari buku yang ditulis peneliti dan ahli parenting ternama, tapi juga dari orang asing yang bahkan kita ngga tau namanya.

Tapi, semakin lama, saya semakin sadar kalau anak itu gurunya orangtua. Kita yang perlu lebih banyak dengar, lebih peka, lebih berpikiran terbuka, karena kadang ego orang dewasa suka bikin ‘buta’.

Makasih, bu guru kecil.

Maafin muridnya emang suka pendek sumbunya.

Author:

Pas special, J'ai seulement besoin de beaucoup de privee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s