Posted in Thoughts

On Time di Les Online

Menjalani hampir setahun les piano online baik di London maupun di Jakarta, salah satu hal penting yang paling berbeda itu adalah ketepatan waktunya.

Buat saya (atau kami), jam mulai yang disepakati itu berarti jam dimulainya pelajaran. Bukan waktu baru siap-siap online. Kami biasanya dan sebisa mungkin selalu sudah standby minimal 5 menit sebelumnya. Maksud standby di sini adalah sudah login dan rekues masuk, bukan baru siap-siap ambil posisi. Jadi, sudah duduk manis siap mulai belajar.

Di London, dengan dua guru yang berbeda, dua belah pihak sama-sama sudah online beberapa menit sebelumnya (dengan Skype). Tapi, les selalu di mulai tepat jam yang disepakati. Hampir ngga pernah lebih awal. Anak saya kalo sudah duduk selalu nanya, “Can we call now?”, yang mana selama belum persis menitnya, saya pasti larang karena belum hak kita. Kalo soal jam selesai sering lebih sedikit atau pas sekali sesuai jadwal.

Di Jakarta, hari pertama les piano dengan gurunya di Jakarta, saya dengan terpaksa sekali ‘meminta’ dengan sedikit keras kepada gurunya bahwa les di mulai jam 15.20, artinya kami sudah standby minimal 5-10 menit sebelumnya. Ketika dia baru mengizinkan kami masuk jam.15.25, brarti kami sudah menunggu 15 menit. Saya ngga mau dari awal dianggap 5 menit itu belum telat (seperti budaya orang Indonesia pada umumnya). Buat kami 5 menit dari waktu yang disepakati itu lamaaaa sekali. Ini pun ngga bagus buat anak saya.

Rasa gelisah saya ketika sudah jam mulai tapi belum mulai-mulai itu terserap oleh makhluk kecil di sebelah. Penyataan yang secara ngga sadar terlontar seperti ,”Mana nih, udah jam segini” diserap dan les-les berikutnya ketika sudah jam mulai, tapi belum mulai, dia udah bisa nanya “Why we haven’t started?”

Belum lagi yang suka agak menggangu, ketika pas sudah waktunya, tau-tau di wa internetnya bermasalah. Oke mungkin ngga bisa dihindari, tapi paling tidak ada ‘kompensasi’ di akhir misalnya dengan penambahan waktu yang hilang. Tapi di sini 5 menit itu dianggap bukan hal yang dianggap penting. Jadi, agak sulit memang.

Dalam saat seperti ini, ngga terlalu banyak pilihan. Kompromi jadi satu-satunya pilihan. Meskipun saya ngga ingin telat 2-3 menit jadi dianggap hal ‘biasa’ oleh anak saya.

Tepat waktu memang bukan budaya (kebanyakan) orang Indonesia. Tapi, dalam hal ini kita mau dan bisa punya pilihan untuk ngga jadi (bagian dari kebanyakan) orang Indonesia.

Author:

Pas special, J'ai seulement besoin de beaucoup de privee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s