Posted in Langit Senja, Thoughts

Keluh Kesah tentang Sekolah

Tanpa mau bilang ngga terasa, tapi akhirnya (sebagai orang tua) sampai juga ke salah satu milestone besar : pilih sekolah dasar buat anak.

Punya pengetahuan yang cukup tentang pendidikan dan sekolah, pernah liat dari dalam beberapa sekolah, beberapa tahun lalu, saya sudah punya bayangan akan mengirim anak saya kemana. Dana pendidikan sudah disiapkan sesuai sekolah tujuan sejak beberapa tahun lalu.

Saya punya sekolah yang memenuhi semua ceklis. Sekolah islam yang moderat, ngga kaku, auranya menyenangkan, punya kebiasaan membaca, visi misinya jelas, dan tentu harus sesuai sama kemampuan. Satu aja kurangnya, lokasi, tapi lokasi ini masih bisa dikompromi. Apalagi mereka juga menyediakan shuttle bus.

Saya sudah stalking berbulan-bulan bagaimana mereka menjalankan pembelajaran selama pandemi dan suka sekali. Hal-hal yang diperlihatkan jauh dari sekedar akademis, tapi lebih ke life skills dan well-being, yang mana buat saya lebih penting di saat seperti ini.

Sayangnya, ketika beberapa bulan lalu saya wa untuk minta info pendaftaran, kuotanya sudah full. Kami sempat berpikir untuk menunda sampai tahun depan lagi tapi diurungkan karena nunggu setahun untuk satu sekolah dan mengorbankan hal lain adalah pilihan yang kurang tepat.

PS : mereka wa beberapa bulan setelahnya bahwa ada tempat kosong, tapi kami sudah selesai daftar di tempat lain.

Sekolah lain yang ada di daftar saya adalah sekolah umum yang saya sudah pantau sejak tiga tahun lalu tapi ngga kebayang akan kirim anak saya kesana karena secara lokasi kurang bisa dikompromi dan hal-hal lainnya yang dulunya saya hampir yakin bukan hal yang tepat buat anak saya.

Tapi, seperti biasa, hidup itu ngga pernah linear dan hampir ngga ada hal yang dikasih persis seperti rencana awal. Tinggal di London mengubah hampir semua pandangan tentang banyak hal termasuk sekolah. Seperti sengaja dikirim jauh untuk dikasih liat sekolah seperti apa yang anak saya butuh dan ini sama sekali bukan tentang sekolah apa yang kami mau.

Saya suka vibe sekolah ini. Halamannya luas, area hijaunya banyak, dan salah satu yang jadi magnet adalah mereka hanya punya satu kelas per angkatan dengan maksimal 28 anak. Jadi jelas bukan sekolah yang mementingkan uang dengan buka kelas lebih banyak seiring meningkatnya permintaan. Saya cuma tetap ngga yakin karena secara lokasi agak ngga terbayangkan oleh saya kirim anak saya sekolah di sana.

Tapi, jodoh emang gitu.

Waktu pertama kali saya menanyakan pendaftaran lewat salah satu medsos, di waktu yang agak ngga biasa karena waktu itu masih di London, ternyata langsung dijawab. Dijawabnya pun panjang lebar dan niat. Tadinya saya cuma mau nanya hal-hal dasar dan umum, tapi dengan percakapan yang mengalir saya jadi lebih nyaman bertanya lebih detil dan dalam seperti apa mereka menerima anak denga kesulitan belajar, punya perpustakaan yang proper, seperti apa budaya membacanya sampai apa kantin tersedia atau tidak (saya ngga pro kantin ada di sekolah), sampai tradisi merayakan ulang tahun. Hampir semuanya memenuhi kriteria saya.

Saya suka sekali dengan jawaban :

“Kami adalah sekolah inklusi”.

Cari sekolah umum inklusi di Jakarta yang secara reputasi cukup baik itu sulit sekali. Jadi satu hal ini, sangat penting buat kami.

Pas sekali ternyata mereka baru buka pendaftaran gelombang kedua. Jadilah kami langsung daftar dan beberapa hari kemudian, jadwal wawancara pun dikirim. Karena adanya perbedaaan waktu 7 jam pada saat itu, proses wawancara kami dilakukan oleh ketua yayasannya yang saat itu sedang studi di US. Di awal rencananya wawancara hanya sekitar 30 menit, tapi ternyata jadi cukup panjang hingga 1,5 jam.

Kami cukup teryakinkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada saat wawancara. Ngga ada yang bersifat akademik dan lebih kepada rutinitas dan perkembangan anak. Seminggu setelahnya dijadwalkan untuk observasi anak. Sekali lagi, mereka cukup akomodatif dengan perbedaan waktu ini. Jadwal observasi kelompok yang seharusnya jam 9 pagi dimundurkan jadi jam 2 siang waktu Jakarta.

Saat observasi pun tidak ada pertanyaan yang ngga wajar seperti salah satu SD yang menanyakan siapa proklamator Indonesia kepada anak TK. Semua pertanyaan benar-benar sesuai apa yang seharusnya anak umur 6 tahun tahu. Warna dasar, angka dasar, bentuk dasar, dsb. Ketika observasi one on one pun, gurunya juga dipilihkan yang berbahasa Inggris.

Beberapa minggu kemudian, surat penerimaan pun diterima. Kami cukup lega karena ngga menyangka alhamdulillah semua dimudahkan untuk pencarian SD ini meskipun dari jauh. Masalah tempat tinggal setelah dari London pun jadi lebih jelas setelah tau dimana sekolah buat enam tahun ke depan (salah satu hal baik dari belum punya rumah, pilihan tempat tinggal kami jadi lebih fleksibel).

Sudah diputuskan karena jarak ke tahun ajaran baru tinggal 6 bulan, selama 6 bulan ini kami hanya akan belajar sendiri. Karena toh semua sekolah di Jakarta pun tidak ada yang berlangsung offline.

Dulu saya pikir jeda 6 bulan itu sebentar. Tapi, ternyata dalam waktu enam bulan ini, jeda antara sekolah formal terakhir di Alfred Salter dan tahun ajaran baru ini, banyak sekali hal yang mengubah pandangan saya tentang sekolah. Menjalani rutin baru yang terbentuk sejak pandemi di London, mulai banyak baca tentang homeschool, mengikuti beberapa akun orangtua homeschool luar negeri (susah sekali buat ngga iri), terutama melihat pesatnya perkembangan anak ini selama lockdown, baik di London, maupun beberapa bulan tanpa sekolah di sini, perasaan terusik makin sering dirasakan.

Merasakan ‘nikmatnya’ unschooling, melihat beberapa anak homeschool, melihat banyaknya anak-anak yang sama sekali tidak menikmati sekolah dari rumah selama setahun lebih, dan akhirnya jadi sama sekali ngga belajar apapun, jadi buat saya semakin bertanya-tanya, dengan kondisi saat ini, dengan kondisi pendidikan di Indonesia saat ini, apakah ‘kembali’ ke sekolah formal adalah pilihan yang tepat?

Saya belum tau jawabannya.

Tapi, semakin dekat tahun ajaran baru, perasaan malah semakin galau. Kehilangan semua fleksibilitas dan kebebasan dalam belajar selama ini buat saya agak khawatir. Selain itu banyak kekhawatiran kecil yang ntah penting atau ngga. Antusiasme menyambut sekolah baru jadi ngga seperti yang dibayangkan.

Senin ini orientasi hari pertama sudah dimulai dan senin depan akan menjadi hari pertama dari perjalanan panjang yang kami ngga tau akan jadi seperti apa.

Karena kami ngga tau, makanya kami ingin cari tau. Semoga apapun keputusan yang diambil, apapun yang ada di depan, akan jadi pelajaran baru yang bisa bermanfaat buat semua.

Bismillah.

Semangat, Be.

(Mami kali yang semangat).

Author:

Pas special, J'ai seulement besoin de beaucoup de privee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s