Posted in Travel, Visa

(Frustasinya) Mengurus Visa UK Tier 5 Government Exchange (PBS Partner+Child)

Sepertinya Inggris punya jodoh yang panjang dengan kami. Terutama London. Saya, setelah pertama kali ke sana tahun 1994 selama tiga hari, kembali tahun 2017 selama seminggu, tahun ini dikasih rejeki lagi untuk kembali. Kali ini selama setahun.

Pak Dokter yang dua tahun lalu ke London buat nengok adik saya yang lagi S2 di sana, tahun ini dapet rezeki buat kembali ke London dan bekerja di rumah sakit universitas yang sama dengan adik saya.

Perjalanan menuju London kali ini agak berbeda. Proses yang panjang, materi yang tidak sedikit, dan sesi menunggu yang terus menerus. Setelah dua tahun lalu Pusing urus visa turis, kali ini London bukan lagi sebagai destinasi wisata, tapi rumah untuk setahun ke depan dan sekarang visa yang harus diurus adalah visa tier 5.

Visa tier 5 bukan visa yang umum buat diurus. Ngga satupun saya ketemu entry tentang ini. UK punya banyak sekali tipe visa. Selain visa turis, ada yang populer juga visa tier 4 buat yang mau sekolah. Ini sudah banyak sekali yang nulis. Visa Tier 5 termasuk ke dalam visa kerja dan ini sendiri punya beberapa kategori. Dalam hal ini, yang kami urus adalah Tier 5 Government Exchange.

Ini adalah visa untuk kerja yang mana sponsornya adalah salah satu lembaga pemerintah Inggris. Berhubung Pak dokter ya dokter, lembaga yang mensponsori adalah General Medical Council. Saya ngga akan menjelaskan proses panjang yang dilewati sampai akhirnya bisa tembus birokrasi Inggris yang subhanallah ribet dan mahalnya, tapi saya cuma akan nulis tentang mengurus visa tier 5 Government Exchange yang ngga kalah ribet, menguji kesabaran dan mahal. Saya ngga tahan buat mengulang kata mahal berkali-kali.

Website pengurusan visa UK sekarang pindah ke visas-immigration.service.gov.uk. Berlaku buat semua jenis visa. Setelah masuk kita bisa ikutin aja sampai nanti ada pilihan jenis visa apa yang akan kita apply.

Visa tier 5 ini tidak bisa diurus dalam satu aplikasi seperti terakhir kali saya mengurus visa turis. Jadi, kami mengurus 3 visa terpisah yang berhubungan, dalam tiga akun yang terpisah :

  1. Pak Dokter mengurus visa tier 5 Government Exchange.
  2. Saya di kategori PBS (point based system) tier 5 Dependant Partner Visa.
  3. Langit PBS tier 5 dependant child visa.

Tiga aplikasi ini kurang lebih sama untuk daftar pertanyaannya. Lebih jelas dan bagus juga tampilan webnya dibanding yang lama. Setelah pertanyaan standar yang berlaku juga buat turis selesai diisi, karena ini visa kerja dan tinggal, kami harus mencantumkan lokasi pengambilan Biometric Residence Permit (BRP).

BRP diambil sesampainya di kota tujuan di kantor pos terdekat. Kita cuma perlu input kode pos tempat tinggal kita selama di sana. Karena belum ada tempat tinggal, kita bisa masukan kodepos penginapan. Nanti akan muncul alamat kantor post terdekat untuk pengambilan BRP ini.

Setelah sesi ini, kita akan langsung diarahkan ke website Immigration Health Surcharge buat bayar asuransi kesehatan. Isi kembali beberapa data standar lalu secara otomatis akan keluar berapa biaya yang harus dibayarkan.

Sebelumny, kami sudah baca perkiraan biaya yang dibayarkan. Tapi, kenyataanya, jumlah yang harus dibayarkan jauuhhhhh LEBIH BESAR dari yang tercantum di guidelines. Punya pak dokter sedikit lebih besar, punya saya dan langit 2x lebih mahal dari pak dokter.

Kami sudah sempat membayar dulu punya Pak Dokter karena berpikir bedanya hanya sedikit dan berasumsi mungkin ada kenaikan. Biarpun hati berat, punya saya pun sudah dibayar, dengan berasumsi ini sekalian Langit. Tapi, ketika masuk ke aplikasi Langit dan ternyata harus bayar jumlah yang sama seperti yang saya bayar, barulah kita berinisiatif untuk kirim email dan menanyakan hal ini.

Update : sampai di sini, kami mengirim email lagi perihal mahalnya asuransi ini. Ditunjukan bukti pembayaran dan bukti ketentuan jumlah yang seharusnya dibayarkan, dan setelah 2 minggu, kelebihan pembayaran kami dikembalikan. Fair ya. Jadi, kalau dirasa memang ada yang ngga sesuai, boleh banget ditanyakan.

Jangan salah, untuk pertanyaan via email ini juga ada biaya. Visa UK ini mengeksploitasi semua hal terkecil. Buat satu email, kami harus membayar lagi £5.48. Bener-bener.

Email dijanjikan akan direspon dalam dua hari kerja. Jika tidak ada respon kita disuruh telpon langsung. Absurd. Tapi, dalam 2 hari sudah dijawab yang mana jawabannya pun ngga terlalu membantu. Jawaban standar CS aja. Pada akhirnya kami tetap harus bayar harga asuransi kesehatan yang muncul otomatis di layar, kalo mau aplikasi visanya dilanjutkan. Kalo ngga, ya udah. Semua prosesnya tidak bisa paralel, harus selesai di satu hal baru lanjut ke step berikutnya.

Selesai dengan asuransi kesehatan, akan diarahkan kembali ke website visa. Kali ini untuk bayar visa itu sendiri. Dikasih dua piihan yang standar atau yang ekspress. Standar selesai diproses dalam 15 hari kerja, ekspress dalam 5 hari kerja dengan biaya dua kali lipatnya. Kami tetap pilih yang standar biarpun secara waktu ketat sekali kalo hitung 15 hari kerja.

Selesai pembayaran, seluruh aplikasi sudah lengkap dan bisa diunduh untuk kemudian dicetak dan dibawa pada saat perjanjian. Tapi, tunggu dulu. Masih ada drama-drama selanjutnya.

Aplikasi visa beres kita diarahkan ke website VFS untuk upload dokumen dan perjanjian. Ada tujuh step yang mana tahap 1-4 masih lancar. Di tahap 4 dijembreng servis-servis yang ditawarkan untuk membuat pengurusan visa lebih menyenangkan dengan membayar sejumlah uang. Kami skip semua. Di tahap 5 ada sesi document upload. Di sini mereka kasih pilihan lagi, bisa upload sendiri gratis atau pakai upload servis berbayar mereka.

Ini pentingnya punya semua dokumen penting yang tersimpan di dalam komputer atau apapun itu. Karena semua dokumen sudah ada, kami jelas pilih upload sendiri. Gampang kan mustinya selama semua tersedia? You wish.

Berkali-kali coba upload semua dokumen dari awal sampai akhir, setelah nunggu lama berakhir dengan Ooops Something Went Wrong. Try again later. Akhirnya setelah dua jam ngga berhasil, nyerah. Lanjut besok pagi lagi. Mungkin lagi penuh juga antriannya.

Sebelum subuh udah kembali duduk di depan laptop dan coba lagi. Masih gagal juga sampai akhirnya pak dokter nemu cara dan berhasil, pas upload di bagian aplikasi saya.

Jadi, pada saat upload dokumen, MASING-MASING HARUS DIUPLOAD SATU PERSATU, bukan sekaligus. Ini berlaku buat visa turis juga. Karena ini sudah di website VFS untuk appointment. Sebelumnya sudah ada yang bilang juga bahwa sekarang dokumen visa UK turis harus diupload di website VFS.

Misal kita upload dokumen bukti finansial, jadi kita upload dulu, kemudian ke bawah untuk centang box ‘I have read bla bla’ lalu klik upload. Tunggu beberapa saat kalo dokumennya berhasil diupload, ada tulisan successfully upload dan di bagian samping akan muncul list dengan nama dokumen tersebut. Ulang proses tersebut untuk dokumen-dokumen selanjutnya sampai semua lengkap.

Setelah semua selesai, bisa pilih continue untuk booking tanggal appointment. Di sini kembali kita dipaksa untuk membayar sesuatu yang seharusnya menurut saya gratis. Slot standard appointment yang gratis sudah penuh sampai 10 hari ke depan dari tanggal saat itu. Slot yang tersisa hanya yang premium lounge, premium servis, atau premium servis di prime time. Ckckckckck. Tobat.

Kecuali uang bukan masalah, sangat disarankan mengurus visa UK, apapun jenisnya sesegera mungkin. Sudah bisa mulai diurus 90 hari dari tanggal keberangkatan.

Kami ngga punya pilihan dan bukan kemauan sendiri juga buat urus mepet-mepet. Karena visa tier 5 ini panjang sekali prosesnya dan perlu nunggu berbagai dokumen dari berbagai institusi yang berhubungan untuk urus visa, belum tiba-tiba ada dokumen yang ngga sesuai dsb, ini sudah yang tercepat yang bisa diusahakan.

Akhirnya pilih tambahan servis paling murah di tanggal tercepat dan waktu paling pagi yang tersedia. Berkali-kali saya rapal doa dalam hati, semoga semuanya berkah. Takut kalo hitung semua yang sudah dikeluarkan dan niat ngga lurus sehingga ngga jadi apa-apa.

Dokumen sudah diupload, tanggal sudah dibooking, tinggal tahap ke tujuh yang terakhir buat bayar. Tapi, kesabaran masih diperlukan ternyata. Berkali-kali teken confirm payment ngga bisa-bisa. Logout dan masuk lagi, diarahkan ke tahap dua dan jalanin lagi sampe tahap tujuh, box confirm paymentnya ngga juga bisa. Betul-betul bikin frustasi.

Switch ke aplikasi pak dokter yang tadinya upload dokumen masih terus ngga bisa, tapi di satu titik tiba-tiba bisa dan berhasil semua diupload, sampai pilih tanggal dan mau bayar, box konfirmasi pembayaran tetep ngga bisa diteken. Entah mau apalagi ini.

Nyerah dengan aplikasi saya dan pak dokter, saya pindah ke aplikasi Langit yang masih dalam tahap bayar asuransi. Kalo kemarin-kemarin masih banyak pertimbangan sama bayar ini itu, di aplikasi Langit ini saya ngga mau berenti selagi masih bisa. Saya semakin belajar kalo yang lebih berharga itu waktu dan kesempatan bukan uang. (Halah).

Selesai bayar asuransi super mahal, balik ke aplikasi buat bayar visa, berhasil, lanjut ke webiste VFS buat upload dokumen, berhasil dalam sekali coba, lanjut ke booking appointment, tanpa ragu bayar yang paling murah, pesen paling pagi di tanggal paling deket, klik konfirmasi pembayaran, BERHASIL, lanjut terus sampai akhirnya bukti pembayaran dikirim ke email dan berakhir pula seluruh rangkaian proses njelimet ini. Aplikasi langit yang tadinya masih jauh dari komplit, tiba-tiba jadi yang pertama selesai semua. Mungkin karena anak kecil belum banyak dosa?

Dalam satu tarikan nafas, tiga kali pembayaran dibuat. Saya yakin limit kartu kredit Pak Dokter akan diberi kenaikan drastis bulan depan .

Keberhasilan di aplikasi Langit buat saya penasaran. Saya coba lagi punya saya, beberapa kali tetap ngga berhasil. Box konfirmasi pembayaran tetap ngga bisa diklik. Saya logout buat seratus kalinya dan pindah ke aplikasi Pak dokter. Waktu di halaman konfirmasi pembayaran, saya coba klik lagi di bagian servis yang diambil. Hal ini akan membawa kita kembali ke tahap kedua. Saya coba ikuti terus tanpa ada penambahan apa-apa seperti semula dan waktu sampe di halaman konfirmasi pembayaran lagi, saya teken boxnya dan akhirnya, keluar lah halaman selanjutnya buat input kartu pembayaran. Sisanya semua berhasil sampai bukti pembayaran diamankan.

Tinggal punya saya yang belum.

Saya coba sekali lagi pakai cara yang sebelumnya tetap ngga berhasil. Kedua kali saya coba cara yang saya pakai di aplikasi Pak Dokter. Saya ngga ngerti ini kebetulan atau gimana, tapi ternyata berhasil juga.

Jadi, kalo waktu konfirmasi pembayaran kotaknya ngga bisa diceklis, coba klik kotak kecil yang dekat daftar servis. Dengan menekan ini, akan dibawa kembali tahap pemilihan servis tambahan. Ikuti terus aja sampai balik ke konfirmasi pembayaran, klik kotaknya. Voila.

Sekian dulu. Bagian kedua akan diadakan setelah aplikasi diserahkan dan visa dikabulkan. Amiin.

Posted in Travel, Visa

(Frustasinya) Menunggu Visa UK Tier 5 Government Exchange (PBS Partner+Child) Bagian II

Lanjut dari bagian pertama

Kalo sebelumnya mengurus. Sekarang bagian keduanya yang sama menyiksa.

Setelah drama aplikasi online yang melelahkan, ternyata masih banyak episode-episode baru dalam mengurus visa kali ini.

Tanggal perjanjian sudah dipesan, ambil yang premium lounge, karena yang slot standar tersedia jauh sekali dari tanggal kita isi aplikasi onlinenya. Saya masih berpendapat ngga perlu ambil servis prioritas dengan menghitung dan asumsi waktunya masih cukup. Dijelaskan di website maksimal waktu proses 15 hari kerja. Saya memakai asumsi, biasanya jarang sekali yang sampai 15 hari kerja, bayangannya kaya visa turis waktu itu. Sekitar 7-8 hari kerja sudah keluar. Sedikit nekat karena kalo hitung 15 hari kerja itu, persis di tanggal kita berangkat. Tapi, bayar lagi sekian belas juta juga ngga terdengar menyenangkan.

Di hari perjanjian, kita masuk ke premium lounge yang ada ruang tersendiri. Tempat duduk di ruang tunggunya pake sofa, ada meja di depannya yang tersedia air mineral botol dan cemilan biskuit dan coklat. Boleh dimakan dan diminum sambil nunggu. Kalo yang standar counternya ada delapan, yang premium hanya dua.

Proses dan waktu tunggunya cukup cepat, tapi, perdebatan setelahnya yang cukup lama. Sementara saya masih bersikeras tetap di visa standar, Pak Dokter bersikeras buat bayar servis prioritas yang menjanjikan visa selesai dalam 5 hari kerja. Pada akhirnya, emang yang paling mahal itu waktu (dan belakangan, ketenangan jiwa). Dibayar juga harga servis prioritas sebelum kami dipanggil untuk biometric. Ruang biometric buat premium lounge ternyata juga terpisah dari yang standar. Jadi ngga perlu keluar dari lounge tersebut.

Setelah semua selesai, pulanglah dengan hati setengah ringan. Berat sebelah karena pada akhirnya visa UK ini benar-benar memeras seluruh energi dan dompet.

Saya pernah bikin rencana dalam hati, begitu visa diproses, akan mulai packing. Dulu mau pergi tujuh hari aja, udah packing dari dua bulan sebelumnya. Ini mau pergi setaun, bukan sekedar jalan-jalan, tapi juga pindah tempat tinggal, kurang dari sebulan sama sekali belum ada yang dikerjain.

Tapi, rencana tinggal rencana. Dulu bisa packing dua bulan sebelumnya karena tau visanya sudah terjamin. Sekarang, mungkin perpaduan dari banyak hal. Visa belum pasti, tau ini bukan sekedar jalan tujuh hari, dan ngga tau kapan tanggal pasti tiket kembali bisa dibeli.

Visa disubmit hari Selasa. Hari Rabu dapat email kalo sudah dalam proses di decision making centre. Hari Kamis dapat email lagi khusus saya kalo ada dokumen yang sudah diupload tapi mungkin mereka ngga bisa buka dan harus dikirim ulang karena mereka ngga bisa bikin keputusan tanpa itu. Langsung saya kirim saat itu juga dengan perasaan lega karena tau ini harga yang dibayar beli servis prioritas.

Harapan saya hari Senin harusnya email yang mengabarkan visa selesai sudah ada. Tapi ternyata ngga ada. Waktu kita submit, petugasnya bilang, kalo ga ada email, 5 hari kerja tetep kesini aja. Biasanya udah ada.

Biarpun agak kurang valid, tapi kami tetap ke VFS dengan berpegang pada omongan petugasnya. Antri cukup lama dan bener aja, ternyata memang belum ada. Setelah minta dicek, petugasnya bilang cuma punya Pak Dokter yang udah ada statusnya, dalam pengiriman. Sedangkan punya saya dan Langit masih tanpa status.

Pulang dengan berat hati.

Besoknya email masuk ngabarin kalo punya Pak Dokter udah bisa diambil. Alhamdulillah dapet. Tapi, setelahnya hari jadi terasa panjang sekali. Tiap notifikasi email muncul, perasaan jadi ngga enak sendiri. Semua jenis email saya unsubscribe.

Kami ke VFS hari Selasa. Rabu punya Pak Dokter diambil. Kamis saya lewatkan dengan uring-uringan sambil beratus-ratus kali ngerefresh email. Jumat pagi berusaha menenangkan diri sambil terus berpikir apa yang buat punya saya dan Langit belum selesai.

Jumat setelah zuhur saya masih berpikir buat nunggu sampai Selasa dan melewatkan weekend dengan bertanya-tanya. Tapi, setelah ngga tahan nunggu, saya mutusin buat dateng dan minta info lebih. Ngga papa ngga ada, tapi harusnya udah lebih jelas sampe mana karena sudah 8 hari kerja.

Dalam perjalanan masih juga terus refresh email sambil terus minta sama yang punya segala urusan. Sampai VFS agak rame dan antrian pengambilan cukup panjang. Di kursi tunggu masih terus refresh email sambil dibacain. Ngebayangin lewatin weekend masih tanpa visa sedangkan waktu brangkat tinggal seminggu lagi, kayanya mau apa-apa serba salah.

Waktu liat di monitor antrian masih 18 nomer lagi, saya coba refresh email sekali lagi (ini padahal pake push mail juga, saking ga sabarnya), dan alhamdulillah, email yang sangat diharapkan AKHIRNYA muncul di inbox.

Baru bisa nafas lega.

Alhamdulillah punya Langit juga ada.

Alhamdulillah lagi dua-duanya sesuai harapan biarpun fotonya jauh sekali dari ekspektasi. Tapi, siapa peduli?

Jadi, sepertinya, kalau untuk visa yang long stay baik untuk kuliah atau kerja, meskipun kita bayar servis prioritas yang bilang 5 hari kerja visa selesai, ekspektasinya harus lebih diturunkan. Karena mungkin pertimbangannya lebih banyak, dokumen juga lebih ribet, dan sebagainya. Mungkin 8-10 hari cukup ideal. Sebenernya kalo dari awal jelas 8-10 hari kerja kaya visa standar, ngga akan jadi uring2an, tapi karena taunya 5 hari plus udah bayar lebih yang jumlahnya juga ngga sedikit, jadi sisa waktu tunggunya jadi tersiksa bener🙁.

Dengan distempelnya visa UK tier 5 ini, satu langkah besar sudah selesai. Tapi, perjalanan masih panjang (dan melelahkan). Semoga semua selalu dimudahkan, diberi kelancaran, dan akhirnya semua yang sudah dilewati dan dikeluarkan bisa bawa banyak keberkahan.

Amin.

Posted in Travel, Visa

Mengurus Visa Korea 2019 (dan Mengecek Progres Aplikasinya)

Satu lagi dari Mengurus Visa Series😁.

Setelah mengurus Visa Schengen di TLS Contact, Visa UK di VFSVisa Jepang di JVAC, tahun ini giliran visa Korea di Kedubes Korea.

Sementara tiga visa sebelumnya sudah melalui agen resmi yang ditunjuk, untuk visa Korea, sampai tulisan ini dibuat masih diurus melalui Kedubes Korea Selatan di Jalan Gatot Subroto. Persisnya sebelum RS Medistra.

Meskipun ngga sesimpel visa Jepang, visa Korea tingkat keribetannya masih bisa dikerjakan dengan hati senang. Jumlah aplikasi cukup 5 halaman dengan pertanyaan yang tidak merepotkan. Persyaratan juga cukup mudah dan standar, seperti :

1. Paspor yang masih berlaku minimal 8 bulan.

2. Fotokopi paspor halaman utama.

3. Fotokopi paspor yang berisi visa negara-negara OECD yang sudah pernah dikunjungi. Daftar negara OECD bisa dicari sendiri. Kasus saya,saya punya tiga visa negara OECD yang sudah pernah dikunjungi yaitu Prancis, Inggris, dan Jepang. Jadi halaman paspor yang terdapat visa Schengen, UK, dan Jepang saya lampirkan. Negara lain selain itu ngga perlu.

4. Formulir aplikasi yang bisa di download melalui situs overseas.mofa.go.kr. Karena saya baru pertama kali, jadi pilih form yang single entry.

5. Fotokopi kartu keluarga karena pergi sekeluarga.

6. Bukti keuangan. Seperti biasa, kami ngga melampirkan slip gaji. Hanya fotokopi rekening tabungan 3 bulan terakhir dan SPT. Baru visa Korea ini yang spesifik minta SPT. Saya sempat baca gimana kalo ngga melampirlan SPT, ada yang nulis harus melampirkan surat keterangan tidak punya SPT. Malah jadi ribet.

Bukan ngga mau melampirkan, tapi yang tahun ini pada saat visa mau disubmit belum selesai. Kalo nunggu selesai agak mepet waktunya karena paspor Pak Dokter mau dipake. Jadi akhirnya melampirkan SPT tahun lalu.

7. Surat keterangan kerja dalam bahasa Inggris. Untuk ini kami melampirkan SIP dan surat tugas Pak Dokter yang sudah dilengkapi translasinya. Waktu di loket petugasnya bilang ini sebenarnya harus dilengkapi sama surat pernyataan dari direktur rs yang menyatakan bahwa X adalah benar karyawan RS Y bertujuan untuk mengajukan visa Korea dalam rangka … bersama ….. pada tanggal … sampai … . Seperti yang saya ajukan sebelumnya ke tempat saya kerja di visa Schengen dan UK.

Berhubung kali ini kita pengen lebih simple, jadi supaya ngga perlu minta surat ini itu (dan ketauan mau pergi) jadi hanya melampirkan dokumen tersebut. Kata petugasnya, “Sekarang saya kasih dispensasi ya, lain kali harus pake”. Beginner’s luck. Alhamdulillah. Kemungkinan lain, bisa jadi karena di paspor juga udah tercantum tiga visa negara OECD, jadi dianggap sudah pernah lolos visa yang lebih ketat.

Udah cuma itu aja. Saya lampirin bukti booking tiket dan hotel tapi semua dikembalikan. Jadi TIDAK PERLU booking tiket dan hotel dulu buat apply visa korea.

Oya, karena kami pergi bertiga, semua dokumen di atas dibuat tiga rangkap ya. Semua ada di aplikasi masing-masing paspor.

——————————————–

Untuk submit aplikasi visa Korea ini ngga perlu janjian tanggal tertentu kaya tiga visa sebelumnya. Bisa langsung dateng, TAPI, harus perhatikan jamnya. Untuk submit aplikasi hanya bisa di hari Senin-Jumat jam 09.30-11.30 dan untuk pengambilan di jam 13.30-16.00. Lewat dari itu ngga bisa.

Seperti biasa, ngga ada visa tanpa drama. Keputusan-keputusan kecil seperti pilih jalan yang mana bisa menyebabkan yang tadinya ngga telat jadi nyaris telat. Jam 11.15 masih menghadapi macetnya Gatsu karena milih ngga naik tol cuma karena liat antrian pas masuknya panjang. Ternyata setelahnya lancar. Akhirnya travel agen tunggal yang urus visa turun dari mobil dan naik ke jembatan penyebrangan jalan kaki sampe ke lokasi. Sampe di gerbang satpam jam 11.20. Udah ngos-ngosan. Oya, kalo bawa mobil, ngga bisa parkir di halaman kedubesnya ya. Kami parkirnya di RS Medistra.

Satpamnya masih nanya ke temennya ini jam berapa, karena udah mepet akhirnya disuruh masuk dulu ke dalem buat ambil nomor antrian. Setelahnya baru keluar lagi buat bayar.

Jadi, alur normalnya adalah ketika sampai ke kedubes Korea, yang pertama dilakukan adalah melakukan pembayaran ke KEB Bank Hana yang ada di depan gerbang untuk loket submisi aplikasi. Bayarnya harus cash ya.

HARGA TERBARU VISA KOREA SINGLE ENTRY 2019 : Rp 592.000.

Udah naik 30 ribuan dari sebelumnya.

Sampai di banknya tinggal bilang ke satpam mau bayar visa,dikasih nomer antrian yang waktu itu sama sekali ngga antri, dengan tellernya tinggal bilang bayar visa buat single entry/multiple tergantung visanya. Bayar tunai setelahnya dikasih stiker kecil kaya stamp supermarket yang buat dikumpulin dapet piring itu lho. Cuma besar sedikit. Karena apply buat tiga aplikasi, bayarnya dikali tiga dan dapetnya juga tiga stiker.

Selesai semua pembayaran kembali ke gerbang masuk dan ruang submisi. Tunggu sampai nomer antrian dipanggil. Kalo apply visa melalui agen, pengecekan berkasnya bisa sambil duduk depan petugasnya, di Kedubes Korea masih gaya lama yang kaya beli karcis kereta api. Sebenernya ngga masalah kalo dokumen sudah lengkap semua. Ngga akan lama. Tapi kalo ada yang kurang itu, satu nomer bisa jadi lama banget. Apalagi kalo dalam satu nomer antrian itu submit sampai beberapa aplikasi. Selesai dicek dan semua aman, dikasih lembar putih tanda terima buat pengambilan. Selesai deh.

Visa single entry selesai dalam 6 hari kerja sedangkan multiple entry 1 hari kerja. Sambil nunggu bisa cek progress aplikasi kita via Korean Visa portal di http://www.visa.go.kr.

Di portal ini, karena kita ngga ngerti Han-Geul, di pojok kanan atas bisa pilih ‘English’ lalu nanti di sebelah kiri ada tulisan ‘Check Application Status’.

Nanti akan keluar kolom-kolom.

Pilih yang passport number (bukan application number) : isi nomor paspor TANPA spasi.

English Name : isi dengan NAMA BELAKANG baru NAMA DEPAN.

Tempat tanggal lahir tinggal pilih di kalendarnya.

Klik search baru nanti keluar statusnya apakah masih ‘under review’ atau seperti punya kami di hari kerja ke lima statusnya berubah jadi ‘approved’.

Di lembar putih untuk pengambilan yang dikasih petugas setelah kita submit aplikasi, ada tanggal minimal pengambilan. Kita tidak bisa ambil sebelum tanggal tersebut meskipun di portalnya sudah tertulis ‘approved’. Jadi, perhatikan juga tanggal di lembar putih untuk pengambilannya kalo mau ambil paspornya. Ngga akan dilayani kalo kita ambil sebelum tanggal yang tercantum.

Pengambilan paspor hanya bisa dilakukan siang hari jam 14.00-16.00. Ada yang bilang dari jam 13.30, tapi di hari saya ambil loketnya bahkan baru buka jam 14.15. Lokasi pengambilan sama persis dengan submisi aplikasi.

Kalo pas apply pake nomer antrian, pengambilan sistemnya menaruh kertas putih bukti pengambilan di keranjang merah. Tinggal nunggu dipanggil secara manual. Pake suara manusia. Suka ngga kedengeran apalagi kalo rame dan berisik kaya pas saya ambil. Petugasnya pun jadi sering mengulang-ulang manggil. Kalo satpam di bank biasanya bantu manggil ulang kalo ada nomer yang dipanggil ngga dateng-dateng, satpam di kedutaan ini cuma duduk dan memantau keadaan. Mustinya sih, bisa lebih diberdayakan ya atau kalo ngga petugasnya dilengkapi dengan pengeras suara.

Tapi,selama visanya dikabulkan, ya sudahlah ya😁

Semoga membantu!

Posted in Review, Travel, Visa

Mengurus Visa Jepang 2018 Single Entry di VFS JVAC

Setelah mengurus visa Schengen di TLS Contact tahun 2016, mengurus visa UK di VFS Kuningan City tahun 2017, tahun 2018 ini alhamdulillah dapet pengalaman baru lagi buat mengurus visa Jepang, kali ini di VFS Lotte Avenue.

Kalo dibandingin dengan dua visa sebelumnya, visa Jepang ini jadi keliatan gampang banget (beuh,sombongg). Formulir isian cuma dua lembar, kelengkapan dokumen ngga ribet, bikin perjanjian ngga perlu jauh-jauh hari, sampe saya sedikit lengah juga. Bikin bank statement dan ‘ngisi’ rekeningnya juga agak mepet.

Buat yang belum tau, mengurus visa jepang sekarang bukan lagi di keduataan besar Jepang di jalan Thamrin. Sejak 15 September 2017, pengurusan visa Jepang dilakukan melalui agen VFS Japan Visa Application Centre (JVAC) di Lotte Avenue Kuningan lantai 4. Buat saya ini nilai plus banget. Lebih deket dan lebih ngga ribet.

Dokumen yang diperlukan kurang lebih sama dengan visa lainnya. Untuk visa single entry bisa disiapkan :

  1. Paspor yang masih berlaku minimal 6 bulan (bahkan mereka TIDAK minta fotokopinya!)
  2. Formulir aplikasi visa single entry (bisa diunduh dari website VFS)
  3. Bukti pemesanan tiket pulang-pergi
  4. Bukti pemesanan hotel
  5. Itinerary selama di Jepang (ada formulir khusus sendiri yang bisa diunduh)
  6. Fotokopi KTP
  7. Fotokopi Kartu Keluarga (karena kami pergi bertiga)
  8. Fotokopi akta kelahiran (kalo pergi sendiri, tapi saya sertain aja)
  9. Bukti keuangan 3 bulan terakhir yang mencantumkan nama dan nomer rekening yang bersangkutan

Gampang banget kan?😁

Ngga perlu terjemahan ini itu kaya visa UK.

Isian formulirnya pun sederhana sekali. Dua lembar yang sangat menyenangkan, hehe. Untuk perjanjian penyerahan dokumen, ada dua pilihan ; bisa dengan perjanjian atau walk-in. Saya sebelumnya ngga tau kalo bisa walk-in, tapi ternyata banyak juga yang walk-in.

Counter pengurusan visanya banyak, jadi ngga usah khawatir nunggu lama. Untuk pembayarannya, sampai saat saya ke sana hanya bisa TUNAI. Saya sempat keluar lagi buat ke ATM karena saya pikir bisa debit. Harga visanya pun ngga semahal UK dan Schengen. Kemarin saya bayar Rp 1.605.000 untuk tiga orang termasuk biaya pemberitahuan via sms Rp 30.000. Lama pemrosesan visanya menurut websitenya empat hari kerja, menurut petugasnya lima hari.

Di hari keempat saya mulai gelisah ngecek email dan sms. Hari kelima ngga ada email atau sms mulai insecure. Ternyata kita bisa cek status aplikasi kita di webnya VFS. Tinggal masukin nomer referensi yang terdapat di kertas putih untuk pengambilan paspor dan nama belakangnya. Nanti akan keluar statusnya.

Waktu saya cek, hasilnya ternyata sudah ‘ready for collection’. Saya beberapa kali cek lagi email dan sms tetep ngga ada notifikasi dari VFS JVAC.

Berhubung orangnya ngga sabaran dan penasaran, besoknya langsung nyamperin dan ternyata emang udah selesai. Di akhir sebelum saya ninggalin loket saya sampein kalo saya udah bayar tambahan sekian rupiah untuk dapat notifikasi dan itu ngga ada. Bahkan email pun ngga ada. Saya ngga perlu uangnya balik, tapi mereka ngga bisa anggep lalu hal penting seperti itu. Orang berhak dapat hal yang sudah dibayar.

Visa single entry sudah duduk manis. Tinggal siap-siapnya yang bikin meringis.

Selamat liburan!

 

Review Lain tentang Tokyo trip :

Japan Airlines to Tokyo with Toddler

Prayer Rooms in Tokyo

Eating in Tokyo

Airport Transfer Ramah Koper (Paris, London, Tokyo)

Posted in Review, Travel, Visa

(Pusingnya) Mengurus Visa UK-Inggris Kunjungan (Sekeluarga) Bagian II

Lanjutan dari bagian I.

Sambil menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan, bisa dimulai pembuatan akun untuk mendaftar visa Inggris di visa4uk.fco.gov.uk.

Untuk apply visa sekeluarga, hanya perlu satu akun. Akun tersebut dapat digunakan untuk mendaftarkan anggota keluarga lain ataupun orang lain. Setelah akun dibuat, log in, nanti ada pilihannya ‘apply for myself’ dan ‘apply for someone else’. Pilih yang ‘apply for myself’ untuk daftar diri sendiri, pilih yang kedua untuk mendaftarkan orang lain.

Visa Inggris memiliki kategori-kategori pertanyaan yang jauh lebih banyak dibanding visa Schengen. Perlu kesabaran dan ketelitian waktu ngisinya. Saya menyiapkan dan mengisi seluruh aplikasi online sendiri untuk saya, ayah, suami, dan anak.

Tidak perlu terburu-buru karena jawaban yang telah kita masukan bisa disimpan dan dilanjutkan lagi di lain waktu. Jawaban pun masih bisa diubah atau dihapus selama kita belum menekan pilihan ‘submit application’.

Bagian tersulit adalah diperhitungan ‘income dan expenses’. Baiknya sediakan kalkulator supaya angka yang dimasukan tepat dan logis. Selain itu, kita juga diminta memasukan angka ke dalam GBP untuk pengeluaran dan pemasukan. Misal gaji sebulan 10 juta, kita diminta untuk mengkonversi angka tersebut ke dalam GBP. Meskipun kurs berubah-ubah, saya pakai kurs tetap yang ngga terlalu tinggi dan terlalu rendah. Waktu isi saya pakai dan asumsikan kurs 1 GBP =Rp 16.500,00.

Bagian lainnya ngga ada yang terlalu sulit, hanya perlu kesabaran. Saya memeriksa satu persatu aplikasi masing-masing sampai berkali-kali, dan selalu menemukan kesalahan. Ada aja yang salah. Tanggal lahir anak pake tangga lahir saya, nama depannya anak pake nama depan saya, nomor paspor anak pake nomer paspor suami, dan masih banyak lagi. Mungkin karena siwer juga ngisi semua kolom untuk empat aplikasi. Bahkan sebelum ‘submit application’ pun, masih saya ulang lagi baca satu persatu.

Tidak seperti visa Schengen yang pembayarannya tunai di loket pada saat kita datang, visa Inggris pembayarannya online dengan kartu kredit berlogo Visa/Mastercard. Harganya pun berbeda-beda tergantung visa yang kita apply.

Saya memilih tipe visa short stay- 6months- single entry harganya USD 110. Umumnya orang memilih visa multiple entry, tapi karena kami ngga berencana kemana-mana, jadi pilih yang single entry aja. Sayang juga bayar lebih lagi, hanya berlaku enam bulan, kalo memang dikabulkan.

Satu hal yang agak buat saya sedih, Langit pun bayarnya sama. Beda sekali sama yang visa Schengen yang GRATIS untuk anak di bawah enam tahun.

Selesai dengan pembayaran, kita bisa pilih waktu penyerahan dokumen. Ada tanggal dan jam yang bisa kita pilih. Setelah itu, nanti kita akan terima email konfirmasi mengenai pembayaran dan waktu perjanjian.

Setelah semuanya sudah lengkap, tinggal diprint aplikasi dan bukti perjanjiannya. Untuk visa Schengen, satu aplikasi hanya berjumlah sekitar lima (5) lembar. Sedangkan visa UK, satu aplikasi berjumlah tiga belas (13) lembar.

Hari H penyerahan dokumen, Alhamdulillah, semua lancar dan cepat. Kami pilih di hari Jumat jam 9 pagi. Kebetulan kosong banget. Waktu masih dicek dokumen, sudah dipanggil ke counter. Prosesnya juga cepat. Petugas VFSnya pun cukup kooperatif dengan saya yang bawa anak kecil.

Oya, tidak seperti Schengen yang aplikasi satu keluarga itu bisa jadi satu bundelan yang diperiksa di satu loket bersamaan, untuk visa Inggris, satu aplikasi tetap satu loket. Bahkan punya Langit pun diperiksa di loket sendiri. Jadi, kemarin kami dapat empat nomer antrian untuk empat loket yang berbeda.

Setelah selesai dengan pengecekan dokumen di loket, kita harus menunggu untuk dipanggil ke ruang biometric untuk pengambilan sidik jari dan foto. Setelah itu selesai.

Bersyukur sekali waktu kami datang antrian cukup sepi, karena Langit susah sekali untuk difoto. Nangis keras udah kaya mau disuntik. Padahal cuma disuruh duduk buat foto. Kami sampai keluar dua kali supaya orang lain ngga nunggu lama. Akhirnya foto Langit bisa diambil dengan cara digendong di atas pundak papanya, dimana papanya dalam keadaan setengah jongkok. Sedangkan saya, dibantu oleh satu petugas lain, berdiri di depan sebelah kamera sambil mengacungkan mainan-mainan supaya dia liat ke kamera. Leganya bukan main waktu petugasnya bilang sudah dapat foto yang bisa diambil.

Visa Inggris ini jenis-jenis biayanya detil banget. Pas pembayaran jangan sampai salah pilih jenis visa yang kita mau, karena harganya juga beda. Ngga cuma jenis visa, layanannya pun juga banyak sekali.

Misal, ayah saya sudah bayar online permohonan standar USD 110. Karena akan pergi ke negara lain dalam berapa minggu, akhirnya pake layanan prioritas dan tambah bayar 2,6 juta. Jadi, kalo untuk visa standar yang selesai dalam 15 jari kerja seperti saya dikenakan biaya Rp 1.430.000, untuk ayah saya yang dijanjikan selesai dalam 3-5 hari kerja, harga visanya tambah lagi sekitar 2,5 juta. Jadi total biaya untuk visa UK prioritas sekitar 4 juta.

Selain layanan prioritas, juga ada layanan premium lounge. Jika menggunakan layanan ini, ada ruang khusus sendiri, ga perlu antri loket, juga tersedia sofa yang empuk dan makanan ringan. Kalo berkenan membayar lagi tambahan 1 juta, bisa dipilih layanan ini.

Selain layanan prioritas dan premium lounge, ad juga layanan late appointment. Jadi bisa masukin berkas di luar jam kerja. Saya lupa jamnya. Kalo ngga salah antara jam 17.00-19.00 atau 18.00-20.00. Biayanya juga kurang tau. Ini pasti akan sangat membantu kalo ada yang perlu buru-buru.

Paspor ayah saya sudah dapat diambil dalam tiga hari kerja setelah penyerahan berkas, berikut cap visa UK di halaman paspornya. Benar-benar 3 hari kerja lho. Masuk hari Jumat, Rabu sudah bisa diambil. Selasa malam sudah dapat notifikasinya. Tapi, ya memang ada harga yang cukup tinggi bukan?Sedangkan tiga paspor lainnya masih harus menunggu lebih lama lagi.

Tapi, ternyata ngga selama yang diperkirakan. 7 (tujuh) hari kerja setelah berkas masuk, (weekend tidak termasuk), email yang ditunggu pun masuk. Visa dinyatakan sudah selesai diproses dan sudah dapat diambil di VFS Global.

Hasilnya? Alhamdulillah, waktu paspornya dibuka visa uk MULTIPLE ENTRY untuk 180 hari ada di dua halaman setelah visa Schengen. Entah kenapa dikasih multiple sedangkan saya hanya piloh dan bayar untuk single entry. Seinget saya ada perbedaan beberapa dolar kalo kita pilih single dan multiple. Tapi ya sudah, Alhamdulillah juga, hehe.

Setelah dua kali mengurus dua visa eropa sendiri, menurut saya kemungkinan visa ditolak itu cukup kecil seharusnya JIKA dokumen-dokumen kita cukup jelas. Jelas pulang pergi, nginep dimana dan berapa hari. Jelas bukti keuangannya, meskipun statusnya bukan karyawan tetap. Dua kali apply untuk visa UK dan Schengen, saya ngga melampirkan slip gaji sama sekali.

Menurut saya, punya tabungan khusus yang jumlahnya cukup memadai membantu juga. Memadai disini cukup untuk biaya hidup selama liburan di negara yang akan kita apply visanya (disesuaikan juga dengan banyaknya anggota keluarga yang ikut).

Dua kali apply visa eropa, saya pakai tabungan dana darurat saya, yang alirannya lebih banyak masuk dan sedikit keluar. Aliran keluar masuk uangnya tetap terlihat wajar tiap bulan. Jadi, ketika akan apply visa, ngga terlalu repot harus pinjem dana dengan jumlah besar.

Lepas dari segala keribetan dan kerepotan (juga kemahalannya), saya ngga (akan) kapok kayanya kalo harus mengurus segala dokumen selama masih bisa diberikan kelapangan rejeki, umur, dan sehat buat jalan-jalan.

Saya selalu percaya, uang dan waktu yang dihabiskan dengan senang hati dan buat hati senang manfaatnya akan lebih besar dari apa yang dikeluarkan. Semoga ya.

Selamat pusing sebelum liburan!

Review lain tentang UK trip

Malindo Air&Qatar Airways Flights (with a toddler) to London

Virgin Trains to Manchester and Liverpool

Airport Transfer Ramah Koper (Paris, London, Tokyo)

(Frustasinya) Mengurus Visa UK Tier 5 Government Exchange (PBS Partner+Child)

Posted in Review, Travel, Visa

(Pusingnya) Mengurus Visa UK-Inggris Kunjungan (Sekeluarga) Bagian I

Banyak ya kata dalam kurungnya.

Itu kata kunci yang selalu saya cari selama berhadapan dengan pengurusan visa Inggris ini dan ngga ketemu satu pun. Seperti review-review sebelumnya dan seperti biasa, karena ngga ketemu apa yang saya cari, makanya saya tulis.

Pengurusan visa Inggris ini sudah banyak sekali yang tulis. Tetapi, umumnya adalah individu, pelajar, atau pelajar yang akan bawa keluarga. Saya perlu yang hanya untuk kunjungan jangka pendek (6 bulan), dan untuk keluarga.
Sebenernya memang hampir ngga jauh beda dari segi dokumen yang disiapkan jika pergi sendiri. Tapi, beberapa artikel saya baca, ada di dalam satu keluarga, yang lain visa dikabulkan sementara ada satu anggota yang tidak.

Hampir semua entri tentang visa Inggris yang ada di halaman pencarian, saya baca satu per satu. Beberapa entri bahkan saya baca lebih dari sekali. Saya cari dengan berbagai kata kunci. Garis besar informasinya sama, tapi banyak hal-hal kecil yang berbeda dan buat saya ini sangat membantu. Semakin banyak baca, paling ngga keyakinan saya jadi lebih kuat.

Visa ini hal kedua paling ribet setelah pencarian tiket. Berbekal pengalaman (dan kesuksesan) mengurus visa Schengen sendiri, saya (awalnya) merasa kalo Visa Inggris ini ngga jauh berbeda.

Ternyata salah.

Visa Inggris, buat saya, dua ato bahkan beberapa kalinya mengurus visa Schengen dalam berbagai hal, dalam konteks yang kurang menyenangkan. Pengalaman mengurus visa Schengen sudah pernah saya tulis di sini.

Itulah kenapa kata dalam kurung pertama itu ‘pusing’ bukan ‘gampang’.

Untuk dokumen kurang lebih yang disiapkan sama seperti Schengen. Saya akan tambahkan perbedaan dengan Schengen per dokumen dengan cetak tebal.

1.Paspor yang masih berlaku dan Fotokopinya

Paling aman itu masih berlaku 8 bulan. Halaman yang difotokopi adalah halaman depan dan yang sudah terisi dengan stempel visa lain atau cap imigrasi.

Tidak seperti Schengen, visa Inggris mempunyai layanan prioritas yang artinya paspor dapat kembali lebih cepat dari waktu standar (visa belum tentu dikabukan). Jika ingin menggunakan layanan prioritas, fotokopi paspor HARUS SEMUA HALAMAN, biarpun tidak ada isinya.

2. Paspor lama dan Fotokopi

Sertakan paspor lama dan fotokopi halaman yang ada isinya, jika memang punya paspor lama.

Pada saat penyerahan berkas, paspor lama dan paspor baru ditahan.

3. Surat Keterangan Kerja/Sekolah

Saya dan ayah saya menggunakan surat keterangan kerja. Suami saya yang masih dalam pendidikan spesialis agak sedikit berbeda.

Tidak seperti visa Schengen yang lalu, untuk visa Inggris ini, suami saya yang saat ini masih mengikuti pendidikan dokter spesialis, tidak melampirkan surat keterangan sekolah dari departemennya. Sebagai gantinya, suami saya melampirkan tiga dokumen lain :

Surat Tanda Registrasi yang berlaku selama pendidikan spesialis (fotokopi).

– Surat Izin Praktek selama mengikuti pendidikan spesialis (fotokopi dan terjemahan).

– Surat penerimaan pendidikan spesialis (fotokopi dan terjemahan).

Kenapa malah lebih banyak? Ini sama sekali bukan persyaratan. Ini lebih dikarenakan minta surat keterangan dan tanda tangan kepala departemennya lebih ‘repot’ dibandingkan dengan menyiapkan tiga dokumen tersebut. Menurut saya sih, ya lebih gampang minta surat ya. Ngga perlu ribet terjemahin juga. Tapi, Alhamdulilah ngga ada masalah dengan dokumen yang dilampirkan.

4. Bukti Keuangan

Untuk dokumen ini, seperti visa Schengen yang lalu, saya hanya melampirkan surat referensi bank dan print out rekening koran.

Karena kami pergi dengan ayah saya, dan di aplikasi ini dicantumkan bahwa ayah saya adalah sponsor utama, maka surat referensi bank dan fotokopi rekening koran sponsor utama ada di setiap aplikasi anggota keluarga. Cukup fotokopinya dan aslinya ada di dokumen sponsor utama.

Saya tadinya ngga mau mencantumkan referensi bank saya. Cuma, karena saya pikir saya pergi sekeluarga, masa ngga ada satupun bukti keuangan keluarga saya. Meskipun memang di aplikasi kami bertiga saya cantumkan bahwa ayah saya yang menanggung hampir seluruh biaya perjalanan. Saya mencantumkan satu surat referensi dan bukti rekening koran.
Untuk jumlahnya, memang ngga ada jumlah wajib. Tapi memang sebaiknya dipikirkan jumlah yang pas untuk bepergian sekeluarga selama hari yang dihabiskan disana.

Jangan sampai total biaya yang dihabiskan untuk sekeluarga lebih besar dari jumlah yang tertera di rekening koran.

Seperti halnya pada saat visa Schengen, saya (dan ayah saya) tidak melampirkan slip gaji.

5. Bukti pemesanan tiket

Ini sama seperti Schengen, tinggal print bukti jadwal penerbangan pulang pergi. Untuk ini, semua tiket sudah dibeli.

6. Bukti pemesanan akomodasi

Seperti saran-saran lain pada umumnya, untuk pengurusan visa yang membutuhkan alamat jelas dan lengkap untuk dicantumkan pada aplikasi, lebih mudah jika melakukan pemesanan terlebih dahulu di situs situs seperti booking.com atau agoda yang memiliki kebijakan free cancelation.

Yang harus diperhatikan adalah, selain kebijakan FREE CANCELATION, pastikan juga di sebelahnya juga tercantum NO PREPAYMENT NEEDED.

Belajar dari kesalahan saya, saya memilih hotel dengan kebijakan free cancelation, tapi tidak memperhatikan kalau yang saya pilih mencantumkan prepayment needed.

Jadi, ketika tagihan kartu kredit datang, ada charge berapa persen dari tarif malam pertama yang dikenakan. Seperti DP. Melayang sudah berapa ratus ribu yg berharga.

Kata Pak dokter, harga belajar buka travel😢.

Jadi sekali lagi, jangan lupa perhatikan ya. FREE CANCELATION yang NO PREPAYMENT NEEDED.

7. Dokumen pelengkap lain dengan terjemahan, jika dibutuhkan terjemahan.

Berbeda dengan Schengen yang tidak meminta terjemahan (saya urus di TLS Contact), visa Inggris menyatakan dokumen yang tidak dalam bahasa Inggris harus diterjemahkan, lebih spesifik lagi, dengan penerjemah tersumpah. Saya melampirkan :

a. Fotokopi KTP yang masih berlaku dengan terjemahan

b. Fotokopi Kartu Keluarga dengan terjemahan

c. Fotokopi Akte Kelahiran dengan terjemahan

d. Fotokopi surat nikah tanpa terjemahan karena sudah bilingual.

Buat saya, dokumen-dokumen di nomer tujuh ini yang paling menyita waktu, biaya dan drama.

Sedikit cerita (biarpun emang udah panjang), dua minggu sebelum berkas visa masuk, ayah saya bilang kalo mau pergi bulan februari dan tanya apa bisa visa Inggris diurus sebelum atau sesudah dia pergi.

Saya setengah bete dan setengah panik karena kalo sebelum pergi, mepet, sesudah pergi terlalu lama. Visa Inggris dengan layanan standar perlu waktu 15 hari kerja. Kalo sesudahnya memang masih ada waktu, tapi terlalu lama buat saya. Bikin jadi ngga bisa mastiin apa-apa.

Akhirnya diputuskan diurus sebelum pergi yang akibatnya dokumen-dokumen harus disiapkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Penerjemah tersumpah yang kami hubungi pertama adalah karena alasan tarifnya jauh lebih murah dari yang lainnya. Dengan dokumen sebanyak ini, sangat membantu sekali. Meskipun murah, saya juga ngga asal pilih. Penerjemah ini ada di daftar penerjemah tersumpah yang dikeluarkan visa4uk.

Saya kirim semua dokumen yang akan diterjemahkan via email pada hari Juma’at dan disanggupi akan selesai pada hari Rabu depannya setelah jam makan siang.Pada hari dan waktu yang sudah ditentukan, saya hubungi beliau dan tidak ada respon. Bukan hanya saya, Pak dokter pun juga ikut menghubungi. Email, telpon, sms, semua tidak ada yang dibalas.

Perjanjian visa kami pada hari Jum’at sedangkan itu sudah rabu sore. Sangat mustahil untuk bisa mendapatkan penerjemah lain yang bisa menyelesaikan dokumen sebanyak itu selama satu hari. Selain itu, biayanya pasti ngga murah dan juga kalau tiba-tiba yang pertama muncul dan bilang sudah selesai, malah nanti jadi bayar double yang ngga perlu.

Kamis pagi kami coba terus hubungi, tetap ngga ada kabar. Saya sambil terus cari info apa mungkin visa ditolak karena ngga melampirkan terjemahan ktp, kk, dan akte. Saya ngga bilang kalo diterjemahin pasti dapat yaa, tapi setidaknya dengan melengkapi selengkap-lengkapnya paling ngga menghilangkan kekhwatiran akan ditolak hanya karena ngga melampirkan dokumen terjemahan. Setengah frustasi karena hal sederhana seperti ini.

Saya ngga masalah kalo memang belum selesai, cuma minta paling tidak kasih kabar.

Akhirnya, pada Kamis pagi saya menghubungi penerjemah lain yang sangat responsif dengan harga normal hampir tiga kali yang pertama. Saya memilih satu dokumen terpenting untuk diterjemahkan dan selesai pada hari itu juga, yaitu surat penerimaan spesialis.

Selain responsif, harga penerjemah kedua ini juga progresif. Karena saya minta selesai pada hari itu juga, saya dikenakan tarif ekspress. Harga normal sudah tiga kali penerjemah pertama. Harga tarif ekspress adalah dua kali tarif normalnya.

Karena ngga punya pilihan dan ngga mau ambil resiko, saya iyakan. Dijanjikan akan selesai sekitar jam 4 atau 5 sore.

Jam 14.45, satu email masuk ke inbox suami saya.

Penerjemah pertama menyampaikan bahwa semua dokumen telah selesai dan bisa diambil.

Selang lima menit, sebuah email masuk ke inbox saya.

Penerjemah kedua menyampaikan dia sudah selesai dengan dokumen

Kesimpulannya : ada harga, ada hasil kerja dan cara kerja. Terjemahan penerjemah kedua jelas lebih bagus. Kalo penerjemah pertama minta dibayar sebelum bekerja, penerjemah kedua minta dibayar setelah selesai bekerja.

Kalo boleh milih, saya pilih ketentuan harga yang pertama dengan hasil kerja dan kecepatan yang kedua.

Alhamdulillah, pada waktunya, semua dokumen yang perlu diterjemahkan didampingi terjemahannya pada saat penyerahan berkas.

8. Pasfoto 3,5×4,5 cm

Kami cetak masing-masing dua lembar, tidak satupun foto diambil dan terpakai oleh petugas VFS Global untuk aplikasi visa. Patah hati udah cape-cape cetak foto (lumayan mahal).

Kira-kira itu dokumen yang perlu disiapkan dari pihak pemohon. Sebenernya ngga seribet itu sih, cuma emang perlu waktu. Jadi, memang akan baik sekali kalo ngurusnya ngga mepet. Kecuali memang mau ambil layanan prioritas.

Saya akan bagi dua bagian karena sudah terlalu panjang. Lanjut di bagian dua untuk aplikasi.

Posted in Review, Travel, Visa

Mengurus Visa Schengen 2016 di TLS Contact

Hari ini adalah hari yang paling melegakan selama tiga bulan terakhir sejak kenekatan saya di bulan puasa lalu.

Hari ini adalah jadwal yang saya pilih untuk memasukan berkas permohonan visa saya di TLS Contact. Setelah tiga bulan berkutat dengan pengurusan berbagai dokumen yang menjadi syarat mengajukan visa Schengen, akhirnya insya Allah malam ini saya bisa tidur lega.

Lho? Emang udah pasti diberikan visanya? Ya jelas belum. Saya lega karena semua usaha yang bisa saya lakukan untuk sampai ke mimpi saya, sudah saya lakukan. Hasilnya diterima atau ditolak, selalu, untuk hal apapun, termasuk ini, saya selalu percayakan ke Yang Punya Segala Urusan.

Bisa sampai tahap ini, setelah bertahun-tahun, sudah kaya setengah mimpi jadi kenyataan untuk saya.

Okey, kembali ke topik.

Jadi, sebenarnya, dokumen persyaratan visa Schengen ini mau dibilang susah ngga, tapi memang untuk saya yang mulai semuanya dari awal, bahkan dari pembuatan paspor, rasanya jadi sangat panjang.

Dokumen yang dibutuhkan untuk mengajukan aplikasi visa Schengen turis adalah :

1. Formulir aplikasi visa

Formulir ini bisa diunduh lalu isi tulis tangan ATAU kalau sudah mengisi pendaftaran online, formulir ini akan otomatis terisi dengan data yang kita masukan, dan tinggal dicetak. Saya pakai yang kedua. Lebih rapi dan praktis.

2. Bukti print tiket pulang pergi

Negara tujuan saya pulang pergi sama.

3. Bukti pemesanan penginapan selama di wilayah Schengen.

Saya hanya melampirkan satu bookingan hotel di satu negara. Saya anggap saya hanya akan memgunjungi satu negara. Entah nanti ternyata berubah, biar jadi urusan belakangan. Supaya ngga ribet juga. Toh tiket saya pergi pulang dari negara yang sama.

Saya pesan salah satu hotel di booking.com yang ada tanda pembatalan gratis. Waktu pembatalan gratisnya sampai H-2 waktu check-in. Jika insya Allah visa dikabulkan, akan langsung saya batalkan.

4. Surat pernyatan Bekerja/Sekolah

Surat ini dikeluarkan dari institusi tempat kita bekerja atau bersekolah. Saya dengan surat keterangan bekerja, suami surat keterangan sekolah.

Untuk formatnya sudah kami buat sendiri dulu dalam bahasa Inggris, berdasarkan referensi dari berbagai artikel. Seandainya ada yang perlu boleh tinggalkan email di sini ya.

5. Surat referensi bank

Untuk bagian ini saya memberikan dua surat dari bank yang berbeda, yaitu BCA dan BNI. Sebenarnya satu aja cukup, tapi saya punya pertimbangan lain.

Banyak saya baca, salah satu penyebab kemungkinan visa ditolak ini umumnya karena keuangan yang ngga meyakinkan. Jadi saya mau antisipasi supaya lebih mantep. Repot sedikit biar deh.

Saya sangat merekomendasikan untuk buat surat referensi ini dari BCA. Sebelumnya, saya sudah baca-baca kalo ini membutuhkan proses 2-3 hari kerja dengan biaya 50.000.

Kenyataannya?

Dengan waktu kedatangan di tanggal tua dimana bank ngga terlalu ramai, di kantor cabang yang cukup besar dengan jumlah staf yang memadai, proses yang dibutuhkan dari saya parkir sampai masuk lagi ke mobil dengan surat referensi plus rekening koran tersimpan rapi dalam amplop adalah…. 20 menit.

Iya, 20 menit saja.

Saya super terkesan sekali dengan cara kerja bank ini. Efektif, efisien, dan semua terlihat bekerja sepenuh hati.

Untuk BNI, prosesnya agak sedikit lebih ribet jika dibanding bank di atas. Kita harus membuat surat permohonan dulu kepada pimpinan cabang bahwa kita memohon untuk pembuatan surat referensi bank yang akan diajukan untuk pembuatan visa apa, ke kedutaan apa dan untuk tujuan apa.

Suratnya boleh ditulis tangan, bisa dibuat langsung di depan customer servicenya juga. Waktu pemrosesan surat ini sekitar 3-5 hari kerja dengan biaya 150.000. Tiga kali lipat yang di atas.

Saya tetap memilih melampirkan surat dari BNI bukan karena kebanyakan uang juga. BNI sudah jadi tabungan utama saya sejak kuliah. Aliran rekening keluar masuk tiga bulan terakhirnya pun lebih meyakinkan BNI. Jadi, saya memilih buat dua surat.

Dana di masing-masing rekening ngga banyak-banyak banget. Total keduanya kurang lebih 60 juta dengan rasio di BNI sedikit lebih banyak. Dana di BCA saya itu dana titipan yang saya pinjam dari Ayah saya.

6. Rekening koran tiga bulan terakhir

Ini adalah catatan keluar masuk uang kita selama tiga bulan terakhir. Untuk BCA biaya print perlembar Rp 2500 sedangkan BNI Rp 1000/lembar.

7. Asuransi perjalanan

Saya membeli asuransi dar AXA Mandiri. Datang langsung ke AXA Tower di Kuningan City lantai 18. Biayanya 59 USD untuk asuransi keluarga selama 9-10 hari perjalanan. Waktu hari saya datang jika dikurskan dalam rupiah Rp 764.000.

8. Pas Foto 3,5×4,5 sebanyak 2 buah

Kami buat foto ini di Mata Foto Matraman. Biaya cetak dan sebagainya plus CD untuk tiga foto adalah Rp 180.000.

9. Paspor baru yang masih berlaku minimal 8 bulan

10. Paspor lama, jika ada.

11. Kartu keluarga

12. Slip gaji 3 bulan terakhir (optional)

Slip gaji ini sifatnya optional. Tidak semua yang pergi adalah karyawan yang punya slip gaji setiap bulan, bukan? Termasuk saya. Jadi, waktu pendaftaran online saya pilih di kolom pekerjaan adalah freelancer. Meskipun saya bukan benar-benar freelancer juga. Di ringkasan data diri setelah selesai mengisi semua item pendaftaran online akan tercantum di bagian pekerjaan ‘liberal profession’.

Menurut petugas TLS Contactnya pun ini tidak terlalu diperlukan selama ada rekening koran. Tapi, seandainya memang ada, akan lebih baik lagi. Di lembar dokumen ceklis saya dicantumkan bahwa slip gaji tiga bulan terakhir ‘Not available’ agar tidak dianggap dokumen yang kurang.

Untuk anak dibawah umur seperti Langit juga harus ditambahkan :

Akte kelahiran dalam bahasa Inggris. (Sekarang akte sudah ada bahasa Inggris di bawahnya, jadi ngga perlu repot cari penerjemah)

– Surat nikah kedua orang tua.
Semua dokumen ini perlu disiapkan asli dan fotokopinya. Yang berbentuk surat-surat seperti referensi bank dan rekening koran hanya satu aplikasi saja yang perlu asli, sedangkan anggota pemohon lain tinggal lampirkan fotokopinya saja, tentu kalau mendaftar sebagai satu keluarga ya dalam pendaftaran online.

Hampir ngga ada yang sulit sebenarnya kalau melihat dari daftar dokumen yang diminta. Cuma mungkin cukup memakan waktu persiapannya. Terutama kalau untuk saya tentang uang yang akan tercetak di rekening koran.

Saya membuat janji untuk memasukan berkas setelah semua dokumen saya lengkap kecuali surat referensi bank. Ketika mendaftar online, paling tidak paspor, tiket, penginapan, dan asuransi perjalanan sudah ada, baru prosesnya dinyatakan selesai.

Dokumen hanya bisa dimasukkan ketika kita sudah mendaftar online. Setelah semua sudah kita isi, untuk semua anggota keluarga yang akan berangkat, baru muncul pilihan kedatangan untuk pengumpulan berkas.

Pilihan tanggal ini hanya akan keluar jika sudah mencapai 90 hari dari tanggal kedatangan kita di negara Schengen. 90 hari persis ya. Bukan berdaasarkan tanggal yang sama, seperti mau berangakat tanggal 1 Oktober berarti sudah bisa pilih tanggal 1 Agustus.

Saya memilih tanggal 30 Agustus jam 9.00 pagi. Memilih pagi dikarenakan seandainya ada dokumen saya yang kurang, saya masih punya waktu melengkapi atau memeperbaiki di hari yang sama agar tidak harus membuat janji lagi.

Saya datang bertiga dengan waktu yang agak mepet. Sampai sana jam 8.45, setelah disuruh tunggu sebentar kemudian masuk lalu diarahkan ke sebuah loket. Tulisan di loketnya ‘Pengambilan Paspor’ tapi disana juga sekaligus tempat kita meminta kunci loker untuk menyimpan semua gadget yang kita bawa. Hp, tablet, ipad, tidak boleh masuk.

Setelah selesai, ada gerbang kecil dimana kita diminta paspor untuk verifikasi tanggal kedatangan. Setelah itu kita menunggu di ruang tunggu, sampai nama kita muncul di layar TV untuk masuk ke counter mana. Layar TV ini hanya menampilkan tanpa suara. Jadi harus diperhatikan.

Pada hari saya mengurus visa, keadaannya cukup penuh tapi ngga sesak. Kebanyakan orang mengurus melalui agen. Ketika nama kita muncul di layar, jika kita mengurus melalui agen, hanya agennya yang maju ke counter. Karena saya mengurus pribadi, saya maju dan duduk, sementara Pak Dokter berdiri gendong Langit.

Saya ngga banyak ditanya oleh petugas counter yang saya dapat. Pengecekan dilakukan cepat dan teliti. Setelah ketiga bundel berkas selesai diberi tanda bintang ungu, lalu diberikan cetakan bahwa dokumen kami semua lengkap. Keluar dari counter, dada saya ringan sekali.

Setelah itu kami menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Total untuk dua orang berdasarkan kurs hari itu adalah Rp 2.592.000. Anak di bawah umur 6 tahun masih gratis.

Setelah loket kasir lanjut untuk pengambilan data biometrik yaitu foto dan sidik jari. Prosesnya hanya sekitar lima menit. Setelah itu selesai deh semua.

Semua petugas dari sekuriti sampai agen-agennya semua ramah. Sangat membantu dan jauh dari bikin takut.

Saya sampai di kantor TLS Contact Menara Anugrah lantai 3 jam 8.45, saya keluar dari basemen parkiran mobil jam 10.20. Jadi kurang lebih semua prosesnya 1,5 jam termasuk waktu nunggu. Bisa lebih cepat tentunya.

Review ini sebenarnya cukup banyak, cuma rata-tata di tahun 2013-2014. Selama beberapa bulan ini saya baca satu per satu.

Tidak seperti review lainnya, saya ngga menyebutkan ke negara mana saya akan pergi. TLS Contact adalah agen visa untuk beberapa negara Schengen. Untuk jelasnya negara mana aja, boleh dibuka websitenya.

Masih belum boleh disebut karena buat saya ini lebih dari sekedar pergi atau berlibur. Ada cerita panjang sampai akhirnya saya bisa ada dan melakukan yang saya lakukan hari ini.

Mungkin setelah visa ditempel di paspor saya, baru insya Allah mungkin ada cerita lain.

Semoga cukup membantu bagi yang mau mengurus visa di TLS Contact dalam waktu dekat ya.

Keputusan visa bisa dibaca di sini

Review lain tentang Paris trip :

Review : Air BnB 42 Boulevard Saint Germain, Paris

First Long Haul Flights with A Toddler by Turkish Airlines

Airport Transfer Ramah Koper (Paris, London, Tokyo)